Rumah Ini Menua
Dinding rumah penuh suara tetangga.
Gentengnya menampung hujan,
menetes ke panci yang sedang lupa fungsinya.
Pintu depan sering gelisah,
takut ditinggalkan sendal yang kabur ke warung.
Di kamar mandi,
cermin menolak wajahku,
air kran berubah jadi kalimat asing
yang tak bisa aku terjemahkan.
Rumah ini menua,
tapi kursinya tetap muda,
selalu siap menampung tubuh
yang tidak tahu kapan harus duduk.
–
Kota
Jalan raya terbuat dari tulang belulang,
aspalnya menempel seperti permen karet basi.
Gedung-gedung saling bisik:
tentang listrik, tentang orang-orang
yang tidur di bawahnya tanpa mimpi.
Lampu merah patah jadi tiga,
satu untuk cinta, satu untuk hutang,
satu lagi untuk polisi tidur yang insomnia.
Di halte, jam digital berhenti,
tapi iklan minuman energi
masih terus berlari di mataku.
–
Tubuh
Kepala berjalan lebih dulu,
meninggalkan badan menunggu angkot.
Perutku membelah diri,
mengeluarkan pasar malam,
komidi putar penuh keringat anak-anak.
Tangan kanan meminjam korek api dari bibir,
tangan kiri menulis alamat palsu di udara.
Aku mengucek mata,
tapi yang jatuh adalah televisi
dengan berita orang-orang kehilangan suara.
–
Benda
Di bawah kasur, jam weker mengunyah waktu sendiri.
Gelas retak,
airnya pindah agama,
menjadi asap di dapur ibu.
Sepatu sekolah lari ke sawah,
meninggalkan tali yang terikat
pada tiang listrik penuh coretan iklan.
Pintu kamar belajar menutup dirinya,
engselnya mengeluh,
menyebut nama yang tak pernah ada di KTP.
*****
Editor: Moch Aldy MA
