Sejak pertama kali diumumkan, platform Read Indonesia terdengar seperti janji besar. Keren, ambisius, dan penuh harapan. Kementerian Kebudayaan ingin membawa sastra Indonesia naik kelas menembus batas negara, bahasa, dan budaya. Menteri Kebudayaan Fadli Zon bahkan menyebutnya sebagai “gerbang sastra nasional menuju dunia.” Pernyataan itu disampaikan saat peluncuran resmi pada Desember 2025 di Jakarta. Negara, katanya, ingin hadir lebih serius dalam mengelola promosi sastra sebagai wajah nilai, sejarah, dan cara pandang bangsa. Gagasan ini sejalan dengan Undang-Undang Pemajuan Kebudayaan 2017 yang menempatkan sastra sebagai bagian penting dari identitas nasional. Secara konsep, Read Indonesia memang terdengar visioner dan menjanjikan.
Namun, rasa penasaran pembaca muda perlahan berubah menjadi tanda tanya. Begitu laman readindonesia.id dibuka, pengalaman membaca terasa agak janggal. Yang muncul hanya deretan sampul buku tanpa teks utuh. Tidak ada ruang untuk benar-benar “membaca”. Informasi buku pun minim, banyak yang tidak mencantumkan ISBN, edisi, atau tahun terbit. Padahal, menurut UNESCO, metadata adalah identitas penting sebuah karya. Tanpanya, buku sulit diverifikasi secara akademik. Bagi remaja yang kritis, kondisi ini membingungkan. Apakah buku-buku ini benar-benar terbit resmi dan layak dijadikan rujukan?
Baca juga:
Pertanyaan lain muncul soal kualitas dan proses kurasi. Banyak judul terasa asing, begitu pula nama penulisnya. Tidak ada penjelasan mengapa buku-buku itu dipilih. Siapa kuratornya? Apa standar seleksinya? Padahal, kurasi adalah jantung dari sebuah platform literasi. John B. Thompson menyebut kurasi sebagai mekanisme legitimasi budaya. Tanpa kurasi yang jelas dan transparan, pembaca sulit membangun kepercayaan. Akhirnya, platform terlihat seperti rak buku acak penuh judul, tapi tanpa arah cerita.
Masalah berikutnya terasa cukup mengganggu: tidak ada akses ke isi buku secara utuh. Read Indonesia hanya menyediakan ringkasan sangat singkat, kadang hanya satu paragraf. Jika ingin membaca lebih jauh, pembaca diminta membeli bukunya. Lalu muncul pertanyaan wajar: apa bedanya dengan katalog penerbit atau toko buku daring? Bahkan toko buku digital sering memberi cuplikan bab awal. Dalam budaya literasi digital hari ini, pratinjau teks adalah hal penting. Google Books dan Kindle sudah lama melakukannya. Tanpa itu, pengalaman membaca terasa setengah-setengah.
Akhirnya, fungsi Read Indonesia jadi terasa kabur. Apakah ini ruang baca? Etalase promosi? Arsip negara? Atau sekadar galeri sampul buku? Fadli Zon menyebut platform ini fleksibel bagi penulis Indonesia. Tapi fleksibilitas penulis belum tentu berarti kenyamanan pembaca. Laporan OECD 2023 menunjukkan bahwa literasi digital tumbuh lewat akses dan pengalaman membaca langsung. Remaja tertarik ketika bisa berinteraksi dengan teks, bukan hanya melihat judul. Tanpa pengalaman itu, minat mudah menguap. Platform literasi seharusnya ramah, bukan sekadar resmi.
Ada kekhawatiran yang lebih dalam. Bagaimana jika buku-buku yang ditampilkan sebenarnya tidak memenuhi standar mutu? Persepsi publik terhadap kualitas sastra nasional bisa ikut terdampak. Pierre Bourdieu pernah menegaskan bahwa negara memiliki kuasa simbolik besar. Apa yang dipromosikan negara dianggap bernilai tinggi. Jika negara menampilkan karya tanpa standar jelas, pesannya menjadi ambigu. Remaja bisa kesulitan membedakan karya bermutu dan sekadar tampil. Dalam jangka panjang, kepercayaan publik terhadap sastra nasional bisa terkikis.
Direktur Jenderal Diplomasi Kebudayaan, Endah T. D. Retnoastuti, menyebut Read Indonesia sebagai referensi dunia. Tentu ini membanggakan. Namun, menjadi referensi global menuntut kualitas teknis dan substansi yang kuat. Platform internasional umumnya menyediakan data lengkap dan akses konten yang layak. International Publishers Association menekankan pentingnya keterbacaan lintas budaya. Tanpa teks utuh atau cuplikan bermakna, pembaca asing sulit menilai isi karya. Alhasil, promosi berhenti pada tampilan visual semata.
Baca juga:
Kerja sama internasional dengan Korea Selatan patut diapresiasi. Program penerjemahan dan co-publishing adalah langkah strategis. Sayangnya, jejak kerja sama itu belum terasa nyata di platform. Tidak ada penanda buku terjemahan, tidak ada keterangan status hak cipta atau proses alih bahasa. Bagi pembaca muda yang ingin belajar sastra dunia, informasi semacam ini penting. Mereka ingin tahu perjalanan sebuah buku, bukan hanya melihat sampulnya. Tanpa narasi itu, platform terasa dingin dan administratif.
Peran Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa juga kerap disebut, tetapi belum tampak jelas implementasinya. Integrasi peran Badan Bahasa dengan Read Indonesia belum dijelaskan secara terbuka. Tidak ada panduan penggunaan, baik untuk pembaca maupun penulis. Padahal, generasi muda sangat bergantung pada petunjuk yang jelas dan antarmuka yang komunikatif. Platform digital tanpa arahan mudah ditinggalkan, apalagi oleh generasi yang terbiasa dengan aplikasi interaktif.
Dalam ekosistem sastra yang sehat, platform digital seharusnya hidup. Ia bisa menghadirkan diskusi, rekomendasi, kurasi tematik misalnya sastra remaja, cerita sejarah, atau kisah daerah. Sayangnya, Read Indonesia belum sampai ke sana. Tidak ada ulasan pembaca, tidak ada konteks sosial atau sejarah karya. Seperti kata Terry Eagleton, sastra hidup melalui dialog makna. Tanpa dialog, sastra hanya jadi pajangan.
Padahal, Read Indonesia punya potensi besar sebagai alat diplomasi budaya. Ia bisa menjadi jendela sastra Indonesia bagi dunia. Namun potensi itu butuh desain yang matang dan jujur. Platform harus jelas: apakah ia arsip nasional, katalog promosi, atau ruang baca digital? Kejelasan ini penting, terutama bagi remaja yang butuh arah, bukan simbol kosong. Tanpa kejelasan, platform terasa jauh dan tidak membumi.
Hingga kini, penulis belum menemukan penjelasan komprehensif dari Kementerian Kebudayaan mengenai fungsi, prosedur, dan arah Read Indonesia. Padahal, platform ini dibiayai dan dijalankan dengan otoritas publik. Sastra bukan sekadar pajangan simbolik. Sastra perlu dihidupkan, dibaca, dan didialogkan. Read Indonesia seharusnya menjadi pintu masuk literasi, bukan etalase digital yang sunyi. Jika ingin menjadi gerbang dunia, fondasinya harus kuat, terbuka, dan ramah bagi pembaca muda. (*)
Editor: Kukuh Basuki
