Peminat kajian filsafat. Menulis topik seputar seni, budaya, filsafat, dan lingkungan hidup. Pernah belajar ilmu lingkungan di Universitas Gadjah Mada.

Cerita dari Carita: Sisa-Sisa Upaya Merawat Laut

Candrika Adhiyasa

2 min read

Barangkali tulisan ini berisi ironi paling jujur, tentang manusia yang memuja laut tetapi terus mencemarinya.

Saya berdiri di pesisir Carita, sebuah wilayah yang berada di Kabupaten Pandeglang, Banten, di tengah pekik megaphone yang bersaing dengan deru mesin speed boat. Segala sesuatu terlihat meriah sekaligus kacau, semacam karnaval yang tidak tertata dan tak terlalu akrab dengan estetika, tetapi patuh pada kalender ritual. Perahu-perahu dihias bendera merah putih, spanduk merk kopi instan dan rokok, serta di beberapa sudut: bendera partai politik.

Sebuah upacara ruwat laut disiapkan dengan semangat gotong royong, tetapi tanah di bawah kaki saya dipenuhi plastik kresek, botol bekas air mineral, serta aroma anyir dari limbah domestik yang entah datang dari mana.

Saya tidak sedang menertawakan tradisi ini, apalagi menghinanya. Justru saya merasa sedang menuliskan sebuah pesan yang getir untuk laut yang konon mereka cintai.

Ruwat laut—sebuah ekspresi spiritual sekaligus komunal yang berakar dari rasa syukur kepada laut atas segala pemberiannya, kepada para penghuninya (baik yang kasat mata maupun yang tidak), kepada Sang Kekuatan Tak Terhingga yang dengan Kehendak-Nya para nelayan dan manusia di pesisir tetap dapat sejahtera dan berbahagia.

Baca juga:

Doa-doa yang berkelindan bersama deru ombak tampaknya tengah bertarung untuk senantiasa relevan di tengah kehidupan modern yang bergerak sedemikian cepat dan sedemikian bising. Ritual ini masih terus diadakan setiap tahun, masih dikawal oleh tokoh adat, masih menyita perhatian masyarakat—bahkan masyarakat luar Carita.

Namun, pesonanya nyaris tenggelam oleh panggung musik dangdut, motor modifikasi, serta pejabat yang entah kenapa gemar membanggakan dirinya sendiri. Bahkan doa-doa yang diucapkan para nelayan terasa tenggelam oleh speaker yang memutar pelbagai komposisi musik yang hits di media TikTok.

Mungkin, yang saya resahkan di sini bukanlah tradisinya, melainkan bagaimana tradisi tersebut saya lihat hidup dalam sebuah ruang yang telah dicemari oleh semangat komersial. Perahu-perahu nelayan tampak seperti poster bergerak dan cerita-cerita tentang kemegahan laut terasa seperti dongeng repetitif seorang tour-guide yang dibayar untuk mendongeng.

Laut sebagai entitas spiritual berubah menjadi sebuah background dari pesta yang dirancang untuk keperluan ekonomis semata. Ada gawai di tangan anak-anak remaja, tetapi di manakah kesadaran tentang perubahan iklim? Juga, di antara sampah-sampah yang menumpuk, saya tak menemukan lembaran teks yang berhubungan dengan edukasi ekologis.

Namun, apakah “kesucian” harus steril dari residu aktivitas antropogenik? Apakah tradisi yang penuh kebisingan tak lagi sakral? Apakah para nelayan yang membuang seekor kerbau ke laut harus sepenuhnya bersih dari kontradiksi?

Baca juga:

Barangkali tidak, oleh sebab dalam tradisi ruwat laut di Carita ini saya menemukan sisa-sisa upaya manusia untuk mengingat bahwa ada sesuatu yang jauh lebih besar dari dirinya sendiri. Bahwa laut bukan bukan sekadar ruang produksi, melainkan juga sebuah medan tempat semayamnya sesuatu yang tak terdefinisi. Dan justru dalam segala kekacauan itu, saya merasa manusia tetap berusaha merawat makna, walau dengan cara yang sedemikian banal, amburadul, dan sesekali terasa absurd.

Di pagi yang terlambat karena pidato para pejabat yang tak saya kenal, saya melihat seorang anak lelaki berdiri di tepi perahu, membawa sebuah bendera kecil, melambai-lambaikannya ke kaki langit, seolah sedang berbicara kepada sesuatu yang tak dapat dilihat. Saya kira itulah yang tersisa dari ruwat laut: sebuah upaya untuk berbicara kepada dunia yang kian asing, kain menjauh, kian melepaskan diri dari ikatan bersama dalam kosmos yang telah begitu tua.

Dan di tengah sampah, bendera, musik, juga asap kendaraan, saya tahu bahwa laut tetap ada di sana, tetap menerima. Laut yang agung, terluka, tetapi tetap memberi.

 

 

 

Editor: Prihandini N

Candrika Adhiyasa
Candrika Adhiyasa Peminat kajian filsafat. Menulis topik seputar seni, budaya, filsafat, dan lingkungan hidup. Pernah belajar ilmu lingkungan di Universitas Gadjah Mada.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email