Cinta hampir selalu datang sebagai janji, sementara kehilangan hadir sebagai penagihnya. Di antara keduanya, waktu berdiri seperti hakim yang diam, tidak memihak tetapi menentukan segalanya. Kita sering mengira cinta adalah soal perasaan, dan kehilangan adalah soal nasib. Padahal jika ditelusuri lebih dalam, keduanya adalah soal waktu. Soal kapan kita bertemu, berapa lama kita bertahan, dan pada detik ke berapa segalanya runtuh atau justru mengendap menjadi kenangan.
Dalam kehidupan modern yang serba cepat, waktu kerap diperlakukan sebagai komoditas. Ia diukur dengan notifikasi, deadline, dan kalender digital. Namun dalam urusan cinta, waktu tidak pernah sesederhana itu. Ia bisa memanjang ketika menunggu pesan yang tak kunjung datang dan menyusut ketika kebahagiaan terasa terlalu singkat. Di titik inilah filsafat waktu menemukan relevansinya yang paling manusiawi. Bukan di ruang kuliah, melainkan di dada orang-orang yang pernah mencinta dan kehilangan.
Agustinus dalam Confessiones, pernah bertanya dengan jujur sekaligus getir: “Apakah itu waktu? Jika tak ada yang bertanya, aku tahu. Jika aku harus menjelaskannya, aku tidak tahu.” Pernyataan ini terasa amat akrab bagi siapa pun yang mencoba menjelaskan rasa kehilangan. Kita tahu persis apa yang kita rasakan, tetapi gagal memberi bahasa yang memadai. Kehilangan selalu terasa seperti waktu yang patah. Masa lalu terasa terlalu hidup, masa kini terasa kosong, dan masa depan tampak asing.
Dalam kerangka Agustinus, waktu tidak berada di luar diri manusia, melainkan di dalam kesadaran. Masa lalu hadir sebagai ingatan, masa depan sebagai harapan, dan masa kini sebagai perhatian. Cinta bekerja persis dalam tiga lapis itu. Kita mencintai karena kenangan, kita bertahan karena harapan, dan kita hidup karena perhatian yang kita curahkan hari ini. Ketika kehilangan terjadi, maka tiga lapisan ini runtuh sekaligus. Ingatan menjadi beban, harapan berubah menjadi kecemasan, dan masa kini terasa tak berisi.
Baca juga:
Penelitian psikologi kognitif hingga 2025 menunjukkan bahwa pengalaman emosional yang intens, terutama cinta dan duka, memang mengubah persepsi subjektif manusia tentang waktu. Studi lintas negara yang dipublikasikan dalam Nature Human Behaviour (2024–2025) mencatat bahwa individu yang mengalami kehilangan signifikan cenderung merasakan “time dilation”, yakni kesan bahwa waktu berjalan lebih lambat dalam fase berduka. Sebaliknya, fase awal jatuh cinta justru sering memunculkan ilusi bahwa waktu bergerak lebih cepat. Data ini menguatkan apa yang sejak lama dikatakan para filsuf, jikalau waktu bukan hanya kronologi, melainkan pengalaman batin.
Henri Bergson menyebutnya durée, durasi hidup yang tidak bisa direduksi menjadi detik, menit, atau tahun. Dalam cinta, durasi ini terasa sangat nyata. Dua orang bisa bersama bertahun-tahun tetapi terasa hampa, sementara kebersamaan singkat bisa membekas seumur hidup. Kehilangan, dalam pandangan Bergson tak sekadar berakhirnya relasi, melainkan terputusnya durasi yang sedang berlangsung. Itulah sebabnya kehilangan sering terasa tidak proporsional dengan lamanya hubungan. Sebab yang hilang bukan jumlah waktunya, tetapi kualitas durasinya.
Di era media sosial, persoalan waktu dalam cinta dan kehilangan menjadi semakin kompleks. Algoritma bekerja dengan logika kehadiran abadi. Foto lama bisa muncul kembali sebagai “kenangan”, pesan lama bisa terbaca ulang, dan jejak digital membuat masa lalu menolak sepenuhnya pergi. Data laporan Digital Wellbeing Report 2025 menunjukkan peningkatan signifikan gangguan pemulihan emosional pasca-putus hubungan, terutama karena paparan ulang memori digital. Waktu yang seharusnya menyembuhkan justru terganggu oleh arsip yang terus hidup.
