Beberapa hari terakhir, dunia maya ramai memperbincangkan pernyataan seorang bocah 10 tahun, “Yang paling seru itu justru hidup sebagai perintis. Enggak ada yang nunjukin arah, enggak ada yang menjamin hasil, tapi justru itu letak asiknya”.
Ucapan itu datang dari Ryu Kintaro—anak dari CEO Makko Group, salah satu konglomerat yang memayungi sederet merek kaca film ternama seperti 3M, First Klass, Masterpiece, dan lainnya. Maka wajar jika publik langsung bereaksi. Apa hak seorang anak miliarder bicara soal getirnya merintis, ketika ia sendiri bahkan belum pernah mencicipi rasa takut ditagih biaya sewa kontrakan, biaya listrik, LPG habis dan uang makan yang seret.
Kemarahan warganet bisa dimengerti. Di negeri tempat jutaan orang harus pontang-panting demi makan tiga kali sehari, mendengar bocah konglomerat bicara soal “keasikan merintis” memang terdengar seperti lelucon yang tak lucu.
Baca juga:
Tapi kalau kita lepaskan sejenak prasangka terhadap siapa yang bicara, dan mulai mendengarkan apa yang ia ucapkan, sebenarnya ada satu benang yang layak dicermati. Menjadi perintis itu memang asik—bukan karena hasil akhirnya, tapi karena prosesnya. Setidaknya begitu kata Erik Erikson, psikososial asal Jerman, yang menyebut bahwa hidup manusia bergerak dari satu krisis ke krisis lain demi membentuk identitas yang utuh. Krisis ini tidak melulu menyakitkan, justru sering kali jadi pintu bagi kedewasaan.
Dalam konteks merintis, entah itu membangun usaha, meniti karier, atau menyusun hidup dari keterpurukan, pengalaman jatuh-bangun memang memberi rasa bermakna. Ia menumbuhkan daya lenting, ketekunan, dan rasa percaya pada diri sendiri. Di tengah ketidakpastian, justru kita diajak mengenal siapa diri kita. Maka, tak berlebihan kalau proses itu—meski penuh luka—kadang memang terasa asik.
Tentu, kita tak sedang membela privilese. Tapi juga tidak perlu membunuh pesan hanya karena tak suka dengan mulut yang menyampaikannya. Di titik ini, kita harus bisa membedakan antara retorika kosong dan nilai yang memang layak direnungkan. Karena jika tidak, kita hanya akan tenggelam dalam siklus sinis tanpa sempat memperbaiki apa pun. Sementara, mereka yang sudah nyaman di atas akan terus bicara seenaknya, dan mereka yang di bawah hanya bisa membalas dengan olok-olok.
Ryu Kintaro mungkin tidak sepenuhnya keliru. Yang keliru adalah ketika kita menganggap semua orang punya peluang yang sama untuk merintis. Di sinilah letak soal yang lebih dalam—karena di negeri ini, bukan prosesnya yang menantang, tapi sistemnya yang menjerat.
Amartya Sen, dalam Capability Approach-nya, menekankan bahwa keadilan sejati bukan tentang menyamaratakan hasil, melainkan membuka peluang nyata bagi tiap orang untuk menjalani hidup yang mereka anggap bermakna. Tapi dalam praktiknya, negara justru sering menutup pintu sejak awal. Aturan dibuat bukan untuk membuka jalan, tapi mempersempit ruang gerak mereka yang tak punya koneksi atau modal.
Kita bisa menyebut ini sebagai kekerasan struktural, seperti yang dikatakan Johan Galtung—kekerasan yang tidak melukai tubuh, tapi merampas kemungkinan. Pedagang kecil digusur demi estetika kota atau ibu rumah tangga yang jualan online tapi kebingungan urusan pajak—semuanya korban sistem yang tak berpihak pada mereka yang mencoba bertahan.
Di atas semua itu, ada yang disebut Pierre Bourdieu sebagai reproduksi sosial—proses di mana ketimpangan diwariskan dari generasi ke generasi. Kekuasaan dan akses bukan cuma soal uang, tapi juga soal simbol, jaringan, dan pendidikan. Maka tak heran, yang berada di atas bisa melompat dari satu peluang ke peluang lain, sementara jutaan warga lainnya bahkan belum sempat berdiri tegak.
Baca juga:
Mereka bukan tidak ingin merintis. Mereka hanya tidak diberi ruang untuk memulai. Dan ketika mereka jatuh, tak ada kasur pengaman seperti yang disiapkan untuk anak-anak orang kaya.
Dalam republik yang keras ini, orang bukan sedang cari inspirasi—mereka sedang cari keadilan. Karena ketika orang terpaksa bangun pukul 3 pagi hanya untuk jualan yang hasilnya tidak cukup buat bayar kos, itu bukan romansa perjuangan—itu jeratan sistem. Dan selama negara hanya menyukai perintis yang sudah punya peta, modal, dan cadangan rencana, maka pernyataan “menjadi perintis itu asik” tak lebih dari komedi elit yang dipentaskan di tengah pasar yang makin sepi. (*)
Editor: Kukuh Basuki
