Dua kelopak mata mengerjap, Mawar terbangun dari tidur siangnya. Cahaya matahari menembus seperti bilah tajam. Ia menarik gorden biru pastel menutupi separuh bingkai jendela. Sejak pagi televisi dibiarkan menyala tanpa suara di depannya. Sudah beberapa hari ini tubuhnya lemah. Suhu badan memang belum melampaui titik genting, namun dokter memintanya untuk rehat total.
Perempuan separuh baya itu mengambil ponselnya dari meja samping dan duduk bersandar di kepala tempat tidur. Ia menggulir video demi video di laman utama aplikasi. Tidak ada yang menarik, jarinya lalu beralih ke deretan artikel berita. Perhatiannya terpaku pada sebuah foto pada artikel utama. Bangunan itu berdekor tempo dulu. Berdiri kokoh di area lahan bekas istana pemerintah kolonial—yang menurut artikel sudah ada sejak abad ke-18. Bangunan putih yang sebelumnya berfungsi sebagai rumah sakit negeri, sekarang direnovasi ulang untuk dijadikan kantor pemerintah kota.
Sesuatu dari dalam ruang ingatan Mawar menggeliat, membangunkan kembali kenangan masa kecil. Matanya berkaca-kaca. Meskipun ingatan itu sudah semakin memudar, paviliun perawatan kembali terbayang di mata pikirannya. Koridor panjang. Bunga-bungaan di depan kamar. Jendela-jendela berbentuk horizontal berjajar rapi memasukkan limpahan cahaya alami. Dekor paviliun baru itu tampak lebih modern. Ia tidak bisa lagi mengingat dengan utuh, tetapi nada kagum dalam suara tantenya masih terekam jelas dalam ingatan.
Meja resepsionis berbahan granit berada dalam naungan lobi utama. Ruangan luas berlangit-langit tinggi disangga pilar-pilar beton yang terlihat memuncak di semua sudut ruangan. Di tengah tahun 1980, usia Mawar baru saja menginjak 13 tahun—usia di mana segala sesuatu terasa mengesankan, tetapi penuh kegamangan dan kebingungan. Petugas menunjukkan cara menuju paviliun tempat ayah dirawat. Jalan terus sampai di ujung koridor, lalu belok kiri. Setelah melewati taman kecil, ada plang arah menuju paviliun Pattimura. Kamar ayah ada di pintu ke lima di sisi kiri.
Perawat berbaju dan bertopi kap putih terlihat baru saja selesai memeriksa tensi darah. Ibu duduk di kursi dekat tempat tidur. Ia bangkit begitu melihat kami datang menjenguk. Tante segera memeluk ibu sebelum menyapa ayah. Kedua sepupu dan adik perempuannya sibuk berebut dua kursi kayu yang ada di depan kamar. Mawar yang berdiri di ambang pintu bergeser perlahan memberi jalan kepada perawat. Gadis kecil itu mengamati. Badan ayah terlihat tidak bertenaga. Air mukanya pucat, kedua mata cekung. Kesedihan seketika meluap. Ayahnya yang biasa aktif itu kini hanya terbaring.
Sudah lewat sepuluh tahun sejak ayah berpulang. Namun rasa terenyuh tetap begitu lekat setiap kali terbayang masa-masa ayahnya terbaring sakit. Seingatnya tiga kali ayah harus dirawat inap. Kondisi jantungnya sering terganggu. Di mata Mawar dahulu ayah terlihat sudah menua. Namun, di usia setengah bayanya, 55 tahun dapat dikatakan masih muda.
Zaman sekarang banyak pendapat yang mengatakan tubuh adalah cerminan batin. Jiwa yang tenang menumbuhkan raga yang kuat. Pikiran serta perasaan buruk yang tertanam dapat memunculkan kuntum-kuntum penyakit. Apakah mungkin tubuh ayah merespons beban psikologis yang tidak terlihat. Apakah penyakit jantung yang dideritanya bukan hanya sekadar gangguan fisik, tetapi juga pengingat.
Pada era ayah dahulu, tidak banyak atau bahkan mungkin tidak ada pembicaraan tentang praktik kesejahteraan, atau well-being–tren sebutan orang sekarang. Namun seiring waktu, pandangan masyarakat berubah. Kini bukan sesuatu yang aneh mendengar tentang meditasi, mindfulness, atau kewawasan (dalam istilah Buddhisme). Akses informasi terbuka lebar. Manajemen stres saat ini menjadi sesuatu yang lumrah. Namun dahulu, konsep itu bisa jadi merupakan sesuatu yang asing. Riakan batin sering kali dipendam. Tumpukan perasaan menjadi semakin meninggi. Tanpa disadari bibit penyakit sudah menjalar di dalam tubuh.
