Ibu

Jagad Wijaksono

3 min read

Sudah dua belas hari para petani di desaku, termasuk ibuku, menggali lahan pekuburannya di pekarangan rumah sendiri. Mereka melakukan segala upaya sebagai bentuk perlawanan atas pembangunan pabrik semen.

Kabarnya di seputaran desaku akan ada pembangunan pabrik semen. Kabar itu sontak menimbulkan kegaduhan. Gelombang penolakan muncul dari warga,  pengajuan pembebasan lahan telak ditolak oleh mereka. Walaupun akan ada ganti rugi, mereka tetap tak rela tanahnya ditimpah batu bata. Mereka itu petani, meminta lahannya untuk rela dibeli sama saja memohon mereka untuk bunuh diri. Cara paling keji untuk membuat mereka mati.

Warga meminta mereka angkat kaki, tak sudi kampungnya di keruk. Akibatnya kericuhan terjadi. Bukan hanya perkara pembebasan lahan, lebih-lebih warga khawatir pembangunan pabrik semen dapat merusak hutan. Lalu lahirlah tuntutan, rame-rame mereka demo di depan kantor kecamatan. Ibuku pun ikut-ikutan.

“Bu, sudah tak usah ikut jadi demonstran.” Aku coba mencegah, namun Ibu segera menyanggah. Katanya ibu mau berjuang mempertahankan tanahnya. Tanah yang turun-temurun sudah diwariskan oleh buyutku, kebun yang telah menghidupi kami berdua, terutama setalah bapak tiada, kebun kami lebih dari sekedar lahan, tempat itu adalah sumber penghidupan kami, bagian dari sejarah hidup kami. Kata ibu tanah itu satu-satunya harta yang tersisa, yang kelak akan menjadi urusanku untuk mengurusnya.

Malang memang nasib kami. Pembangunan pabrik nampaknya akan tetap jalan. Setelah demo di depan kantor kecamatan tak mendapat tanggapan, Ibu dan sebagian orang-orang di desaku membawa tuntutan ke pengadilan, namun lagi-lagi, nasib buruk memang belum juga mau pergi. Ibu dan warga desaku kalah di pengadilan, tuntutan mereka mentah di atas meja persidangan. Ibu dan warga desaku tak lekas putus asa.

Setelah demo yang tak putus-putus warga digemparkan oleh kematian salah seorang dari mereka, Salim namanya. Salim ditemukan terkapar dengan luka lebam di mana-mana, luka jerat melingkar di lehernya, ia ditemukan tak bernyawa pagi itu oleh warga yang mau pergi ke pasar. Menurut cerita istrinya, sore kemarin rumah mereka didatangi oleh beberapa orang yang memang dikenal mendukung pembangunan pabrik semen, termasuk sekretaris desa. Salim diajak pergi tapi istrinya tak tahu Salim diajak ke mana, ia hanya diam di rumah seperti yang diperintahkan Salim. Hingga malam Salim tak kunjung pulang, hatinya gundah namun ia tak berani keluar rumah. Sore itu adalah sore terakhir ia melihat suamninya.

Setelah kejadian menggemparkan itu, tekad warga bukan surut, mereka berbondong- bondong menuju pengadilan kembali menuntut keadilan untuk mereka dan juga almarhum Salim, namun lagi-lagi mereka kalah. Geram, mereka memutuskan pergi ke Jakarta. Hendak demo di depan istana, katanya. Biar tuntutan bisa langsung didengar Raja.

“Sudah Bu, tak usah ikut-ikutan berdemo.” Lagi-lagi ibu menyanggah. Suaranya meninggi, ibu tampak lelah dan marah, mungkin di benaknya seharusnya aku mendukung langkah ibu, bukan mencegahnya. Tekad ibu buatku kalah. Ibu pun pergi ke Jakarta, bersama beberapa tetangga, mereka berbondong-bondong berangkat menaiki mobil bak terbuka. Mereka tak perduli lagi pada terik matahari dan jarak tempuh yang jauh, di benak mereka hanya ada satu kata. Lawan!

Demi memastikan ibu baik-baik saja di sana, aku memutuskan untuk ikut berangkat ke Jakarta. Tak dapat kupungkiri, aku tak bisa melepas ibu pergi begitu saja. Aku harus ada di dekatnya, paling tidak itu dapat menjadi tanda, bahwa aku selalu ada di belakangnya, aku selalu mendukungnya, dan aku akan berusaha untuk terus bisa melindunginya.

Hari itu kami tinggalkan rumah dan pembangunan pabrik yang terus berjalan. Kami tak meninggalkan harapan di sana, kami membawanya ke depan istana.

