Perjalanan panjang dari sunyi ke bunyi

Saat Bapak Masuk Rumah dan Puisi Lainnya

Azhar Haliwungan

2 min read

Saat Bapak Masuk Rumah

tak lama setelah tulangnya menghijau
bapak pulang membungkus siang
membawa malam yang diselipkan rapi
di saku celana kerjanya
: bau karat, peluh, dan jalan panjang

setiap kali bapak masuk rumah
jam dinding berhenti berdetak
lampu bohlam menghitam
daun-daun pintu tersipu malu
mereka benar-benar tahu:
letih lesu bapak
—kulit keropos keriput koyak

rumah belajar diam dari lisan bapak
dinding menguntal suara
kursi-kursi duduk dengan tegang
bahkan lampu tak berani terang

jika tangannya terulur
itu bukan pelukan
itu perhitungan
agar hidup tidak jatuh lebih jauh
dari yang sanggup aku bayar

doa bapak mungkin sulit melangit
sebab ia kubur di telapak kaki
setiap melangkah
seperti menginjak nasib sendiri
berulang-ulang

aku tumbuh di bawah bayang bapak
belajar menakar aji
dari sendat suara pintu
dan cara ia meletakkan sepatu

sampai pada suatu malam
aku seolah mengerti:
bapak bukan tak mengasihiku
ia hanya terlalu sibuk
menahan dunia
agar tidak runtuh tepat di atas namaku

dan jika kini aku diam
itu warisan bapak
: cara paling aman mencintai hidup
walaupun aku tak mungkin (lagi) merasakan
peluknya.

(Januari, 2026)

Saat Aku di Haribaan Ibu

pagi-pagi sekali saat aku di haribaan ibu

ibuku menata cahaya di pawon
kata-kata menyepi
air mendidih tanpa buih,
kedap udara, senyap suara
sebab gumamnya tabir segala gema
berisi zikir, lir-ilir dan doa

ia sibuk merangkum subuh
dalam lipatan-lipatan jarik
bagaimana mengulum eluh,
menyamarkan jarak
yang terhampar sejak diriku

ia mulai mengukur detik,
mengulur waktu
dalam denyut arloji, tik tok tik,
di pergelangan kalbu
bagaimana menepis ragu
membuang abu
yang melekat dalam dadaku

sampai saat pijar cahaya melebur
bersama asap pawon
ia mengusap perut dan pusarku
dengan sejumput minyak telon
berdesir, semilir, lir-ilir

ia membersihkan wajahku dari samar-samar yang lindap
ia menyucikan mataku dari cahaya yang tak lengkap
—dari gulita, dari gelap
hingga yang tersisa, hanya aku, hanya namaku.

(Januari, 2026)

Keretek Mbah Kakung

mengapa duh mengapa
setiap kali mbah kakung mengisap kereteknya
bara apinya tiba-tiba membiru
kepul asapnya menjelma dukhan
puntung abunya terbang ke mataku

mau berapa pun no smoking terpampang
di mana pun–sekecil apa pun–sejelas apa pun
mbah kakung tetap bal bul bal bul

“le, nyalakan lagi rokokku”
“le, satu lagi untukku”

detik melambat
memori tersulut cepat
dengan api sekecil itu

satu tarikan seribu embusan
: mbah kakung menyembunyikan batuk
seolah menyimpan dosa lama
yang belum rampung ditebus nama

keretek baginya bukan kebiasaan
tapi ingatan
tentang perampasan ladang tembakau,
tentang pemboman pabrik-pabrik,
tentang perang yang disamarkan
tentang nama-nama kawan, tertawan
yang habis lebih dulu dari keretek di sela jarinya

asap itu naik pelan
menyentuh langit-langit rumah
lalu hilang
seperti doa yang tak yakin
kepada siapa mesti pulang

sampai aku belajar:
menikmati yang pahit
tanpa berharap sembuh

hingga suatu pagi
kursi bambu itu kosong
keretek terakhir tinggal abu
dan aku baru sadar:

sejak dulu
mbah kakung sedang menempaku
menghadapi perpisahan
setiap kali ia berkata,
“le, satu lagi untukku.”

(Januari, 2026)

Sirih Mbah Putri

mengapa duh mengapa
setiap kali mbah putri mengunyah sirih
malam menetes
dari sudut bibirnya
merah, pahit, dan tak sempat diseka

daun itu dilipat tanpa ragu
kapur ditekan (terlalu banyak)
gambir menempel seperti luka lama
yang tak lagi ia hitung perihnya

mau berapa pun larangan menua
di cermin, di obat, di doa-doa keluarga
mbah putri tetap keplek… keplek…
mengunyah hari
sampai bunyinya habis

“le, ambilkan sirihku”
suaranya makin tipis
seperti benang yang ditarik
oleh jarak dan lupa

di sela kunyahan
ia menyembunyikan lara
yang tak punya nama
persendian yang retak
ingatan yang copot satu-satu
tanpa perantara

sirih itu bukan kebiasaan
melainkan penahan runtuh
agar tubuhnya tidak menyerah
lebih cepat dari jiwanya

setiap ludah merah
yang jatuh ke tanah
adalah sisa hidup
yang tak lagi muat
di dalam dirinya

aku tumbuh di hadapan mulut itu
belajar:
mati tidak selalu datang tiba-tiba
kadang ia dikunyah
pelan
hari demi hari

hingga suatu sore
sirihnya tinggal kering
mulutnya berhenti bergerak
dan sunyi menjadi sangat dekat
sangat lekat

mbah putri menghilang
tanpa suara
tanpa api
tanpa asap
hanya tubuh
yang akhirnya
tak sanggup mengunyah apa-apa.

(Januari, 2026)

Yang Diajarkan Diri Sendiri

tidak ada yang mengajariku menjadi aku
aku terbangun
sudah berada di dalam tubuh ini
: roh yang salah masuk kamar

nama hanyalah bunyi
yang ditempelkan waktu
agar aku bisa dipanggil
ketika lupa jalan pulang

aku belajar dari retakan
dari bagian yang tidak diwariskan
dari doa-doa yang tidak sampai
dan diam yang terlanjur abadi

aku mengajariku
dengan cara menghilang
sedikit demi sedikit
dari yang pernah kupercaya

aku diajari tubuh
bahwa ia hanya rumah singgah
aku diajari ingatan
bahwa ia pintu yang tak selalu terbuka
aku diajari sunyi
bahwa ia lebih setia
daripada siapa pun

setiap malam
aku berbicara dengan aku
: dua makhluk asing
yang terjerembap
dalam satu napas

aku bertanya
siapa yang hidup
siapa yang sekadar bergerak
dan tidak pernah mendapat jawaban
selain detak yang terus menipis
selain retak yang makin terkikis

tidak ada guru
tidak ada murid
hanya sadar
yang perlahan belajar
melepaskan dirinya sendiri

dan jika suatu hari aku lenyap
itu bukan kematian
melainkan pelajaran terakhir
yang akhirnya
perlu diingat.

(Januari, 2026)

*****

Editor: Moch Aldy MA

Azhar Haliwungan
Azhar Haliwungan Perjalanan panjang dari sunyi ke bunyi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email