Ada Bulan
Ada bulan, menggonggong pada anjing.
Anjing itu diam.
Barangkali ia sedang mendengarkan
sesuatu yang tak dapat didengar oleh halaman,
oleh pohon mangga, oleh angin
yang sejak tadi mondar-mandir di antara daun.
Jendela-jendela telah memejamkan lampunya.
Ada bulan, menggonggong pada anjing.
Tak ada yang berubah.
Hanya bayangan pagar
bergeser beberapa jari ke timur.
Menjelang pagi anjing itu tertidur.
Dan bulan, entah sejak kapan, sudah menjadi embun.
–
Duka Ini
Duka, ini.
Bukan ketika rumah terbakar,
melainkan ketika abu
masih mengenali bentuk jendela.
Bukan ketika alamat dilupakan,
melainkan ketika seseorang
masih pergi saat pulang.
Bukan ketika harapan habis,
melainkan ketika dia telah pamit
dan pintu masih dibiarkan terbuka.
–
Cuaca
Aku menulis
tentang kekalahan lama
yang jadi cuaca.
Mula-mula kukira
ia hanya lewat.
Kini ia ada
dalam napas yang pendek.
Begitu panjang menetap,
aku tak lagi tahu:
aku yang memikul cuaca,
atau cuaca yang memikulku.
–
Tuhan, di Mana?
Tuhan,
aku di mana?
Aku cari tubuhku
di antara orang-orang pulang dari pasar,
tetapi yang kutemukan
hanya seekor burung
sedang mematuki bayanganku.
“Lihat ke dalam saku bajumu,”
kata angin.
Ketika kuraba saku itu,
ada langit terlipat di dalamnya,
dan aku mendengar suara-Mu bertanya:
“Menurutmu?”
–
Hari di Luar Arsip
Ada apa,
dengan tinta?
semalam ia sibuk mencatut hidupku
sampai larut;
pagi-pagi kubaca
dan menemukan
wajah yang mirip semua orang
barangkali hidup memang lebih suka
bersembunyi di sela percakapan,
di kerutan wajah,
di napas yang tak sempat ditulis
kubiarkan tinta bekerja lagi;
siapa tahu suatu hari ia lelah mencatat
dan akhirnya belajar hidup.
*****
Editor: Moch Aldy MA