Pada titik tersebut Martin Heidegger terasa relevan. Dalam Being and Time, ia menekankan bahwa manusia adalah makhluk yang mengada secara temporal. Kita bukan hanya berada dalam waktu, tetapi dibentuk olehnya. Cinta, dalam perspektif Heideggerian adalah proyek eksistensial. Kita memilih seseorang sebagai bagian dari masa depan kita. Kehilangan, karenanya, bukan hanya kehilangan orang, tetapi runtuhnya kemungkinan-kemungkinan yang pernah kita proyeksikan bersama. Itulah mengapa kehilangan sering disertai rasa cemas yang tidak selalu rasional. Kita tidak hanya meratapi yang telah pergi, tetapi juga masa depan yang tak pernah terjadi. Waktu, yang sebelumnya terbuka tiba-tiba terasa tertutup. Dalam bahasa Heidegger, kita dipaksa berhadapan kembali dengan kefanaan, dengan fakta bahwa semua kemungkinan selalu bersifat sementara.
Namun modernitas sering menawarkan solusi yang keliru. Kehilangan disarankan untuk “segera move on”, cinta didorong untuk “cepat pasti”. Semua seolah harus efisien, termasuk perasaan. Padahal filsafat waktu justru mengajarkan kesabaran eksistensial. Friedrich Nietzsche dengan gagasan eternal recurrence, menantang manusia untuk mencintai hidupnya sedemikian rupa sehingga ia bersedia mengulanginya tanpa penyesalan. Dalam ranah cinta dan kehilangan pertanyaannya menjadi tajam, “apakah kita sungguh hadir dalam cinta, atau sekadar melewatinya sambil lalu?”
Baca juga:
Cinta yang tidak dihadiri sepenuhnya sering kali melahirkan kehilangan yang berkepanjangan. Bukan karena perpisahannya, melainkan karena penyesalan atas waktu yang tidak sungguh dijalani. Nietzsche mengingatkan bahwa waktu tidak bisa dinegosiasikan ulang. Ia hanya bisa dihayati atau disia-siakan. Menariknya, survei global World Values Survey Wave 8 mencatat meningkatnya kecenderungan relasi jangka pendek, tetapi juga meningkatnya kecemasan eksistensial setelah hubungan berakhir. Ini paradoks. Waktu relasi semakin singkat, tetapi luka emosional justru semakin panjang. Filsafat waktu membantu kita membaca paradoks ini. Ketika relasi diperlakukan sebagai fragmen, kehilangan akan kehilangan konteksnya dan manusia kehilangan narasi untuk memulihkan diri.
Paul Ricoeur menawarkan jalan tengah melalui konsep narasi waktu. Manusia, baginya, memahami waktu melalui cerita. Cinta menjadi cerita tentang kebersamaan, kehilangan menjadi cerita tentang perubahan. Hal yang berbahaya bukan kehilangan itu sendiri, melainkan kegagalan menarasikannya. Ketika kehilangan tidak diberi makna, waktu berhenti menjadi guru dan berubah menjadi penjara. Dalam kehidupan sehari-hari kita sering mendengar kalimat, “waktu akan menyembuhkan.” Kalimat ini separuh benar, separuh menipu. Waktu tidak menyembuhkan dengan sendirinya. Ia hanya menyediakan ruang, yang menyembuhkan adalah bagaimana kita hidup di dalam ruang itu. Apakah kita membiarkan waktu berlalu tanpa refleksi, atau kita memaknainya sebagai proses menjadi.
Cinta dan kehilangan, pada akhirnya bukan dua kutub yang sepenuhnya berlawanan. Keduanya adalah dua wajah dari pengalaman temporal manusia. Kita mencintai karena sadar waktu terbatas. Kita kehilangan karena waktu tidak bisa dihentikan. Di antara keduanya manusia belajar tentang dirinya sendiri. Filsafat waktu tidak menawarkan resep agar cinta abadi atau kehilangan tak menyakitkan. Ia hanya memberi kita satu kebijaksanaan mendasar: bahwa hidup bukan soal mengalahkan waktu, melainkan berdamai dengannya. Dalam cinta kita belajar hadir, dalam kehilangan kita belajar melepaskan, pun dalam waktu kita belajar menjadi manusia, sepenuhnya, dengan segala rapuh dan harapannya.
Hemat saya, mungkin itulah satu-satunya penghiburan yang jujur. Bahwa waktu memang akan terus berjalan, tetapi makna yang kita berikan padanya tidak pernah sepenuhnya hilang. Ia tinggal, diam-diam dalam ingatan, dalam cerita dan dalam cara kita mencintai lagi dengan kesadaran baru bahwa setiap detik selalu berharga, justru karena ia tidak akan kembali. (*)
Editor: Kukuh Basuki
