Solaris terbit pertama kali tahun 1961, ditulis oleh Stanislaw Lem, saat perlombaan antariksa lagi panas-panasnya. Fiksi ilmiah klasik dari Polandia ini berjarak empat tahun setelah satelit buatan pertama diluncurkan. Tepat di tahun yang sama ketika manusia pertama kali melayang di luar angkasa sambil keliling bumi satu putaran. Pendaratan di bulan belum terjadi. Masih 8 tahun lagi.
Ketika misi antariksa sedang romantis-romantisnya, Solaris mencuat ke permukaan sebagai nama planet fiksi. Ceritanya berpusat pada Kris Kelvin, psikolog yang tiba di planet itu.
Kris mendarat ke stasiun yang menjadi fasilitas penelitian planet. Tapi stasiun ini sunyi dan berantakan. Tersisa dua ilmuwan di sana, dan keduanya bertingkah seperti orang gila; Snaut dan Sartorius. Harusnya ada satu lagi yang bernama Gibarian, mentor dan figur pembentuk arah intelektual Kris. Tapi dia baru saja bunuh diri sehari sebelum tokoh kita tiba.
Kira-kira begitulah cerita dimulai. Seterusnya, cerita dijalankan oleh bermacam usaha Kris untuk mencari jawaban dan memahami apa yang terjadi. Dari dialog canggung dan perdebatan antar tokoh, buku demi buku yang ia baca, rumus matematis serta renungan eksistensial.
Baca juga:
Tantangan yang segera saya temukan dalam membaca ini, adalah tantangan klise dari sastra terjemahan. Tantangan untuk menikmati bagaimana bahasa disusun atau diutak-atik dengan gaya bahasa penulis. Mencerna bagaimana cara itu berdampak pada pengalaman membaca, atau membawa kita pada lapisan lain dari pesan yang tampak. Saya perlu membaca dua kali untuk bisa membina sendiri kesan-kesan itu.
Tapi itu tidak jadi masalah utama, karena Solaris menawarkan soal yang melampaui batas gaya bahasa. Soal itu adalah keterbatasan dari pengetahuan manusia.
Soal ini mengemuka sejak pertama kali tokoh bertemu para ilmuwan yang kebingungan, dan fakta bahwa ilmuwan panutannya bunuh diri. Pada bab dua (Solaristika), kita segera di antar lebih jauh ke soal ini. Mengenal latar dunia yang jadi pusat cerita lewat buku-buku yang dibaca tokoh, menyelami perdebatan intelektual lintas zaman mereka. Dimulai dari sejarah penjelajahan Solaris.
Solaris ditemukan jauh sebelum Kris lahir. Ukurannya 20 persen lebih besar dari bumi. Hampir seluruh permukaannya ditutupi lautan, sisanya cuma daratan yang lebih kecil dari Benua Eropa.
Meskipun ada lautnya, planet ini segera dianggap tidak layak huni. Soalnya dia mengorbit dua matahari; satunya warna merah, satu lagi warna biru. Menurut para ilmuwan, orbit Solaris tidak mungkin stabil. Akan ada waktunya dia mengorbit salah satu matahari dengan jarak yang lebih dekat, lalu terbakar, sebelum kembali lagi ke jarak idealnya. Jadi makhluk hidup tidak akan pernah tumbuh di sana. Kalaupun tumbuh, keburu musnah lagi. Hipotesis ini bikin Solaris tidak dijelajahi selama lebih dari 40 tahun.
Tapi perkiraan ilmuwan diganggu oleh fakta bahwa orbit planet tetap stabil. Fakta ini jadi titik awal dari serangkaian penelitian.
Ekspedisi periode awal berujung pada hipotesis bahwa lautan itu sendiri adalah makhluk hidupnya. Hipotesis ini menggiring ilmuwan pada rangkaian temuan, bermacam hipotesis baru, dan perdebatan yang mengguncang fondasi ilmu pengetahuan manusia; dari kemampuan laut untuk mempengaruhi orbit secara aktif, sampai perbedaan waktu dalam satu garis bujur yang sama. Setiap konsep yang digunakan untuk menandai ciri planet dan gejala lautan segera dibantah oleh gejala baru. Bermacam gangguan itu bikin penjelajahan terus diperpanjang sampai hampir satu abad.
