Connection Information

To perform the requested action, WordPress needs to access your web server. Please enter your FTP credentials to proceed. If you do not remember your credentials, you should contact your web host.

Connection Type

Mahasiswa Senang Saat Dosen Tak Datang, Trauma Belajar?

Mahasiswa Senang Saat Dosen Tak Datang, Trauma Belajar?

Arisandi

2 min read

Suatu siang, dosen saya tidak datang. Tidak ada penjelasan panjang, hanya pesan singkat di grup WhatsApp beberapa menit sebelum jam masuk. Saya menunggu sebentar, melihat satu per satu mahasiswa membaca pesan itu, lalu mengamati bagaimana wajah mereka berubah. Bukan kecewa. Bukan bertanya-tanya. Mereka lega. Beberapa tertawa kecil sambil mengemas tas, yang lain langsung berdiri seolah sudah sejak tadi menunggu izin untuk pergi.

Saya tidak marah menyaksikan itu. Saya lebih banyak diam, mencoba memahami apa yang baru saja saya lihat. Ada sesuatu yang terasa ganjil, tapi tidak mudah langsung dikatakan. Bukan soal disiplin, bukan soal sopan santun. Lebih dari itu. Ini soal bagaimana seseorang bisa merasa mendapat sesuatu, justru ketika sesuatu yang sudah dibayar tidak diberikan.

Dua Belas Tahun yang Membentuk

Sebelum menjadi mahasiswa, seseorang adalah siswa selama dua belas tahun. Itu waktu yang cukup panjang untuk membentuk cara ia merasakan sesuatu, termasuk cara merasakan belajar.

Di sekolah, belajar jarang datang tanpa tekanan. Nilai, ranking, ujian nasional, semua itu hadir bukan sebagai alat ukur, melainkan sebagai ancaman yang bekerja perlahan. Anak yang tidak mengerti pelajaran cepat mendapat label. Mata pelajaran yang tidak masuk ujian dianggap tidak penting. Kreativitas dan rasa ingin tahu jarang diberi ruang karena keduanya tidak bisa dimasukkan ke lembar jawaban.

Baca juga:

Yang diajarkan oleh sistem bukan bagaimana mencintai proses belajar, tapi bagaimana bertahan dari tekanannya. Maka, setelah dua belas tahun itu, banyak mahasiswa tiba di kampus bukan dengan semangat menemukan hal baru, tapi dengan kelelahan yang sudah lama menumpuk.

Ketika kelas kosong, yang mereka rasakan bukan kehilangan. Mereka merasa mendapat jeda dari sesuatu yang sejak kecil terasa seperti beban. Dan jeda, bagi siapa pun yang kelelahan, selalu terasa seperti hadiah.

Legacy Polarisasi Kampus 

Kampus seharusnya menjadi tempat semuanya berubah. Tempat belajar akhirnya menemukan bentuknya yang lebih manusiawi, lebih terbuka, lebih bermakna. Tapi di banyak kampus kita, yang berubah hanya konteksnya.

Mekanismenya tetap serupa: hadir, catat, ujian, nilai. Mahasiswa jarang diajak masuk ke pertanyaan yang lebih mendasar, mengapa mereka mempelajari sesuatu, apa relevansinya, bagaimana ilmu itu bisa menjadi sesuatu yang hidup di luar ruang kelas. Kurikulum berjalan untuk memenuhi dokumen akreditasi, bukan membangkitkan keterlibatan.

Dosen pun tidak sepenuhnya bebas dari masalah ini. Ada yang mengajar dengan cara yang sama selama bertahun-tahun tanpa mempertanyakan apakah pendekatan itu masih relevan. Ada yang hadir secara fisik tapi tidak sungguh-sungguh hadir dalam proses belajar mahasiswanya. Ketika dosen tidak datang dan tidak ada yang mempersoalkan, itu bukan hanya cerminan mahasiswanya. Itu juga cerminan bagaimana relasi belajar di ruang kuliah selama ini dibangun, atau lebih tepatnya, tidak pernah benar-benar dibangun.

Dalam kondisi seperti itu, wajar jika mahasiswa tidak pernah benar-benar merasakan bahwa belajar adalah sesuatu yang milik mereka, sesuatu yang layak untuk dijaga.

Paradoks yang Sulit Dimaklumi

Menurut saya, memahami akar masalah tidak berarti memaklumi segalanya.

Logikanya sederhana. Orang tua bekerja, uang itu membayar kuliah, kuliah artinya belajar. Ketika dosen tidak datang, yang hilang bukan sekadar satu pertemuan, melainkan sesuatu yang sudah dibayar dengan waktu dan tenaga orang lain, dan tidak ada yang merasa perlu mempersoalkan itu.

Yang mengusik saya bukan ketidakhadiran dosennya. Tapi ketidakhadiran rasa bahwa ada sesuatu yang seharusnya dipersoalkan. Mahasiswa pulang dengan ringan, seolah baru saja mendapat hadiah. Padahal yang terjadi sebaliknya.

Di situlah saya melihat masalah yang lebih dalam dari sekadar trauma belajar: hilangnya kesadaran bahwa kuliah adalah hak yang diperjuangkan, bukan beban yang boleh dilepas kapan saja terasa berat. Trauma bisa menjelaskan mengapa seseorang tidak lagi menikmati belajar. Tapi trauma tidak bisa sepenuhnya menjelaskan mengapa seseorang berhenti merasa bahwa dirinya berhak mendapat lebih dari yang diberikan.

Baca juga:

Fenomena ini bukan soal generasi yang malas atau tidak serius. Saya tidak percaya itu. Lebih tepatnya, ini soal bagaimana selama bertahun-tahun belajar tidak pernah dihubungkan dengan sesuatu yang bermakna bagi diri sendiri. Belajar selalu untuk sesuatu di luar diri, untuk nilai, untuk orang tua, untuk ijazah. Tidak pernah untuk diri sendiri.

Ketika belajar hanya soal memenuhi kewajiban, maka ketiadaan kewajiban akan selalu terasa seperti kebebasan. Padahal yang hilang bukan kewajiban, yang hilang adalah waktu, uang orang tua, dan kesempatan yang tidak akan kembali dengan cara yang sama.

Saya tidak punya jawaban tunggal untuk semua ini, tapi saya percaya bahwa perubahan harus dimulai dari kesadaran yang jujur, bukan dari menyalahkan satu pihak saja. Selama mahasiswa tidak menyadari bahwa mereka berhak marah ketika haknya tidak dipenuhi, selama institusi tidak merasa perlu membenahi cara belajar yang ditawarkannya, dan selama dosen tidak membangun kehadiran yang membuat ruang kelas terasa berarti, maka tepuk tangan di depan kelas yang kosong itu akan terus terdengar.

Dan yang paling menyedihkan bukan tepuk tangannya, tapi kenyataan bahwa tidak ada yang merasa ada yang salah dengan itu.

 

 

Editor: Prihandini N

Arisandi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email