Penyuka Sejarah, Arkeologi dan Heritage, Pamong Budaya Ahli Pertama di Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X

Menerjemahkan Arsip-Arsip Belanda: Tantangan Menyingkap Sejarah Candi

Shinta Dwi Prasasti

3 min read

Bagaimana sebenarnya keadaan candi saat ditemukan ?

Sebuah pertanyaan yang kerap saya jumpai, saat bertugas. Mendampingi pengunjung atau menjadi narasumber di sejumlah candi. Jawabannya pun mudah, candinya sudah runtuh.

Saya biasa menambahkan bahwa bangunan candi yang dilihat saat ini adalah hasil pemugaran. Pemugaran yang dilakukan pada abad 20. Baik oleh pemerintah Hindia Belanda maupun oleh pemerintah Republik Indonesia.

Sebenarnya pertanyaan di atas juga membuat saya penasaran. Rasa penasaran yang muncul saat mulai belajar tentang kepurbakalaan di Indonesia. Sebuah mata kuliah yang saya pelajari di Jurusan Sejarah di Universitas di Malang.

Baca juga:

Kala itu jawaban yang kerap saya jumpai pun sama dengan penjelasan di atas. Itu adalah jawaban paling mudah, mengingat sumber-sumber yang ada (saat itu) menyampaikan demikian.

Minimnya Data dan Arsip Berbahasa Indonesia

Mengkaji sejarah candi di Indonesia memang sebuah tantangan yang menarik. Di Indonesia, bangunan candi beserta latar belakang sejarah pembangunannya adalah kajian dari ilmu arkeologi. Sayangnya, kerapkali data latar belakang sejarah sebuah candi tidak sampai ke kita, yang hidup di akhir abad 20 hingga awal abad 21 ini.

Data yang sampai kepada kita adalah data dari abad 19, tepatnya data tentang penemuan candi. Data ini relatif jarang dieksplorasi. Salah satu penyebabnya adalah data tersebut menggunakan bahasa Belanda. Bahasa dari sebuah bangsa yang sempat berkuasa cukup lama di Indonesia, tepatnya di pulau Jawa.

Di abad 21 ini, sebuah laman dari Belanda, delpher.com, menyajikan sejumlah data tentang wilayah Indonesia. Data tentang candi maupun  peninggalan Hindu Buddha di Jawa juga ada di laman tersebut. Laman ini menyajikan data dalam bentuk digital dan bebas diakses. Data tersebut berupa buku, majalah, dan koran lama berbahasa Belanda.

Sebuah tawaran yang menarik untuk para penyuka sejarah. Siapa saja bisa mengetahui fakta-fakta dalam sejarah Indonesia, asal memahami bahasa Belanda. Begitu juga data tentang candi-candi di Jawa.

Selama ini sumber yang digunakan untuk membahas tentang candi, lebih banyak yang berasal dari abad 20. Di antaranya adalah Rapporten van de Commissie in Nedelandsch-Indie voor Oudheidkundig Onder Op Java en Madoera (ROC) dan Rapporten van den Oudheidkundigen Dienst in Nederlandsch Indie (ROD). Kedua laporan tersebut memuat data tentang candi dan temuan purbakala dengan disertai referensi yang digunakan.

Tahun 2020, selepas studi S2 Arkeologi Universitas Gadjah Mada, saya mulai memberanikan diri mencoba mengeksplorasi data tentang candi yang berbahasa Belanda. Kendala pemahaman bahasa, coba saya atasi dengan menggunakan kecerdasan buatan. Ada keraguan, mampukah program kecerdasan buatan menerjemahkan teks dengan baik?

Keterbatasan dan Tantangan

Ada beberapa hambatan dalam memulai eksplorasi data. Keraguan adalah hambatan pertama. Saya mencoba menepisnya. Salah satu caranya adalah lebih sering menggunakan mesin penerjemah. Tujuannya agar mesin tersebut selalu memperbaharui data yang dimilikinya. Penataan paragraf dan pengecekan ulang naskah yang akan diterjemahkan juga menjadi kunci dalam mendapatkan hasil yang maksimal. Disusul dengan pengecekan silang pada hasil terjemahan dan sumber data lain.

Hambatan kedua adalah anggaran. Hambatan ini efek dari hambatan pertama. Karena masih ada keraguan, maka adakalanya saya membayar penerjemah. Ada teman mahasiswa yang mampu berbahasa Belanda dengan baik, dan dia menerima orderan terjemahan. Opsi ini sempat saya gunakan beberapa kali saat ada arsip yang memang benar-benar dibutuhkan segera. Meski akhirnya terbentur anggaran pribadi dan tidak berlanjut.

