Pada Ambang
Pada ambang
yang tak dirayakan,
aku belajar:
melangkah tanpa beban
sering kali lebih jujur
daripada menyusun
kata kemenangan.
Semoga doa
tidak tersesat di ambang bibir,
ketika dunia riuh
menawarkan janji
yang gugur
sebelum sempat kusentuh.
Dengan batas ini
aku mulai merawat,
tanpa berteriak,
cukup menyimak:
kadang bersiap
adalah perlawanan
paling sunyi.
–
Gladi Resik untuk Bayangan
Sepiku
menanggung panggung.
Lampu-lampu menyala
pada tubuh yang tak pernah datang.
Kursi-kursi tersusun rapi.
Debu menunggu lebih setia
daripada tepuk tangan.
Namaku pernah dipanggil,
lalu menggema
tanpa tulang untuk menopangnya.
Sepiku tidak pergi.
Ia membuka tirai setiap malam,
membiarkan bayanganku
mengenakan wajah-wajah yang ada—
seperti jeda yang tak pernah dimulai.
–
Di Satu Titik
Retak kecil membuat lantai terasa nyata—
tidak semua yang kita pijak
akan tinggal bersama kita.
Serat kayu menua pelan,
hampir tak terdengar.
Ubin hanya menerima berat,
tidak menyimpan arah.
Cahaya siang merayap tipis,
menemukan debu
yang tak sempat kita sapu.
Kita kira rumah adalah sesuatu
yang bisa dipanggil kembali
dengan menyebut nomornya—
tetapi gema selalu datang terlambat,
berhenti sebelum menjawab.
Di satu titik, rengat itu
tetap di sana.
–
Sela
Setiap garis yang kita kira kecil
sering kali pusat—
beban mengendap di sana
seperti jelaga pada dinding yang tak pernah diperiksa.
Cahaya jatuh di meja.
Air mendidih di dapur.
Hari berjalan,
bayang memanjang.
Yang paling tipis adalah sela itu.
Kita berdiri di antaranya—
tak tahu sejak kapan
kaki kita tak persis di tempat semula.
*****
Editor: Moch Aldy MA
