Saat Aku Mengikatkan Rambutku
saat aku mengikatkan rambutku
tentang panjangnya yang dulu
lepas dari ibu
ia bergetar
seperti senja di kaca jendela
aku menyisirnya pelan
dan bayangan lama terbuka
di antara helaian
yang jatuh ke bahu
setiap helai menahan cerita:
tangan yang tak pernah singgah
di ubun-ubun
kata-kata yang berhenti
di tenggorokan
sebagai doa
yang tak menemukan alamat
aku mengingatkan rambutku
bahwa ia pernah basah oleh hujan
menempel pada wajah yang menangis
dan meski tumbuh kembali
ia menyimpan jejak
hari-hari yang tak sempat diberi nama
saat kututup cermin
rambutku tetap diam
menggantung
seolah dunia ditahan
oleh sesuatu yang rapuh
dan aku belajar
berdamai
dengan masa lalu
yang memilih tinggal
di tubuh sendiri
–
Di Rumah Kami
di rumah kami
sayang berarti suara ibu
yang menyebut namaku
sambil mematikan lampu
lebih cepat dari gelap
di rumahmu
sayang adalah kata
yang tak selesai diucapkan
terlipat di dompet ayah
bersama struk belanja
dan foto lama
aku pernah berkunjung
ke rumah yang membagi sayang
dengan menyisakan ayam
di piring anak pertama
dan diam
untuk yang lain
ada pula rumah
yang mengirim pesan singkat
sudah makan belum?
lalu membiarkan malam
menjawab sisanya
sayang jarang tumbuh
di tempat yang sibuk
merapikan sebutan keluarga
maka orang-orang menuliskannya
di kartu, lagu, dan cangkir
agar dari luar
rumah tetap tampak
utuh
–
Ia Menata Papan Tulisnya Kembali
ia menata papan tulis
dengan kapur patah
di sela jari
kata-kata disusun rapi
bukan karena penting
melainkan karena
tak pernah dipanggil
pertanyaan jatuh satusatu
di lantai kelas
seperti debu
jika kau bertemu dengannya
jangan tanya
mengapa matanya redup
seperti kursi kayu
di baris belakang
yang menahan tubuh
tanpa pernah bersuara
di belakangnya
jam berhenti
di antara rapat, target, dan absen
tangan yang dulu mengajar
kini hanya tahu
cara menahan
amarah
dan senyum
yang disepakati
–
Ampuni Kewarasanku Tuhan
kuyakini rak-rak membenci pandanganku
saat tanganku bergerak
lebih cepat
dari pikiranku
ketika lorong itu hening
bisakah kutemukanMu
di antara kaleng sarden
dan roti tawar
atau adakah ruang
untuk berhenti
sejenak
di hadapanMu
yang dibungkus plastik
aku menunduk
pada harga diskon
dan bayanganku memanjang
di lantai toko
seolah malaikat
sedang mencatat
apa saja yang kupilih
dan apa yang kulewatkan
di antara struk
dan promosi
yang saling meniadakan
aku bertanya tanpa suara
adakah cara
menyebut namaMu
tanpa dianggap
ganjil
ampuni kewarasanku Tuhan
aku ingin pulang
dari lorong ini
dengan sedikit
keajaiban
–
Jam Dinding di Ruang Tamu
jam dinding digantung
sedikit miring
agar detaknya
tak terlalu tegas
setiap sore
ia menelan suara rumah:
piring dibilas setengah hati
kursi digeser tanpa tujuan
nama yang nyaris dipanggil
jarumnya berputar
seperti orang dewasa
yang menunda
segala hal
yang ingin diucapkan
tak ada yang benar-benar rusak
hanya waktu
yang memilih berdiam
di balik kebiasaan
ketika jam itu berhenti
kami tak segera menggantinya—
ada hal-hal
yang lebih mudah dijalani
tanpa terus diingatkan
bahwa ia sedang lewat
*****
Editor: Moch Aldy MA
