Aku adalah gambar yang berubah-ubah,tergantung bagaimana kamu memandangnya.

Ngélar: Gema Desa dari Jalur Pantura

Shankara Araknahs

3 min read

Apa yang terlintas di benak saat mendengar nama Majalengka, Jawa Barat? Mungkin sebagian besar orang akan menyebut genteng dan jalur Pantura. Tidak salah. Majalengka, khususnya daerah Jatiwangi, memang dikenal sebagai sentra produksi genteng terbesar di Indonesia. Tapi siapa sangka, dari daerah yang identik dengan tanah liat itu, muncul satu band yang menjadikan genteng bukan sekadar bahan bangunan, melainkan instrumen musikal yang hidup.
Band itu bernama LAIR.
Tumbuh dari rahim Jatiwangi art Factory (JaF), sebuah ruang kolektif seni yang konsisten menjadikan desa sebagai pusat praktik dan perenungan seni kontemporer—LAIR adalah hasil dari percampuran antara ingatan kultural, eksperimen bunyi, dan keberanian melawan pakem. Mereka menyebut musik mereka sebagai Pantura Soul, sebuah istilah yang di satu sisi menggelitik, namun di sisi lain merepresentasikan betul suara-suara yang mereka bawa: harmoni musik yang memacu, bercampur dengan dengungan suara bus dan truk lintas Jawa, hingga petikan gitar psikedelik yang seakan diendus dari debu jalanan Pantura.
Saya pertama kali menyaksikan penampilan LAIR sekitar tahun 2020, saat mereka tampil di Ruangrupa Jakarta. Mereka tampil seperti sedang menggelar upacara. Genteng di sulap jadi instrumen perkusi. Speaker TOA menggantikan ampli. Bunyi gitar melengking seperti mantera, menyusup dan memabukkan, mengingatkan saya dengan suara dari terompet pencak silat. Ini bukan sekadar konser, ini seperti sedang menonton sebuah ritual sonik.

Ngélar: Menyuarakan Desa dalam Format Album

Sebelum album penuh, LAIR sudah sempat merilis mini album di Records Store Day 2019 yang berisi tiga lagu: Nalar, Roda Gila, dan Kisser Remang Utara. Tapi baru lewat album “Ngélar” yang dirilis tahun 2024, mereka tampil utuh. Hal tersebut baik secara musikal, konseptual, maupun spiritual.
Album ini banyak dipuji media masssa. Far Out Magazine menyebut Ngélar sebagai “sonic postcard dari Jatiwangi,” menggabungkan genre dari surf rock, retro soul, hingga psychedelia dengan nuansa lokal. Sementara NME melihatnya sebagai lompatan besar dari debut mereka di 2019 lebih berani, lebih liar, tapi tetap “Lair”.
Baca juga:

Membedah Track demi Track: Pertunjukan yang Bertumbuh

Album ini dibuka dengan lagu Tetalu, sebuah pengantar yang terasa seperti undangan terbuka kepada warga kampung sebelah: “Ayo datang ke lapangan, pertunjukan akan dimulai.” Suara-suara ambient dan tabuhan ritmis menyebar seperti bunyi kentongan, menyulut rasa penasaran.
Lalu masuklah kita ke Pesta Rakyat Pabrik Gula yang alih-alih enerjik, justru tampil pelan, repetitif, dan meditatif. Bunyi-bunyian ala qasidah dan lirik yang terus diulang menciptakan atmosfer seperti perayaan agraris yang berlangsung di dimensi lain. Lagu ini tidak hanya bicara tentang pesta, tapi juga tentang ritus panen dan kegembiraan yang kolektif, mistis, dan bahkan sensual:
“Pesta rakyat pabrik gula
Pesta rakyat pabrik gula
Pesta rakyat pabrik gula
Pesta rakyat pabrik gula
Menyebar di semua arah
Musimnya tiba, semua berjejal
Gemerlap di Pesta Tebu
Panen raya bercinta”
Selanjutnya, Tanah Bertuah membawa kita lebih dalam ke ruang yang magis. Vokal yang nyaris berbisik berpadu dengan petikan gitar akustik dan bunyi ambient membuat lagu ini terdengar seperti mantra yang dinyanyikan dari dalam tanah. Ini lagu yang tidak didesain untuk dinyanyikan, tapi untuk dirasakan.
Namun tidak semua trek berjalan mulus. Di tengah album, lagu Hareeng terasa seperti antiklimaks. Secara musikal, lagu ini terdengar seperti upaya mencari jalan baru, tapi tidak sampai tujuan. Seperti bingung menentukan arah: apakah tetap di jalur ritual, atau mencoba menggoda panggung urban.
Untungnya, lagu Boa-Boa mengembalikan arah. Dengan suara klakson truk di awal lagu, LAIR seperti kembali menemukan rumahnya. Ini bukan sekadar gimmick—tapi cara cerdas untuk menunjukkan bahwa suara keseharian di jalur Pantura bisa se-psikedelik itu bila ditempatkan dalam kerangka bunyi yang jeli.