Solaris akhirnya tidak didekati oleh astronom atau fisikawan saja, ia jadi perbincangan di ranah logika, psikoanalisis, matematika, sampai teologi. Bab ini rasanya ikut menerangkan kenapa seorang psikolog bisa tiba di stasiun ini. Sebab sampai akhir, kita tidak diberi keterangan eksplisit tentang misi Kris sebagai psikolog. Ini jadi salah satu perbedaan mendasar antara novel dan adaptasi filmnya yang digarap Andrei Tarkovsky. Dalam film, motif kedatangan Kris dibingkai sejak awal, yaitu memeriksa kondisi kejiwaan ilmuwan di stasiun.
Setelah bab ini usai menceritakan masalah dunia mereka, Kris menutup buku. Dua bab selanjutnya mengantar kita untuk lebih mengenal dua ilmuwan, disertai keganjilan lainnya. Dari kemunculan orang tidak dikenal yang harusnya tidak ada di stasiun, serta percakapan yang semakin aneh dengan Snaut dan Sartorius.
Lapisan konflik jadi lebih rumit ketika sampai pada bab lima. Sekian hari kemudian, ketika masalah semakin mengerucut pada tokoh utama.
Kris bangun dari tidur dengan disambut oleh Harey, mantan kekasihnya yang bunuh diri 10 tahun lalu. Bukan hadir sebagai hantu, tapi sebagaimana Harey yang dia kenal. Harey sendiri bahkan tidak mengerti kenapa dia ada di situ. Barulah Kris sadar bahwa stasiun juga dihuni oleh wujud dari rahasia paling dalam setiap ilmuwan. Makhluk itu kemudian mereka namai “Tamu”.
Harey hadir seperti sisa makanan kecil yang lengket di sela gigi graham. Sulit dijangkau lidah, tapi terlalu mengganggu untuk diabaikan. Pacarnya ini bunuh diri tidak lama setelah Kris meninggalkan dirinya, dan rasa bersalah Kris melekat seperti luka yang tidak pernah sembuh. Kris sudah coba mengirimnya ke luar angkasa pakai kapsul, tapi muncul lagi di kamarnya tanpa ingat sama sekali yang terjadi. Harey sendiri merasa takut luar biasa ketika Kris menjauh darinya. Seakan ia diprogram untuk melengket di mana pun Kris berada
Kehadiran tamu mengantar tegangan pada lapisan yang lebih intim. Di balik perdebatan saintifik dan spekulasi abstrak, kita mulai melihat masalah mendasar dari ilmuwan sebagai manusia.
“Kita berkelana ke ruang angkasa, bersiap menghadapi apa pun, katakanlah, kesendirian, kerja keras, pengorbanan, dan risiko kematian. Supaya tidak dikira sombong, kita tidak mengatakannya secara terbuka, tapi dari waktu ke waktu, kita tahu betapa hebatnya diri kita. Sementara itu, kita tidak sedang berusaha menaklukan alam semesta; yang kita inginkan hanyalah memperluas Bumi … Kita tidak sedang mencari apa-apa, kita mencari manusia. Kita tidak membutuhkan dunia lain, kita membutuhkan cermin.” (Hal. 99–100)
Di antara laut dan segudang gejala yang belum pernah diamati manusia, ilmuwan yang sibuk mencari, dan pencarian yang terus diganggu, Kris dipaksa terus menerus untuk ngaca. Bercermin pada dirinya sendiri melalui Harey, memecahkan soal matematis yang rumit, dan menghadapi hari-hari yang ganjil di planet asing. Sesekali, laut tampak hitam kemerahan akibat bias cahaya matahari merah. Ada waktunya biru dan merah membelah laut ketika dua matahari bertemu. Paduan lanskap yang asing dengan semua tegangan eksistensial bikin dunia Solaris tambah membekas.