Baca juga:

Hambatan ketiga adalah penemuan sumber yang tidak berurutan tahunnya. Data yang saya temukan pertama adalah buku tulisan Jan Willem Ijzerman yang berjudul Beschrijving der Oudheden nabij de grens der residenties Soerakarta en Djogdjakarta. Buku karya ketua Perkumpulan Arkeologi Yogyakarta ini terbit pada tahun 1891. 

Baru kemudian saya menemukan dan mengunduh Indiana. Verzameling van stukken van onderscheiden aard, over Landen, Volken, Oudheden en Geschiedenis van den Indischen Archipel Jilid I (1853). Karya dari pendeta J.F.G. Brumund. Disusul dengan tulisan Nicholas Jaar (N.J) Krom (Ketua Jawatan Purbakala masa Hindia Belanda) yang berjudul Inleiding tot de Hindoe-Javaansche kunst (1920). Eksplorasi data ini tentu selain Rapporten van den Oudheidkundigen Dienst in Nederlandsch Indie (ROD) 1915. ROD ini tampilan fisiknya ada di perpustakaan kantor saya, Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X.

Bahkan data tertua yang menjadi rujukan dari buku-buku yang ada saya sebut di atas, baru saya temukan di akhir tahun 2024 lalu. Data itu berupa potongan jurnal tulisan catatan Colin Mackenzie yang berjudul Narrative of a Journey to Examine The Remains of and Ancient City and Temples at Brambana In Java. Sebuah jurnal yang memuat tulisan Mackenzie saat berkunjung di candi Prambanan, Sewu, Sojiwan, Kalasan, Ratu Boko, dan Sari. Catatan ini dimulai dari 19-22 Januari 1812.

Misalnya ketika saya menulis tentang keberadaan Candi Singo. Sebuah candi, yang ada di Prambanan bagian selatan. Candi ini sudah hilang keberadaannya. Menyisakan sejumlah batu reruntuhan, yang sudah tersebar ke bangunan rumah-rumah warga dan nama candi yang masih digunakan sebagai nama dusun oleh warga sekitar.

Catatan Ijzerman, ROC, dan ROD menyebut bahwa candi Singo sudah runtuh. Artinya candi sudah runtuh pada akhir abad 19. Sebuah perbedaan data disajikan oleh sumber yang saya temukan selanjutnya, yaitu Indiana Jilid II karya J.F.G Brumund. Dalam buku ini, Brumund menulis bahwa candi ini memang masih berdiri, meski tinggal sebagian saja. Kunjungan Brumund, menurut Peter Carey dilakukan setelah perang Jawa atau menjelang pertengahan abad 19. Sebuah fakta yang menarik bukan?

Fakta ini sebenarnya juga tidak hanya terjadi pada satu candi saja. Ada beberapa candi yang lain yang pada awal abad 20 dilaporkan sudah runtuh. Sementara pada abad 19, kondisinya bisa jadi masih berdiri meski hanya menyisakan kaki dan tubuh candinya.

Penemuan sumber secara acak  itu sempat membuat saya kesulitan dalam menulis. Adakalanya saya harus berhadapan pada ketidakjelasan sebuah objek. Artinya sumber data dan arsip yang saya punya saat itu belum banyak membahas objek yang dimaksud.

Solusinya, saya biasa memutuskan menunda untuk menulisnya. Dan beralih pada objek atau topik yang lain.

Perjalanan Panjang Pengarsipan Candi

Menyingkap kondisi sebuah candi memang membutuhkan data yang cukup banyak. Pastinya, sejumlah arkeolog di Indonesia sudah memulai sejak lama. Sebut saja Purbatjaraka, Soekmono, Boechari, Moendardjito dan sarjana arkeologi lainnya. Karya-karya mereka menjadi sumber bagi saya untuk melakukan pengecekan silang dari data berbahasa Belanda.

Memang butuh ketelatenan, ketekunan dan waktu yang panjang. Tapi setidaknya, dalam proses tersebut, data ilmiah tentang candi telah banyak dijumpai. Bukan sekadar bersandar pada mitos atau cerita rakyat belaka. (*)

 

Editor: Kukuh Basuki

Shinta Dwi Prasasti
Shinta Dwi Prasasti Penyuka Sejarah, Arkeologi dan Heritage, Pamong Budaya Ahli Pertama di Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email