Monica Hapsari dan Suara-Suara Perempuan dari Masa Lalu

Tiga lagu, Bangkai Belantara, Kawin Tebu, dan Setan Doblon menghadirkan penulis dan vokalis tamu, Monica Hapsari. Dengan narasi lirisnya yang puitis dan pengucapan yang menyerupai seorang Pendongeng, Monica menambah lapisan magis di album ini. Ia tidak sekadar menyanyi; ia menuturkan.
Di lagu Setan Doblon, ia seolah menghidupkan ulang legenda urban yang tidak hanya menakutkan secara literal, tapi juga simbol ketakutan psikologis warga akan kekuatan-kekuatan yang tak terlihat. Sementara Kawin Tebu terasa seperti rekaman suara perempuan tua yang sedang membacakan kisah ritual tua, yang mungkin kini sudah tidak dilakukan lagi.
Dan dua lagu di bagian akhir, Gelombang Pemecah Malam dan Mencari Selamat seakan jadi penutupan sebuah pertunjukan yang diadakan di alun-alun desa. Dua lagu itu juga sebagai seruan bagi generasi muda untuk tidak terbuai dengan modernitas zaman, hingga membuat mereka membuang jauh-jauh identitas budaya dan warisan lokalnya masing-masing.

Ngélar Sebagai Memori Kolektif Desa

Apa yang dilakukan LAIR melalui Ngélar bukan hanya merekam musik, tapi juga membangkitkan memori kolektif.
Di banyak lagu, kita bisa mendengar kembali suara-suara desa: gemerincing alat kerja, alunan karinding, suling, bahkan lengking makhluk malam dari hutan sekitar. Bunyi-bunyi ini dulu akrab bagi generasi desa, namun kini nyaris lenyap. Ngélar menjadi semacam arsip sonik yang penting, bukan dalam artian akademis, tapi dalam makna emosional dan spiritual.
Baca juga:
Ngélar juga menjadi bentuk perlawanan. Tapi ini bukan perlawanan yang keras kepala atau agresif. LAIR tidak berteriak. Mereka berbisik dari tanah, menyuarakan identitas lewat bunyi, dan memperlihatkan bahwa desa bukan tempat tertinggal, melainkan pusat kebudayaan yang masih bisa bicara, jika mau didengar.

Bunyi yang Membunyikan Manusia Kembali

Ngélar bukan sekadar album. Ia adalah ritual yang direkam, arsip yang dinyanyikan, dan desa yang dibunyikan. Dalam lanskap musik Indonesia yang semakin homogen dan urban, kehadiran LAIR terasa seperti suara dari dunia yang nyaris kita lupakan.
Lewat genteng, gendang, dan gitar, LAIR membuktikan bahwa bunyi bisa menjadi bentuk perlawanan. Dan bahwa musik bisa menjadi jalan pulang ke rumah. Salah satunya ke desa, ke tanah, dan ke identitas yang tak boleh hilang. (*)
Editor: Kukuh Basuki
Shankara Araknahs
Shankara Araknahs Aku adalah gambar yang berubah-ubah,tergantung bagaimana kamu memandangnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email