Ada satu momen di penghujung cerita, ketika Kris kembali mengunjungi perpustakaan, membaca bermacam buku yang bikin kita lebih dalam menyelami ekspedisi lintas generasi mereka. Setelah usai membaca buku pertama, ia menemukan pamflet yang ditulis oleh Grattenstrom.
“…Bahkan sebuah konsep paling abstrak, teoretis, dan matematis sesungguhnya hanya merupakan satu atau dua lompatan dari pemahaman manusia prasejarah yang berbasis pada indra dan menggunakan pandangan antropomorfis dalam memahami dunia.” (Solaris, Hal. 228)
“Grattenstrom meneliti bahwa rumusan teori relativitas dan medan magnet hanya merupakan proyeksi tubuh, dari indra kita, struktur organisme manusia, dan terbatas pada pemahaman fisiologis manusia, dan bisa mengaitkannya dengan ketubuhan manusia… Manusia, entah sekarang atau nanti, tidak mungkin melakukan ‘kontak’ dengan peradaban non-manusia” (Solaris, Hal. 228)
Pernyataan itu menyingkap fondasi konflik dalam cerita, sekaligus konflik universal dari manusia itu sendiri. Seakan bilang bahwa kecenderungan manusia untuk melihat segalanya sejauh ketubuhan manusia, adalah sebab mendasar kenapa mereka tidak mampu memahami Solaris. Meskipun, pengalaman subjektif tokoh sudah menjelaskan dengan cukup terang soal ini. Tapi usaha menandainya dengan batas-batas konvensi pengetahuan terus menjebak tokoh dalam labirin.
Saya jadi ingat ocehan Nietzsche di Senjakala Berhala. Dalam terjemahan yang terbit di Project Guttenberg, bunyinya begini: “Our scientific triumphs at the present day extend precisely so far as we have accepted the evidence of our senses, — as we have sharpened and armed them, and learned to follow them up to the end.”
Saya yakin statement ini punya cakrawalanya sendiri pula, tapi sepertinya cukup bersinggungan dengan wacana kritis Lem terhadap semangat eksplorasi luar angkasa masa itu. Tentu kita perlu ulik lebih jauh tentang sense yang dimaksud dalam bahasa jerman oleh Nietzche, juga ketubuhan yang dimaksud oleh Lem dalam bahasa Polandia. Karena kita bisa berdebat tentang bagaimana rasionalitas mampu terpisah dari tubuh, atau sebaliknya, tidak mungkin — tapi itu tidak perlu karena kita tidak selesai membicarakan akurasi terjemahan dan konteksnya.
Meskipun begitu, Novel tidak diakhiri dengan keputusasaan. Setelah para tokoh mampu mengambil keputusan untuk mengatasi “Tamu” , mereka tidak memutuskan untuk pergi dan meninggalkan Solaris. Mereka tetap tinggal.
Baca juga:
Pada akhir cerita, Kris mengambil tindakan berani; menaiki helikopter, terbang dan mengalami laut dari jarak yang lebih akrab. Berada langsung di tengah gejala ganjil dari lautan, melihat dan menginjakan kaki di atasnya. Mengambil resiko untuk menghadapi keterbatasan itu sendiri setelah lama berkutat dalam renungan, hitungan, dan tumpukan buku-buku — setelah usai menghadapi ketakutan terdalam yang sembunyi di kolong jiwanya.
Cerita akhirnya tidak ditutup dengan menggagalkan pengetahuan, apalagi penemuan yang selesai. Ia merekam gejolak universal atas ambisi dan batas, perenungan dan sikap. Disampaikan kembali sebagai fiksi ilmiah, dan bercerita layaknya pelajaran panjang yang terus berbenah dan menemukan jalannya sendiri. (*)
Editor: Kukuh Basuki
