TUBUHKU BERKEDIP
kau menempelkan wajah dan tubuhku berkedip, tembok mengelupas saat server jatuh lalu kakiku berdenyut di riwayat pencarian itu
notifikasi itu, katamu, pernah mengarsipkan rindu mengulang gambar yang tak pernah bisa ditiru
kau gulir lenganku menuju data diri memantulkan wajahmu, kau berdiri, menulisi siku dan tubuh baru yang terkompres menjadi jpg
(Ciamis, 2026)
–
LOGIN KE TUBUHKU
dari tulang rusuk dataku terjatuh, mengarsipkan napas, menempeli rumah dari iklan kota-kota yang setengah
tubuh ini sudah terlalu banyak diakses banyak jendela, kumasuki laman biru sebuah jam yang tak berdetak memantulkan wajahku
retakannya adalah urat yang mengisi huruf tubuhmu dan kita jadi tak terbiasa menunggu hujan meski telah berulang kali kehilangan jaringan
(Ciamis, 2026)
–
MEMBUKA GAMBAR YANG TAK LAGI TERSEDIA
di dalam batas ini kota mengirim suaranya, lumut-lumut memantulkan hujan membuka bayangan, cahaya semakin tipis, menempel ingatan mengaliri separuh tubuh gegaris basah
sebuah peta menetes, membuka gambar yang tak lagi tersedia, dirimu meluncur menuju lumpur tanganku yang semakin berat setiap harinya
angin lebih dahulu duduk dan namamu sudah menjadi debu
kata-kata memanjang hanya daun yang sempat kuhapus menuju saku yang mengering bergantian bersama bayang sore berjalan pergi meninggalkan sepi
(Ciamis, 2026)
–
MENGIRIM PESAN
kau menyala dan pesan terkirim menempel ke seluruh tubuhku, bayangan itu tersimpan dalam riwayat yang telah bernapas memantul ke arah tembok
jantungmu masih tersimpan di antara sela jemariku yang bercabang menumpulkan batu-batu
listrik malam menempel pada bahuku, membuka pasir pengetahuanmu lalu menyala diam tersaring lindu
(seluruh data telah berdenyut tanpa sandi)
(Ciamis, 2026)
–
MENGETIK NAMAMU
aku mengetik namamu di layar lalu pasir dan huruf bernafas pada bahuku sedang jaringan rinduku terdengar seperti detak jantung melepaskan kaki sepatu membakar matahari tubuhmu
(Ciamis, 2026)
*****
Editor: Moch Aldy MA
