Ahmad Syafii Hafid adalah seorang mahasiswa yang gemar menulis di berbagai media, menuangkan gagasan kritis, dan berbagi inspirasi untuk perubahan positif.

Ketika Tanah Berhenti Disakiti: Revolusi Diam ala Masanobu Fukuoka

Ahmad Syafii Hafid

3 min read

Di banyak desa, suara bajak adalah bunyi pagi yang akrab. Ia datang bersama embun yang belum sempat menguap, bersama langkah kaki petani yang menembus lumpur, bersama bau tanah basah yang selalu kita asosiasikan dengan awal kehidupan. Ada semacam kebanggaan dalam pemandangan itu: tanah dibalik, lumpur diaduk, dan manusia merasa sedang melakukan sesuatu yang penting, sesuatu yang disebut kerja keras.

Sejak kecil kita diajari bahwa tanah baru disebut “siap tanam” setelah ia dibajak. Seperti manusia yang harus dipaksa, dipukul, dan digembleng dulu agar dianggap berguna. Tanah yang dibiarkan alami dianggap malas, tidak produktif, tidak “diolah”. Maka kita membaliknya, membongkarnya, memaksanya patuh. Padahal, mungkin, justru di situlah luka itu bermula.

Di Jepang, puluhan tahun silam, ada seorang petani yang memilih berhenti. Bukan berhenti bertani, tapi berhenti merasa bahwa ia harus selalu ikut campur. Namanya Masanobu Fukuoka. Ia bukan profesor pertanian, bukan juga aktivis lingkungan. Ia hanya seorang petani yang berpikir terlalu jauh untuk ukuran seorang petani, dan seorang pemikir yang terlalu membumi untuk ukuran seorang filsuf.

Baca juga:

Suatu ketika, setelah bertahun-tahun bekerja di bidang mikrobiologi dan melihat bagaimana manusia modern memperlakukan alam seperti mesin rusak yang harus terus diperbaiki, Fukuoka pulang ke tanah kelahirannya. Ke sawah. Ke lumpur. Ke kehidupan yang pelan. Di sanalah ia mengambil keputusan yang bagi banyak orang terdengar seperti kegilaan: ia berhenti membajak. Bukan karena ia malas. Tapi karena ia merasa membajak adalah bentuk kesombongan.

Ia melihat bagaimana di bawah permukaan tanah, ada dunia lain yang bekerja tanpa kita. Dunia yang tidak pernah tercatat dalam buku agronomi modern. Ada jutaan mikroba, jamur mikoriza, cacing, dan akar halus yang saling menopang seperti jaringan kota bawah tanah. Setiap akar yang tumbuh dan mati meninggalkan liang udara. Setiap cacing menggali lorong kecil yang membantu air dan oksigen meresap. Setiap daun yang gugur menjadi makanan bagi organisme yang tidak pernah kita sapa. Dan setiap kali bajak masuk, semuanya porak-poranda.

Tanah memang terlihat gembur di atas, tapi kehidupan di bawahnya hancur pelan-pelan. Mikro organisme mati karena terjemur, struktur yang dibangun puluhan tahun runtuh dalam satu musim, karbon yang tersimpan rapi terbebas ke udara. Tanah kehilangan memori ekologisnya.

Fukuoka melihat ini bukan sebagai kemajuan, tapi sebagai kekerasan halus yang dibungkus ilmu pengetahuan. Maka ia memilih berhenti membajak.

Dan sesuatu yang tak disangka terjadi: tanahnya tidak rusak, tidak menurun produktivitasnya, tidak jadi liar seperti yang ditakutkan orang. Justru sebaliknya. Ia menjadi lebih hidup. Lebih subur. Lebih stabil.

Ia menanam tanpa membalik tanah. Tanpa pupuk kimia. Tanpa pestisida. Tanpa menyiangi gulma secara berlebihan. Ia membiarkan alam melakukan kerja yang selama ini kita klaim sebagai milik manusia. Ia hanya menyebar benih, merawat siklus, menjaga keseimbangan, lalu mundur selangkah.

Di ladangnya, padi tumbuh bersama tanaman lain. Serangga tidak diberantas, tapi dikembalikan ke peran alaminya sebagai bagian dari rantai kehidupan. Gulma tidak dianggap musuh mutlak, tapi pelindung tanah. Ia hanya mengatur agar tidak menguasai.

Bagi pertanian modern, ini terdengar seperti keputusasaan yang dilapisi spiritualitas. Tapi bagi Fukuoka, inilah bentuk tertinggi dari rasionalitas: membiarkan sistem yang sudah sempurna bekerja tanpa kita rusak.

