Eksistensi bersifat opsional

Di Rumah Kami dan Puisi Lainnya

Sofia Mahdi

1 min read

Saat Aku Mengikatkan Rambutku

saat aku mengikatkan rambutku
tentang panjangnya yang dulu 
lepas dari ibu
ia bergetar
seperti senja di kaca jendela

aku menyisirnya pelan
dan bayangan lama terbuka
di antara helaian
yang jatuh ke bahu

setiap helai menahan cerita:
tangan yang tak pernah singgah
di ubun-ubun
kata-kata yang berhenti
di tenggorokan
sebagai doa
yang tak menemukan alamat

aku mengingatkan rambutku
bahwa ia pernah basah oleh hujan
menempel pada wajah yang menangis
dan meski tumbuh kembali
ia menyimpan jejak
hari-hari yang tak sempat diberi nama

saat kututup cermin
rambutku tetap diam
menggantung
seolah dunia ditahan
oleh sesuatu yang rapuh
dan aku belajar
berdamai
dengan masa lalu
yang memilih tinggal
di tubuh sendiri

Di Rumah Kami

di rumah kami
sayang berarti suara ibu
yang menyebut namaku
sambil mematikan lampu
lebih cepat dari gelap

di rumahmu
sayang adalah kata
yang tak selesai diucapkan
terlipat di dompet ayah
bersama struk belanja
dan foto lama

aku pernah berkunjung
ke rumah yang membagi sayang
dengan menyisakan ayam
di piring anak pertama
dan diam 
untuk yang lain

ada pula rumah
yang mengirim pesan singkat
sudah makan belum?
lalu membiarkan malam
menjawab sisanya

sayang jarang tumbuh
di tempat yang sibuk
merapikan sebutan keluarga

maka orang-orang menuliskannya
di kartu, lagu, dan cangkir
agar dari luar 
rumah tetap tampak
utuh

Ia Menata Papan Tulisnya Kembali

ia menata papan tulis
dengan kapur patah
di sela jari

kata-kata disusun rapi
bukan karena penting
melainkan karena
tak pernah dipanggil

pertanyaan jatuh satusatu
di lantai kelas
seperti debu

jika kau bertemu dengannya
jangan tanya 
mengapa matanya redup
seperti kursi kayu
di baris belakang
yang menahan tubuh
tanpa pernah bersuara

di belakangnya
jam berhenti
di antara rapat, target, dan absen

tangan yang dulu mengajar
kini hanya tahu
cara menahan
amarah
dan senyum
yang disepakati

Ampuni Kewarasanku Tuhan

kuyakini rak-rak membenci pandanganku
saat tanganku bergerak
lebih cepat
dari pikiranku

ketika lorong itu hening
bisakah kutemukanMu
di antara kaleng sarden
dan roti tawar
atau adakah ruang
untuk berhenti
sejenak
di hadapanMu
yang dibungkus plastik

aku menunduk
pada harga diskon
dan bayanganku memanjang
di lantai toko
seolah malaikat
sedang mencatat
apa saja yang kupilih
dan apa yang kulewatkan

di antara struk
dan promosi
yang saling meniadakan
aku bertanya tanpa suara
adakah cara
menyebut namaMu
tanpa dianggap
ganjil

ampuni kewarasanku Tuhan
aku ingin pulang
dari lorong ini
dengan sedikit
keajaiban

Jam Dinding di Ruang Tamu

jam dinding digantung
sedikit miring
agar detaknya
tak terlalu tegas

setiap sore
ia menelan suara rumah:
piring dibilas setengah hati
kursi digeser tanpa tujuan
nama yang nyaris dipanggil

jarumnya berputar
seperti orang dewasa
yang menunda
segala hal
yang ingin diucapkan

tak ada yang benar-benar rusak
hanya waktu
yang memilih berdiam
di balik kebiasaan

ketika jam itu berhenti
kami tak segera menggantinya—
ada hal-hal
yang lebih mudah dijalani
tanpa terus diingatkan

bahwa ia sedang lewat

*****

Editor: Moch Aldy MA

Sofia Mahdi
Sofia Mahdi Eksistensi bersifat opsional

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email