Terkenang akan masa kecilnya—Mawar perhatikan—ayahnya sering kali tidak mampu mengontrol emosi. Akibatnya, Mawar dan adiknya menghindari bertatap muka langsung. Keduanya akhirnya menciptakan dunia mereka sendiri. Bahkan ibu pun memagari diri dengan dunianya sendiri yang sulit ditembus. Mawar merasa ia tumbuh tanpa sosok yang dapat menjadi sandaran. Antara dirinya dan kedua orang tua ada jurang emosional yang terbentang. Terlalu jauh untuk diraih.
Bayangan hari itu di paviliun perawatan melayang kembali. Ibu dan tantenya mengobrol dengan suara pelan di sofa dekat ambang pintu. Mawar masih ingat ketika dirinya berjalan mendekati ayah. Tangan kecilnya menggenggam tangan ayah. Genangan air mata nyaris jatuh. Ia menahan sekuat-kuatnya. Ungkapan hati antara orang tua dan anak bukan hal yang lazim dalam keluarga mereka. Ayah memandang, senyum tipis tersungging. Mawar tidak akan pernah tahu apa yang dipikirkan ayah saat itu. Merasa malu sendiri, gadis berkepang dua itu beranjak keluar, menyeka cepat bulir bening yang kadung jatuh. Batu besar seperti mengganjal tenggorokannya. Ia hanya mampu berdiri diam mendengar dua sepupu dan adiknya berceloteh ramai.
Hingga kini, ia tidak habis pikir dengan luapan perasaannya sendiri. Reaksi kesedihan itu tetap menjadi misteri baginya. Mungkin—pikirnya— reaksi itu bukan sepenuhnya rasa iba. Tetapi sesuatu yang lebih dalam: rasa takut. Takut melihat tiang penyangga keluarga mereka roboh. Sosok yang biasanya tegak dan kokoh terbaring tanpa daya, tidak berkutik melawan tubuhnya sendiri. Sesulit apa pun hubungannya dengan orang tua, pada masa itu, hanya mereka tempat Mawar bergantung.
Ayah, seandainya dulu ada ruang untuk kewawasan.
Mawar menghela napas berat. Kenangan silam menuntunnya kembali pada ponsel di tangan. Foto bangunan tua itu kembali tampak. Ia memandang lagi beberapa saat sebelum menaruh ponselnya ke atas meja kecil. Dirabanya alat pacu jantung yang dipasang tahun lalu. Irama jantungnya semakin tidak beraturan. Terlalu cepat, menurut dokter spesialis. Badannya semakin terasa lemas. Ia kembali berbaring. Mawar merasa dirinya sangat rapuh.
Kerapuhan itu memancing serbuan pertanyaan yang selama ini ia hindari tentang eksistensi diri. Pikirannya melayang pada prediksi masa depan yang penuh ketidakpastian. Bagaimana hidupku nanti. Apa bisa menghidupi diriku sendiri. Pertanyaan-pertanyaan itu datang lagi dan lagi. Menolak untuk diam.
Alur pikirannya seperti aliran air sungai, meluncur kuat. Matanya menatap langit-langit, napasnya terputus-putus. Terus terang, ia tidak rela semuanya jatuh ke tangan orang itu. Jeram pikirannya semakin deras menghantam. Meskipun telah berpisah, Mawar dan suaminya masih terikat tali resmi pernikahan. Bayangan suaminya menikah lagi serta perselisihan harta semakin membuatnya tenggelam dalam kecemasan.
Rasa sesak itu datang seperti gelombang bergulung. Menekan tanpa henti. Tangannya memegang dada kiri. Kening berkerut, matanya terpejam. Jantungnya memukul-mukul, liar dan tidak beraturan. Satu tangan terangkat perlahan mengambil alat panggil perawat di dekat tempat tidur. Jarinya menekan berkali-kali. Badan Mawar menekuk menahan rasa sakit. Perempuan itu menunggu perawat berbaju putih—yang kini tanpa topi kap masa lalu—muncul di ambang kamar perawatan nomor 205.
*****
Editor: Moch Aldy MA
