Anatomi Kapitalisme Planetaris

Alief Hafiz

3 min read

Manusia modern hari ini berada di ambang kekhawatiran sebagai pemimpin di muka bumi. Saat ini, bumi dikelilingi pemimpin yang tidak hanya merusak alam, tetapi lebih brutal dari itu, mereka merubah peradaban suci bumi menjadi arena ekstraktif total, tanpa terkecuali.

Ini adalah pola reorganisasi total antara hubungan manusia, bumi, alam, dan kehidupan melalui mekanisme ekstraksi kapital global yang bekerja secara sistemik dan planetaris. Karenanya, kerusakan alam yang terjadi, faktor utamanya adalah murni aktivitas global manusia modern.

Beralih ke tanah indah Papua, hutan dibedah seperti tak pantas hidup, laut diperas menjadi kanal industri, dan masyarakatnya dipaksa bekerja dengan upah yang tak pantas diterima. Fenomena konkret ini dilandasi alibi Proyek Strategis Negara (PSN) yang digerakki pemerintah. Ekosistem alam yang semula bagus, seketika hancur oleh ketamakkan akut para kapitalis global.

Kendati demikian, menjadikan modernitas bukan lagi proyek pencerahan universal sebagaimana dielu-elukan para apologis liberal, seperti John Locke dan kawan-kawan. Kini lebih cocok disebut dengan mesin antropofagik (peradaban pemaknaan hidup) yang bergerak dengan logika akumulasi tanpa batas.

Greg William Misiaszek menampilkan konsep menarik, yang menurutku relevan untuk melihat bahwa kekerasan sosial dan kekerasan ekologis yang kini terjadi bukanlah dua reaksi negatif yang berdiri sendiri. Keduanya merupakan kembar siam dari rahim yang sama, yaitu kapitalisme planetaris.

World Earth Spheres merupakan lanskap besar tentang krisis peradaban manusia modern. Krisis ekologis hari ini sebenarnya adalah krisis peradaban manusia modern yang perlu diwaspadai. Mengapa demikian? Karena ada pergeseran paradigma yang dimiliki manusia.

Pola Misiaszek bisa ditinjau secara diaklektis, di mana social violence dan environmental violence terus bersikulasi satu sama lain. Kekerasan ekologis melahirkan kekerasan sosial, dan kekerasan sosial mampu mereproduksi penghancuran ekologis. Relasi ini menunjukkan bahwa eksploitasi manusia terhadap manusia tidak pernah bisa dipisahkan dari eksploitasi manusia terhadap alam. Dan ini yang tengah dilakukan oleh rezim bobrok Indonesia.

Baca juga:

Menurut hemat saya, kondisi ini adalah bentuk mutakhir dari metabolic rift, retakan metabolik antara manusia dan alam akibat ekspansi kapitalisme indurstri. Lain sisi, Marx melihat kapitalisme sebagai poros perusak “metabolisme universal alam” kehidupannya sendiri. Sampai detik ini, keretakan itu semakin brutal, dan kita sedang berada di “panggung eksploitasi alam” di mana alam dijadikan ladang uang yang sangat menguntungkan.

Kapitalosfer

Kapitalosfer merupakan atmosfer total tempat logika kapital mengkolonisasi seluruh aspek eksistensi: ekonomi, budaya, teknologi, kesadaran, bahkan imajinasi masa depan. Kapital hari ini tidak lagi berkutat pada lingkup ekonomi, tapi merambah ke struktur ontologis dunia modern.

Rezim Indonesia hari ini, saya kategorikan kapitalosfer, karena manusia tak lagi diposisikan sebagai subyek hidup bersama alam, kini menjelma menjadi mesin produktivitas yang dipaksa mengapropriasi alam untuk kepentingan pribadi. Semakin benarlah argumen Bacon, manusia bisa menemukan hukum-hukum yang mengatur kekuatan, dan pasti akan mampu mengeksploitasi alam untuk kepentingan mereka sendiri (Karen Amstrong, 2023).

Beralaskan demikianlah, kapitalisme memasuki fase yang lebih subtil sekaligus totaliter. Kekuatan eksternal yang mereka miliki sudah meresap ke dalam kesadaran itu sendiri. Byung-Chul Han melihat kondisi ini sebagai bentuk transformasi dari disciplinary society menuju achievement society: manusia modern tidak lagi diperintah melalui represi langsung, tapi melalui internalisasi tuntutan produktivitas tanpa batas (Byung-Chul Han, 2015).

