Soraya: Mata yang Menangkap Derita Akibat (Mantan) Tentara

Hifzha Azka

3 min read

Di dunia nyata, tentara rajin menebar teror kepada masyarakat sipil. Kita tidak akan merasa sulit untuk mencari daftar panjang kasus kekerasan yang dilakukan oleh pasukan berbaju loreng hijau itu. Korban kekerasan tentara merasakan trauma selama menahun. Warga Papua merasa ketakutan ketika melihat seragam tentara yang begitu banyak karena pemerintah Indonesia mengadakan program  peningkatan operasi militer di sana. Seorang ibu di Desa Salamat, Deli Serdang, didera rasa gelisah yang menyebabkan tidurnya tak lagi nyenyak setelah menyaksikan desanya diserbu oleh 50 prajurit TNI. Apakah ada kasus lain yang saya lewati? Tentu saja. Kasus serupa terjadi di berbagai tempat di Indonesia.

Melihat realita mengerikan itu, Iin Farliani, lewat novelanya yang menyabet Juara Harapan II Sayembara Novela Basabasi 2023 berjudul Soraya (BASABASI, 2024), hendak membawa watak maskulin tentara ke dalam dunia rekaannya. Farliani menciptakan tokoh Ayah, seorang pecatan tentara, yang menorehkan luka mendalam bagi kedua anak dan istrinya. Anak laki-lakinya, Raya, dididik oleh sang ayah untuk menjadi seorang “laki-laki sejati” dengan pendekatan kekerasan.

“Beginilah seharusnya laki-laki bersikap!” Tangan kuat dan penuh kuasa itu menampar pipi Raya. Pertama pipi kiri, lalu diiringi kalimat serupa, pipi kanan pun menjadi sasaran berikutnya.” (hlm. 33)

Di rumah sederhana dari keluarga kecil itu yang berdekatan dengan bandar udara itu, ayahnya kerap melempar barang yang ada di sekitarnya secara sembarangan, mengajak adu jotos anggota keluarga lainnya yang membikin ia kesal. Singkatnya, tiada hari yang ayahnya lewatkan untuk menciptakan huru hara di rumah. Ketika sang ayah kumat, anak perempuannya, Sora, seketika lari menuju kolong ranjang untuk bersembunyi dan menangis sekencang-kencangnya. Sedangkan kakaknya tetap bergeming, tidak mengeluarkan air mata setetes pun.

Baca juga:

Mengapa Raya tidak menangis? Masyarakat menuntut laki-laki agar tidak menangis. Menangis menyiratkan makna “lemah”. Menangis bukanlah sesuatu hal yang harus dilakukan laki-laki. Laki-laki tidak boleh menangis jika diberikan “hukuman” fisik oleh ayahnya atas kesalahan sekecil apa pun. Ini adalah cara terbaik untuk menguatkan mental laki-laki. Sang ayah menganggap dirinya telah berjalan di jalur yang tepat.

Tapi, ayah Raya tidak menyadari bahwa kekerasan yang dilakukannya secara berulang kepada anaknya itu mengakibatkan trauma berkepanjangan dan harus ditangani secara medis. Saat Raya menginjak usia dewasa,  ia dirawat di rumah sakit jiwa. Selama dirawat di sana, Raya mendengarkan suara bising di kepalanya yang menyebabkan dirinya tidak bisa tidur, “membuatnya terteror dan mendorongnya melakukan perbuatan-perbuatan yang membahayakan dirinya.” (hlm. 25)

Walaupun Sora tidak secara langsung merasakan penderitaan fisik dari ayahnya, jiwanya begitu hancur ketika melihat kakaknya diperlakukan semena-mena oleh orang yang seharusnya memberikan perlindungan kepada segenap anggota keluarga. Masalah yang timbul kemudian pada diri Sora adalah dirinya selalu memandang bahwa laki-laki itu merupakan sesosok manusia kuat yang jago berkelahi. Selain itu, saat beranjak dewasa, ia refleks berlari menuju kolong ranjang walaupun sang ayah sudah tidak ada lagi di rumah. Bayangan sosok ayahnya masih tampak nyata, suara-suara bising amukan ayahnya masih terdengar nyaring.

