Pengajar di Kota Madiun Jawa Timur

Ayah Pulang

Kristophorus Divinanto

7 min read

Pernikahan itu memuakkan. Meski sudah kali keenam kurayakan hari ulang tahun pernikahan, kalimat itu selalu kuucapkan dalam hatiku setiap motorku kebagian berhenti di perempatan. Sebuah baliho paket pernikahan tawaran hotel bintang empat di tepi perempatan ini penyebabnya. Rutuk demi rutukku berpacu bersama detik hitung mundur lampu lalu lintas. Mengapa orang memilih untuk peduli dengan seseorang sementara orang yang dipedulikan belum tentu peduli dengan dirinya? Mengapa orang memilih menyayangi seseorang sementara orang yang disayang belum tentu menyayangi dirinya? Mengapa seseorang memilih menumbalkan kebebasannya untuk terikat bersama orang lain dalam frasa klise rumah tangga?

Lantang benar kuucapkan pertanyaan-pertanyaan itu dalam batinku, sebelum lampu merah berganti hijau dan kubawa motorku melaju meninggalkan perempatan sembari berharap sore di keesokan harinya tak kebagian aku berhenti di tempat yang sama.

Dari balik kaca helm, kutatap pendar senja masih sama dengan sore kemarin. Hanya gugus awan dengan bentuk yang berbeda namun tetap indah bersama lembayungnya. Dan tiba-tiba kusesali rutukanku di perempatan tadi soal pernikahan ketika kulihat lingkar sempurna matahari di langit sore. Tentu matahari di langit sore itu tidak ada kaitannya dengan rumah tanggaku dan juga perasaanku. Ada atau tidak ada matahari terbenam, keluargaku tetap membahagiakan meski tak jarang juga kukeluhkan. Istriku, mertuaku, dan anakku di rumah, tetap jadi alasanku berangkat dengan semangat pada fajar dan pulang ketika senja dengan hati-hati.

Kulihat sebuah motor matic menyalipku dengan kencang. Aku tak peduli tentang siapa yang menaikinya, namun aku hafal motor yang menyalip barusan sama dengan motor baru istriku. Rasa jengkel kembali duduk manis pada salah satu sudut kecil hatiku. Aku memang masih dongkol dengan mertuaku yang membelikan anaknya—istriku—sebuah motor baru. Ketika istriku berulang tahun, orang tuanya—mertuaku—memberi kejutan dengan sebuah sepeda motor yang tiba-tiba terparkir di carport rumah pada suatu sore sebelum Senin tiba keesokan harinya. Kuingat betul hari itu langit senja yang bisa kulihat terasa sangat menyebalkan.

Meski tak kuutarakan, namun aku masih merasa tidak seharusnya benda itu ada di rumahku sore itu. Seharusnya motor itu terbeli dari uang di dompetku, bukan dari dompet mertuaku. Memang mereka mengatakan motor itu ada karena bunga-bunga pada pohon durian yang ditanam mertua ludes terjual. Namun sampai hari ini, apapun alasannya mereka membeli motor itu masih kuterjemahkan dengan bahasa yang keliru. Motor matic hitam di carport rumahku terasa mengolok ketidakmampuanku. Sebenarnya aku bisa saja membelikan motor impian istriku. Harganya tah tidak mahal. Memang hanya uang muka dan enam kali pembayaran angsuran uang yang kupunya saat ini, namun setidaknya uang tabunganku bisa dipakai untuk memindahkannya dari diler ke rumahku.

Seharusnya istriku pun tahu perihal mengapa uang di tabunganku masih harus ada di sana. Seharusnya istriku tahu uang tabungan itu perlu dipakai untuk memperbaiki rumah subsidi yang sudah ada saja kerusakannya di tahun pertama, atau sekadar ajeg angkanya di sana untuk memberi rasa tenang di dada. Tapi mau bagaimanapun, motor itu sudah ada di carport rumahku. Dibeli secara kontan, sebuah cara membeli sesuatu yang terasa kian asing untukku. Aku akan melihat motor hitam itu setiap hari. Benda itu juga tidak akan pergi dari sana meski telah kumaki-maki setiap pagi sembari aku mengelapnya sebelum dibawa kerja istriku tiap pagi.

