Kesepian dan Hal Lain yang Melekat di Kepala
untuk kesekian kali, Mak,
aku melihat kesepian tumbuh di meja makan,
dalam potret yang tak lagi utuh.
serupa nasi goreng dingin dan sisa gelak tawa
yang putus asa merengkuh kehangatan itu.
untuk kesekian kali, Mak,
aku menjadi pengembara.
setia menyusuri relung-relung kota
dan botol-botol kesunyian
yang mengingatkanku pada sisa kenangan.
Mak,
pagi ini putih,
mungkin masa depanku juga begitu
barangkali itulah alasan kepergianmu.
(Kemah Sastra Cirebon, 26 Oktober 2025)
–
Mak, Izinkan Aku Menjadi Penyair
Mak,
september berakhir
begitu juga airmataku
seandainya aku mendengarmu,
mungkin aku tak terjebak
dalam pertanyaan,
kita bertaruh pada apa?
benar katamu,
puisi tak membuat perutku kenyang.
tapi, Mak,
aku melihat Oktober lahir
dari kerapuhan bahasa
di mata penyair
yang menentang nasib
dan menantang maut
seumpama aku meletakkan kamera ini
siapa yang lebih pandai mengasuh kenangan
puisi atau foto yang mengingatkanku padamu?
(Cirebon, 27 Oktober 2025)
–
Pesan Kehilangan
sudah dua hari, Mak,
aku tak lapar.
kenyang menyicipi kemiskinan.
semalam kakak mampir ke mimpiku
ia memberiku makanan
yang belum pernah kumakan
seumur hidup;
pizza asli, Mak.
bukan yang biasa kubeli di warung
seharga tiga ribu.
sayang, kau tak mampir ke dalam mimpiku
kakak menitip pesan untukmu; ia telah sampai
mengirim pesanan ke Tuhan.
sialnya, aku tak mendengar sesuatu tentang surga
pemilik toko keburu datang
dan menyadarkanku bahwa mimpi buruk masih berlanjut
tapi,
kenapa kehilangan masih terasa perih, Mak?
(Cirebon, 28 Oktober 2025)
*****
Editor: Moch Aldy MA