Cerita di atas tidak disampaikan langsung oleh Sora dan Raya, tapi Iin menggunakan metafora bola mata yang kerap mengawasi kegiatan yang dilakukan oleh banyak manusia. Lewat bola mata tersebut, kisah mengenai maskulinitas toksik yang mencekik Sora dan Raya akhirnya tampak nyata dan terbaca oleh saya.

Mengapa Sora dan Raya tidak menuturkan ceritanya sendiri melalui mulut mereka? Menurut saya, Iin sedang menyodorkan dampak lain dari trauma, yaitu mengakibatkan kedua tokoh utama dalam novel ini kesulitan untuk bercerita karena terlalu sakit bagi mereka untuk menelusuri jejak trauma dalam hidup mereka. Hal ini dibuktikan dengan perubahan raut wajah Raya yang drastis ketika Sora sedang bercerita tentang upayanya melawan ayahnya.

“Mestinya ia tak melakukan itu. Ia tak ingin sumur hitam mengepung kembali diri kakaknya, tenggelam dalam kegelapan yang tak terbilang, dan hanya melontarkan seikat bunyi kering bila seseorang menunduk sembari melempar sebutir kerikil ke dalamnya.” (hlm. 73)

Mengapa Tentara Begitu Maskulin lagi Toksik?

Setelah membaca novela ini, saya bertanya-tanya mengapa seorang yang pernah menjadi bagian dari militer gemar memamerkan kekerasan kepada mereka yang berada di posisi rentan? Mungkinkah tentara tidak melancarkan abuse of power walaupun mereka menenteng senjata dan dilatih secara keras di barak? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu menggantung di kepala saya belakangan ini.

Analisis feminis yang disampaikan oleh bell hooks, sebagaimana dikutip dari artikel Salsabila Putri Pertiwi yang berjudul Kenapa Perempuan Harus Tolak Revisi UU TNI? Ancaman Militerisme dari Perspektif Feminis, akan menguraikan pertanyaan-pertanyaan di atas. Menurut bell hooks, militer adalah bagian dari sistem patriarki karena mereka melanggengkan budaya kekerasan dan dominasi di dalam tubuhnya. Dalam institusi militer, sistem hierarki dan otoriter akan sulit menerima perbedaan pendapat dan gerak gerik dari berbagai individu. Semua prajurit harus patuh pada satu komando.

Baca juga:

Hal serupa dirasakan oleh Raya. Luka yang menempel di tubuh Raya mendorong dirinya untuk melakukan kekerasan kepada orang lain. Di sisi lain, Raya tidak kuasa melawan ayahnya dan ia memilih diam sembari merawat bara di dada. Ketimpangan ini tidak bisa diruntuhkan Raya selama bertahun-tahun, dan Raya memendam kekesalannya sekian lama hingga berujung mengidap penyakit mental.

Bagi Sora yang terbiasa hidup di lingkungan maskulin lagi toksik, ia diam-diam merindukan seseorang yang lemah lembut dan bisa menyayangi dirinya sepenuh hati. Akhirnya, ia menjalin hubungan dengan teman masa kecilnya, Danna. Danna adalah laki-laki yang tidak terperangkap dalam imaji maskulinitas toksik. Sora sempat merasa aneh ketika bertemu dengan Danna yang dianggapnya tidak kuat dan tidak pernah berkelahi.

Novela ini sedang menyalakan alarm peringatan akan bahayanya laki-laki yang memiliki kemelekatan dengan budaya maskulinitas toksik. Secara tidak langsung, Iin melancarkan kritik keras terhadap institusi militer yang mengawetkan stereotip gender, dan akhirnya menimbulkan korban-korban berjatuhan.

Buku ini cocok dibaca oleh semua orang di tengah kondisi Indonesia yang sedang merangkak menuju kediktatoran militer. Militerisme mampu merangsek ke ranah privat, bukan muncul di kalangan elite saja. Sejak UU TNI disahkan, banyak prajurit ditempatkan di tempat-tempat yang seharusnya dikuasai oleh sipil. Ingat, tentara memiliki senjata. Tentara mempunyai kekuatan yang berlebihan. Bukan tak mungkin kekerasan akan dilakukan jika tidak sesuai dengan keinginan mereka.

Hifzha Azka

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email