Sejak istriku berangkat dan pulang kerja dengan motor barunya, kini motor yang kunaiki terasa lebih ringan. Motor ini juga bukan motorku, melainkan motor istriku yang ia pakai sejak sekolah dulu. Hanya memang motor ini selalu kupakai semenjak kami menikah. Benda yang kita pakai setiap hari bukan berarti milik kita bukan?

Kami berangkat dan pulang dengan tujuan masing-masing. Ia berangkat lebih awal dan aku pulang lebih larut. Tidak ada lagi tubuh yang menyentuh punggungku. Tidak ada helm yang membentur bagian belakang helmku ketika rem kutarik tiba-tiba. Tidak ada ucapan-ucapan yang tak kudengar jelas suaranya. Tak ada senyum manis yang bisa kulihat dari spion kiri. Kini aku hanya mengobrol dengan diri sendiri dalam perjalanan pulang. Dan mungkin itu yang membuatku lebih sentimen dari sore ke sore.

Kecepatan motor kutambah, kusalip iring-iringan truk gandeng yang sedari tadi membuat sesak dadaku karena asap hitam kendaraannya. Jalanan lengang di depan iringan truk membuatku lekas memacu motor kian kencang. Lembayung kulihat masih sama di langit barat dengan burung layang-layang yang terbang berkelompok entah ke mana. Tidak ada yang pernah tahu berangkat dan pulang semua burung-burung di langit.

Setiap sore hari di perjalanan sepulang kerja, aku sering penasaran soal apa yang burung lihat dari matanya. Apakah lampu-lampu dari warung kaki lima atau bangunan-bangunan tinggi yang mulai dinyalakan? Atau terlihatkah wajah lelahku dari mata burung-burung itu? Lantas dari mana mereka mulai mengepakkan sayapnya, dan ke mana mereka bertengger? Apakah jawabannya sesederhana pepohonan lebat atau kabel-kabel listrik dari tiang ke tiang? Ataukah mereka terbang ke masa lalu? Atau masa depan? Apakah benar-benar manusia bisa mencurangi waktu dengan pergi dan datang ke masa yang lain selain hari ini?

Bruk!

Brengsek! Gara-gara burung layang keparat di langit itu, aku tidak berhasil menghindari lubang pada aspal. Masih saja jalan itu menganga dan makin lebar saja lubangnya. Untung aku berhasil menjaga keseimbangan laju motorku. Kembali kutambah kecepatanku menyusuri jalanan aspal dengan sawah di kiri dan rumah-rumah di kanan. Sepasang mata dari seorang anak kecil menatapku dari arah depan. Anak itu digendong menghadap ke belakang oleh ibunya yang membonceng motor. Kubuka kaca helm dan kulambaikan tangan ke arah anak itu. Anak kecil itu tidak merespon apa-apa namun matanya masih menatapku seperti sedia kala. Apa yang kamu lihat dariku, bocah? Apa yang kamu pikirkan ketika lahir di dunia ini? Apa yang kamu tahu dan aku tidak tahu?

Tiba-tiba aku penasaran dengan usia anak kecil itu. Dari wajahnya, dugaanku ia kurang dari satu tahun usianya. Jika demikian, mungkin ia sama seperti anakku. Atau jangan-jangan seusia dengan anakku? Barangkali ada juga gigi-gigi susu yang mulai bermekaran di mulutnya, sama seperti empat gigi yang telah tumbuh di mulut anakku. Barangkali kedua tangannya mulai meraih benda-benda di sekitarnya untuk tumpu kaki berdiri. Barangkali rangkak-rangkaknya juga mulai seimbang. Barangkali berat badannya juga seret seperti berat badan anakku. Aku hanya menghela nafas dalam, tersadar jika dugaanku barusan sama seperti doa buruk untuk anak orang lain. Semoga berat badanmu naik sesuai grafik pada buku merah muda itu ya, bocah, batinku.