Akibatnya, manusia modern secara perlahan mengeksploitasi dirinya atas nama “self-development”, “passion”, dan “kesuksesan personal”, tanpa menyadari kalau pribadinya sedang menjadi organ biologis bagi sirkulasi kapital. Dengan demikian, kapitalosfer hari ini menciptakan bentuk baru yang disebut kolonialisme ontologis.

Kolonialisme ontologis adalah penjarahan cara manusia memahami eksistensi dirinya sendiri, dan alam mulai dipandang sebagai resource stock. Sungai berubah menjadi cadangan energi, hutan menjadi aset karbon, dan manusia itu sendiri direduksi menjadi “human capital”. Bahkan bahasa kehidupan telah dibajak oleh terminologi ekonomi.

Konsep ini jauh melampaui gagasan Marx tentang metabolic rift. Jika marx berbicara mengenai keretakan hubungan metabolik antara manusia dan alam akbiat industrialisasi kapitalistik, konsep ini menunjukkan fase yang lebih ekstrem: keterputusan total antara sistem ekonomi global dengan ritme ekologis bumi. Sistem kapital bergerak dalam temporalitas akseleratif yang terus-menerus menuntut percepatan produksi, sementara bumi bekerja dalam temporalitas regeneratif yang membutuhkan siklus dan keseimbangan.

Hal ini menimbulkan kontradiksi fundamental modernitas secara telanjang bahwa kapitalisme membutuhkan pertumbuhan eksponensial di planet yang ekologinya terbatas. Ironisnya, semua kehancuran yang berkali-kali terjadi hingga hari ini selalu dijubahi narasi “pembangunan” atau “kemajuan” hingga “inovasi hijau”. Dan jangan heran, kapitalisme sangat lihai mengubah fenomena bencana menjadi peluang ekonomi baru.

Ekofeodalisme Terminal

Jika dulu revolusi Perancis diakibatkan oleh sistem feodal yang berwujud kapitalisme industri, pada era modern ini saya sebut dengan ekofeodalisme terminal. Mengapa demikian? Karena saat ini adalah fase saat sumber daya ekologis yang tersisa dikuasai segelintir elite global yang rakus, sementara mayoritas manusia dipaksa hidup dalam reruntuhan kerusakan iklim.

Ketika yang kaya membeli perlindungan iklim melalui teknologi dan properti ekologis; dan yang miskin menanggung akibat dari perbuatan mereka, seperti banjir, kekeringan, polusi berkelanjutan, dan migrasi paksa.

Ada istilah necropolitics, kekuasaan yang menentukan siapa yang harus hidup dan siapa yang dibiarkan mati. Dalam konteks krisis ekologis kontemporer sekarang, istilah ini terakumulasi menjadi sesuatu yang jauh lebih ganas: planetary necropolitics.

Baca juga:

Planetary necropolitics adalah pola rezim global yang mengelola distribusi kehidupan dan kematian berdasarkan akses terhadap keamanan ekologis. Di dunia amburadul seperti ini, kelas sosial tak hanya ditentukan oleh kepemilikan modal ekonomi, tetapi juga pertaruhan kemampuan bertahan hidup dari keruntuhan planet.

Pada tahap inilah kapitalisme memasuki dimensi neo-feodalnya. Jika kelompok feodal klasik menguasai tanah dan para pekerjanya, maka ekofeodalisme terminal menguasi seluruh unsur kehidupan di muka bumi. Planet perlahan diprivatisasi menjadi benteng-benteng ekologis milik elite global. Kita hidup di zaman modern, maka krisis ekologinya pun menjadi modern, sampai merambah ke fase ekstraktivisme algoritmik.

Pemungkas

Krisis ekologis hari ini bukan soal “lingkungan hidup” dalam pengertian teknokratis dangkal, ini menjelma menjadi krisis ontologis peradaban manusia modern. Peradaban modern kini telah kehilangan napasnya untuk membedakan antara kemajuan dan kehancuran.

Kapitalisme global sudah berhasil menciptakan laboratorium baru, di mana kehancuran bumi dipersepsi sebagai pertumbuhan ekonomi secara drastis. Sampai titik inilah, modernitas memperlihatkan sisi paradoksnya: semakin maju teknologi manusia, semakin mundur pula relasi ekologisnya.

Pada akhirnya, umat manusia kini berdiri di ambang sejarah yang menentukan: terus mempertahankan sistem yang dibawa planet menuju kehancuran, atau membangun horizon peradaban baru yang lebih ekologis, egaliter, dan emansipatoris.

 

 

Editor: Prihandini N

Alief Hafiz

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email