saya menulis untuk mengungkapkan rahasia yang tak mampu diucap oleh mulut.

Menemukan Ketenangan Hidup di Era Digital

Varell Lubert Giuliano

2 min read

Belakangan ini dunia tengah diterpa derasnya arus digitalisasi. Kehidupan manusia kini telah dikelilingi oleh hal-hal yang berbau digital. Berbagai kegiatan seperti bekerja, berkomunikasi, atau bahkan mencari hiburan kita lakukan secara digital melalui bantuan smartphone, laptop, atau komputer. Gawai seakan sudah menjadi kawan baik kita, sementara itu internet dan media sosial kini menjadi ruang baru untuk manusia berinteraksi serta membangun personanya.

Tenang, saya tidak bermaksud menghakimi Anda, sebab saya juga melakukan hal yang sama. Mungkin kita semua familiar dengan perasaan gelisah ketika bangun di pagi hari. Rasanya kita ingin sekali cepat-cepat membuka ponsel kita, entah untuk melihat pesan yang masuk, notifikasi berita terkini, atau bahkan sekadar memantau media sosial. Bahkan terkadang kita lebih mendahulukan hal itu dibandingkan mengucapkan terima kasih kepada Sang Pencipta atas napas kehidupan yang masih Ia berikan sampai detik ini. 

Saya tidak tahu apakah Anda sependapat dengan saya atau tidak, tetapi sekarang ini rasanya dunia sudah berpindah dari ruang nyata ke ruang maya, dan batas di antara kedua ruang tersebut sudah semakin kabur. Setiap hari kita menatap layar berjam-jam, berpindah dari satu aplikasi ke aplikasi lain, seolah takut kehilangan sesuatu yang penting.

Baca juga:

Entah bagaimana caranya, tetapi fenomena-fenomenya yang terjadi di dunia maya seakan berlomba-lomba untuk menyita perhatian kita. Ada unggahan yang perli di-like dan dikomentari, ada berita terkini yang harus segera dibaca dan disebarluaskan, atau ada pula tren baru yang rasanya harus diikuti agar kita tidak tertinggal dari manusia-manusia digital lainnya. Tanpa disadari, kita telah menjadi penonton sekaligus pemain di panggung digital yang tidak pernah benar-benar sepi.

Setiap guliran jari seakan membawa kita ke dalam dunia baru. Dunia yang berjalan dengan sangat cepat. Dunia yang menuntut kita untuk selalu terhubung. Ya, selalu terhubung.

Setiap kali kita mencoba untuk berhenti sejenak, biasanya akan muncul perasaan gelisah. Seolah-olah meninggalkan dunia maya sekejap saja adalah suatu kesalahan. Yang lebih mengkhawatirkan, fenomena ini terasa wajar bagi beberapa atau bahkan sebagian besar orang. Inilah yang membuat mereka akhirnya kembali dan kembali lagi untuk terkoneksi ke dalam dunia digital. Tak peduli seberapa lelahnya mereka.

Saya pun demikian. Ada masa-masa di mana saya terperangkap dalam dunia digital. Namun, semakin lama saya saya merasa seperti terasingkan. Rasanya jiwa saya seperti diliputi kehampaan, Seperti ada ruang kosong yang entah harus diisi dengan apa. Yang jelas, hal-hal dalam dunia digital tak bisa mengisi kekosongan tersebut.

Belajar untuk Berhenti Sejenak

Pada suatu sore, akhirnya saya memutuskan untuk mematikan ponsel saya selama beberapa jam. Pada awalnya terasa sangat canggung. Saya tidak tahu apa yang harus saya perbuat tanpa ponsel saya. Rasanya seperti kehilangan arah. Kemudian saya memandang ke sekitar kamar saya. Pandangan saya terhenti pada suatu benda. Buku.

Ya, rasanya sudah lama sekali saya tidak membaca buku fisik. Biasanya saya membaca buku atau artikel secara digital melalui laptop. Saat itu, saya mendadak merasa rindu—rindu pada rutinitas sederhana yang dulu seringkali saya lakukan: membuka halaman satu per satu, mencium aroma khas kertas yang sedikit menguning, dan mendengar suara lembut ketika lembaran bergesekan. Akhirnya, saya mencoba meraih buku itu dan mulai membuka halaman demi halaman yang ada.

Seiring berjalannya waktu, hati saya seakan diliputi perasaan tenang. Tidak ada bunyi notifikasi yang mengganggu. Hanya ada saya dan buku. Detik demi detik berlalu, saya semakin tenggelam dalam lautan cerita, seolah setiap kata membawa saya untuk menyelam lebih dalam lagi ke dunia yang sunyi namun penuh makna. Sesekali saya berhenti membaca sejenak dan menatap ke arah jendela. Sinar matahari sore menembus masuk ke dalam ruangan dan menghangatkan tubuh dan jiwa saya. Setelah sekian lama, saya kembali merasakan bagaimana rasanya benar-benar hidup, bukan hanya bernapas saja.

Baca juga:

Sejak saat itu, saya memutuskan untuk menciptakan ruang hening ketika saya mulai lelah terhubung dengan dunia digital. Sekarang, saya pun mulai menikmati hal-hal kecil yang dulu terasa biasa saja, seperti berjalan sendirian tanpa tujuan, atau sekadar duduk diam di beranda rumah sembari memperhatikan langit. Semakin sering saya melakukan itu, semakin saya merasa bahwa hidup jauh lebih bermakna. Pikiran menjadi lebih jernih, hati lebih tenang, dan saya tidak lagi merasa takut tertinggal dari dunia. Sebab dunia ini, baik dunia nyata maupun dunia maya akan terus berputar entah sampai kapan. Tapi saya juga sadar bahwa saya berhak berhenti sejenak—menarik napas, berdiam diri, dan merenung.

Menciptakan ruang hening bukan berarti mengasingkan diri sepenuhnya, tetapi memberikan ruang untuk kita bisa merefleksikan kehidupan kita. Mencari ketenangan di era digital yang kian bising bukanlah bentuk pelarian, melainkan cara agar kita kembali menjadi manusia seutuhnya. Dalam keheningan kita akan kembali bisa mendengar suara hati kita yang seringkali terhalang atau bahkan terpendam karena kebisingan dunia maya. (*)

 

Editor: Kukuh Basuki

Varell Lubert Giuliano
Varell Lubert Giuliano saya menulis untuk mengungkapkan rahasia yang tak mampu diucap oleh mulut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email