Mahasiswa UIN Raden Mas Said (AFI)

Tiga Tahun Tragedi Kanjuruhan: Fanatisme Suporter dan Kekerasan Aparat Kepolisian

Adzin Aris Aniq Adani

2 min read

Rabu, 1 Oktober 2025, tragedi Kanjuruhan genap berusia tiga tahun. Sebuah peristiwa yang merenggut nyawa ratusan suporter (Aremania), meninggalkan duka yang amat mendalam bagi sepak bola Indonesia. Tragedi itu bukan sekadar keniscayaan dari rivalitas klasik, tetapi juga merupakan tanda lemahnya sektor keamanan dan rendahnya kecerdasan emosional yang dimiliki para suporter di Indonesia.

Secara kronologis, tragedi itu pecah pasca Arema menelan kekalahan atas rivalnya, yakni Persebaya dengan skor 2-3. Pada mulanya, tidak ada permasalahan apa-apa ketika pertandingan berlangsung. Sebagaimana dijelaskan Kapolda Jatim Irjen Pol. Nico Afinta.

Namun, ketika pertandingan berakhir dengan kekalahan bagi kubu Arema–yang pada saat itu tidak pernah mengalami kekalahan di kandang selama 23 tahun–para suporter kecewa dan meluapkan rasa kekecewaan itu dengan turun ke lapangan. Mereka mengincar para pemain dan staf tim.

Baca juga:

Akhirnya, para aparat melakukan upaya pencegahan agar mereka tidak masuk ke dalam lapangan. Di sisi lain, konfrontasi antara beberapa suporter dan aparat terjadi di beberapa titik. Sehingga tindakan tegas diambil oleh aparat, yakni dengan menembakkan gas air mata ke arah mereka.

Lalu, para suporter mulai meninggalkan zona lapangan melalui Pintu 13 Stadion Kanjuruhan. Pada saat itulah terjadi penumpukan massa dan banyak yang mengalami sesak napas, kekurangan oksigen, ditambah efek gas air mata yang memperkeruh situasi.

Segera, tak berselang lama dari peristiwa penumpukan itu, upaya pertolongan semaksimal mungkin dilakukan oleh tim medis dan tim gabungan. Namun, nahasnya, banyak korban yang tak terselamatkan.

Dilansir dari detik.com, total korban jiwa pada tragedi itu adalah 129 orang. Ingat! 129 ini bukan sekadar angka; ini nyawa manusia yang sebagian besar dari mereka tak memiliki maksud untuk melakukan tindak kerusuhan dan perusakan di stadion. Mereka adalah orang-orang yang hanya ingin melihat tim kesayangannya bermain. Tak lebih.

Tetapi, karena tindakan beberapa oknum suporter yang memprovokasi aparat keamanan, mereka menjadi korban dari situasi yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya. Jika mereka, para oknum ini, lebih memilih bersikap dewasa dengan memahami kemungkinan dalam sebuah kompetisi yang meniscayakan kemenangan bagi satu pihak, dan kekalahan bagi pihak yang lain, angka kematian itu tak akan perna ada. Bahkan hari ini, kita tak akan memiliki memori yang kelam yang setiap 1 Oktober kita kenang.

Tragedi Kanjuruhan adalah pengingat bagi kita semua: para pecinta sepak bola Indonesia. Kita sering lupa –mungkin karena terlalu fanatik–bahwa sepak bola hanya permainan. Permainan yang diciptakan untuk hiburan belaka.

Mungkin, dari ratusan korban pada saat itu adalah seorang ayah yang mengajak istri dan anak-anaknya untuk menciptakan momen tak terlupakan bagi keluarga mereka. Nahasnya, mereka harus kehilangan sosok yang paling ia cintai gara-gara ulah beberapa oknum suporter yang terlampau fanatik–yang tak mau menerima sebuah kekalahan.

Bayangkan, mereka yang memprovokasi situasi hingga menjadi kemelut yang tak terelakkan, lari begitu saja tanpa sedikit pun memikirkan nasib seorang ayah dan keluarga kecilnya itu. Mereka pecundang sejati. Bukan suporter sejati.

Di sisi lain, tindakan aparat yang kurang terukur menjadi PR besar bagi lembaga kepolisian Indonesia. Dari Tragedi Kanjuruhan hingga pada 25 Agustus bulan lalu, aparat selalu menunjukkan sikap beringasnya.

Memang tak ada yang bisa dan mau untuk mengakui kesalahan. Entah dari pihak suporter maupun dari pihak aparat. Semua menganggap dirinya benar, yang lain salah. Sikap kekanak-kanakan ini yang harus dibuang jauh-jauh jika tragedi semacam ini tidak diinginkan terulang.

Baca juga:

Fanatisme berlebihan, entah yang telah menjamur di jiwa para suporter maupun kelompok lain, acap kali menjadi faktor utama terjadinya konflik yang berujung pada hilangnya nyawa orang-orang yang tak bersalah. Kekerasan aparat yang tidak terukur dan penggunaan fasilitas keamanan yang serba ngawur, juga harus menjadi bahan evaluasi bersama.

Pada akhirnya, semua elemen masyarakat adalah saudara. Permusuhan adalah benih dari pertumpahan darah. Fanatisme adalah mikroba yang berkali-kali membunuh banyak orang yang tak bersalah. Dan menganggap rakyat sipil musuh–betapapun gilanya mereka–adalah buta dan tuli yang tak akan terobati.

Oleh karena itu, mari kita semua ciptakan keharmonisan antar sesama warga negara dengan lebih bersikap dewasa dalam menyikapi berbagai fenomena sosial. Jangan sampai ada lagi tragedi-tegedi Kanjuruhan lainnya, di mana pun itu. (*)

 

Editor: Kukuh Basuki

 

Adzin Aris Aniq Adani
Adzin Aris Aniq Adani Mahasiswa UIN Raden Mas Said (AFI)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email