Di depan istana, ibuku dan ibu-ibu petani lainnya memasung kakinya, sebagai bentuk protes, sebagai simbol bahwa mereka tak akan angkat kaki dari desa kami. Mereka menuntut penghentian pembangunan pabrik semen, mereka tak rela rumah dan tanahnya di gusur, mereka tak mau pindah dari tanah kelahiran yang telah menjadi bagian panjang dari perjalanan hidup mereka dari generasi ke generasi. Ini bukan soal uang, lebih dari itu, ini adalah hidup kami dan sejarah hidup kami

Ibu duduk di atas kursi, ibu menanam kaki dalam balok semen, di kanan dan kiri ada beberapa tetangga yang melakukan hal sama—memasung kaki. Itu bentuk protes mereka. Peluh ibu mengucur cukup deras akibat kota yang siang itu begitu panas. Selain memasung diri, ibu ogah makan di siang dan malam hari. Ibu cuma makan satu kali sehari, sarapan pagi.

“Ibu jangan gila, ibu bisa pingsan nanti.”

“Biar mereka lihat tekadku nduk. Biar aku pingsan atau biar mati sekalian di hadapan penggede-penggede itu. Biar mereka bisa jelas saksikan.” Aku marah tentu saja mendengar kalimat ibu. Ibu tak boleh mati, ibu…

Ibuku adalah orang yang paling keras tekadnya di antara pendemo lain, aku tak dapat mengalahkan tekadnya, aku kalah sekali lagi oleh keteguhannya.

***

Aku masih ingat, itu hari ke tujuh aku dan ibu bertahan di Jakarta. Sedangkan sebagian yang lain sudah menyerah pulang ke desa, melanjutkan hidup di tengah-tengah pembangunan pabrik, dan terkadang intimidasi. Ibu memang keras kepala. Tidak, tidak. Ibu bukan keras kepala, Ibu keras tekadnya. Tapi hari itu siang amat panas. Matahari begitu ganas. Peluh ibu bercucuran deras. Wajahnya yang kisut oleh keriput tak bisa menyembunyikan deritanya. Aku seketika bisa tahu.

Di balik tubuh ibu yang nampak lemah, terbungkus tekadnya yang begitu gagah. Mata ibu terpejam, kepalanya jatuh menunduk ke bawah. Aku pikir ibu dilanda haus yang megah, haus sekali rupanya ibuku.

Aku beranjak dari sisi ibu. “Aku ambil air, ibu tunggu sebentar.” Ibu tak menyahut. Ada yang salah, ibu tampak lebih tenang, tak berapi-api seperti sebelumnya.

Alih-alih beranjak pergi, aku berjonggok di hadapan ibuku. Kulihat wajahnya begitu pucat pasi, begitu lesu.

“Bu, kuambilkan air yah? Ibu harus minum atau sekalian kuambilkan makan. Ibu sudah berhari-hari hanya sarapan. Tak makan siang tak makan malam. Bisa ambruk nanti.” Wajah ibu nampak begitu lesu. Ibu tak menjawab seperti gagu.

“Bu, Ibu.” Aku menepuk-nepuk lengan lalu paha ibuku. Namun ibu masih diam.

“Bu…. ibu… ibu.” Tak terasa air mataku sudah jatuh bercucuran. “Bu.” Aku masih berusaha membuat ibu bangun dari terpejam, sampai pada akhirnya tubuh ibu ambruk jatuh ke atas tanah sedang kakinya masih tertanam di dalam cor-coran semen. Siang itu terasa seperti mimpi. Ibu pergi di tengah-tengah perjuangannya, masih dengan pasung di kaki.

Mereka tak hanya merampas lahan perkebunan yang diperjuangkan ibu. Lahan perkebunan yang turun-temurun telah di wariskan leluhurku, tanah yang ibu bela mati-matian. Hari itu mereka merampas hidupku. Mereka merampas ibuku.

Pikiranku kacau, tubuh ibu yang roboh mendorongku untuk bangkit. Aku menghambur ke depan kehilangan kendali aku menyerbu pasukan yang berjaga di depan istana, “Pembunuh!” setelah teriakanku, tiba-tiba aku merasakan panas di dada kiri, aku limbung, kakiku tiba-tiba menjadi lemas, aku tak dapat melanjutkan langkahku, tubuhku terasa berat seperti ada yang menariknya ke bawah, aku jatuh dan setelahnya hanya ada warna jingga yang menyilaukan. Dadaku perih, panas mulai menjalar keseluruh tubuhku, dadaku menjadi sesak, aku berusaha menarik nafas tapi terasa berat, udara seperti enggan masuk ke dalam paru-paruku. Kemudian semua menjadi gelap, dan pekat. Hati dan dadaku perih aku ingin menangis.

Apakah kali ini aku kalah lagi?

*****

Jagad Wijaksono

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email