Baca juga:

Ia pernah menulis kalimat yang terdengar sederhana tapi sebenarnya mengguncang seluruh paradigma: “Tujuan utama pertanian bukanlah menanam tanaman, tapi menyempurnakan manusia.”

Kalimat itu tidak bicara soal hasil per hektar. Ia bicara soal perubahan cara berpikir. Karena selama ini, yang kita kejar dari pertanian hanya angka. Produktivitas. Tonase. Profit. Tapi kita lupa satu hal: apa yang kita tinggalkan pada tanah setelah panen?

Tanah di banyak tempat kini bukan lagi tanah, tapi media produksi yang kelelahan. Dipaksa terus memberi tanpa sempat memulihkan diri. Pupuk kimia menjadi penopang seperti infus pada tubuh yang sudah rapuh. Pestisida menjadi cara cepat membunuh, tanpa peduli dampaknya pada kehidupan lain. Ketika hasil menurun, bukan metode yang dikritik, tapi tanah yang dituduh malas. Padahal mungkin, tanah itu cuma lelah.

Fukuoka menunjukkan bahwa tanah yang dibiarkan bekerja sendiri perlahan bisa pulih. Tanah yang tidak dibajak menyimpan karbon lebih baik, menahan air lebih lama, lebih tahan terhadap kekeringan. Tanah yang tidak terus diganggu justru lebih stabil dalam jangka panjang. Ini bukan romantisme alam. Ini pengetahuan ekologis yang lama diabaikan karena tidak menjanjikan hasil cepat.

Masalahnya, kita hidup di dunia yang tidak sabar. Kita ingin panen cepat. Untung cepat. Hasil bisa diukur dalam grafik bulanan. Sementara alam bekerja dalam skala waktu yang tidak bisa kita percepat dengan rapat evaluasi atau target marketing. Dan di sinilah gagasan Fukuoka sering ditolak: bukan karena tidak masuk akal, tapi karena tidak sesuai dengan ritme keserakahan zaman. Padahal, revolusi yang ia tawarkan bukan revolusi alat, tapi revolusi cara pandang. Revolusi yang tidak berisik. Tidak turun ke jalan. Tidak bawa spanduk. Ia hanya ada di sawah sunyi yang dibiarkan bernapas.

Sekarang, puluhan tahun setelah kematiannya, dunia justru mulai menyusul Fukuoka. Di berbagai tempat, muncul gerakan pertanian regeneratif, no-till farming, permaculture, dan agroforestry. Semua punya satu semangat yang sama: mengurangi luka manusia pada tanah. Di Indonesia pun, meski pelan, bibit-bibit itu mulai tumbuh. Petani yang mulai menggunakan mulsa daripada membakar jerami. Anak muda yang memilih berkebun tanpa pestisida. Komunitas yang menghidupkan kembali keragaman tanaman lokal. Mereka mungkin tidak membaca Fukuoka secara langsung, tapi sampai pada intuisi yang sama: bahwa tanah lebih bijak dari kita.

Dan akhirnya pertanyaannya bukan lagi: “apakah metode ini bisa dilakukan?” Tapi: “apakah kita siap menggeser ego kita sendiri?

Karena berhenti membajak bukan hanya berhenti mengolah tanah. Ia adalah metafora tentang bagaimana manusia harus belajar berhenti mengendalikan segalanya. Tentang bagaimana kita harus belajar mempercayai sesuatu di luar ego kita.

Jika Anda punya sebidang tanah, sekecil apa pun, sisihkan satu petak kecil. Jangan dibalik. Jangan dicangkul. Jangan disemprot. Tutupi dengan daun kering, taburkan sedikit kompos, biarkan hidup terjadi.

Lihat bagaimana cacing datang. Bagaimana tanah jadi lebih lembab. Bagaimana warna tanah berubah lebih gelap. Di situ Anda tidak sedang melihat tanah tumbuh, tapi sedang melihat dunia yang selama ini kita ganggu, perlahan memaafkan.

Fukuoka tidak mengajarkan kita cara baru bertani semata. Ia mengajarkan cara baru menjadi manusia. Bahwa kadang, cara paling radikal untuk menolong bumi bukan menambahkan lebih banyak teknologi, tapi mengurangi campur tangan kita sendiri. Karena ketika tanah berhenti disakiti, bukan hanya tanah yang pulih.

Pelan-pelan, manusia juga belajar pulang pada kerendahan. (*)

 

Editor: Kukuh Basuki

Ahmad Syafii Hafid
Ahmad Syafii Hafid Ahmad Syafii Hafid adalah seorang mahasiswa yang gemar menulis di berbagai media, menuangkan gagasan kritis, dan berbagi inspirasi untuk perubahan positif.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email