Sudah lama tak kubuka lagi buku merah muda itu. Sakit kepalaku tiap melihat grafik berat badan anakku tiap bulannya. Angkanya naik, tapi tidak pernah signifikan. Kenaikannya selalu ada pada angka dua sampai tiga ons per bulan. Hampir enam bulan lamanya gajiku setiap bulannya selalu berpindah ke rekening toko susu formula. Dari yang harganya murah sampai yang sekaleng lebih dari setengah juta rupiah, belum ada yang berhasil menaikkan berat badan anakku.

Aku risau sebenarnya, namun tak kutunjukkan perasaan itu di depan istriku. Setiap kegelisahan yang terbahasakan dari bibir istriku selalu kucoba redam dengan menjelaskan tawa, rangkak kaki, dan tidur pulas anakku sebagai pertanda-pertanda baiknya. Namun tampaknya di mata istriku, aku jadi terkesan tidak peduli tentang apa demi apa yang terjadi dalam diri anakku. Sepertinya upayaku menenangkan keadaan justru malah jadi kian merisaukan.

Aku melambatkan laju motor tepat di belakang sebuah truk yang membawa tumpukan tebu. Tulisan-tulisan di belakang bak truk tak pernah berhenti membuatku tersenyum getir. Tulisan yang kutemui sore ini juga masih membuatku tersenyum: Pantang Pulang Sebelum Tumbang, Banting Tulang ‘tuk Keluarga Tersayang. Tampaknya tulisan itu baru saja selesai dilukis. Tidak ada gambar apapun di bagian belakang bak truk ini. Hanya tulisan dan helai daun tebu yang bergoyang sebelum beberapa di antaranya jatuh ke jalanan.

Barangkali aku mungkin memang kurang tumbang untuk membuat rumah tanggaku seimbang. Lelahku tampaknya kurang lelah untuk menambah isi rekening. Kepalaku sepertinya kurang pening untuk membuat berat badan anakku naik. Pegalnya tubuhku kurasa kurang pegal untuk memastikan perempuan yang kupilih menjadi istri bisa hidup tanpa rasa pegal-pegal. Aku tak cukup berdarah sehingga istri dan anakku harus ikut merasakan nyeri darah.

Tapi selain diri sendiri, apa lagi yang bisa seorang ayah serahkan kepada dunia untuk mendapat upah?

Sebenarnya istriku berharap ada pekerjaan sampingan yang bisa kulakukan sepulang kerja. Semenjak anakku lahir, penghasilanku setelah bekerja sejak pukul delapan pagi hingga empat sore dianggapnya tak cukup untuk rumah tangga menurut hitungan angka. Aku sendiri sudah tahu hitungan itu jauh sebelum persebutuhan malam itu dilakukan. Pada tiap-tiap doa istriku yang mengucap ingin datangnya anak, selalu kulawan dari dalam doaku meski sampai hari ini istriku tak pernah tahu. Pendapatanku belum bisa menghidupi tiga kepala meski orang-orang selalu berkata rezeki selalu ada. Barangkali Tuhan melihat buruk doaku sehingga tak mengabulkannya dan memilih untuk mengabulkan doa istriku. Kian hari kian membesar perut istriku dan rezeki demi rezeki memang datang. Namun semua rezeki ada lewat istriku dan orang tuanya. Aku tidak pernah merasa ada rezeki berbentuk uang datang melalui aku atau orang-orang di sekitarku. Hanya ada rezekiku dalam rupa gaji bulananku, yang tak bertambah dan tak juga berkurang.

Seharusnya aku bersyukur bukan? Namun nyatanya tak pernah berhasil syukurku terucap barang dalam hati sekalipun. Terasa masih banyak yang harus kubayar dan kubeli. Anakku tak pernah meminta namun aku merasa perlu memberi. Istriku tak pernah menagih namun aku merasa berhutang. Lambat laun perasaan itu membesar hingga kadang muncul umpatku soal pernikahan seperti di lampu merah tadi. Aku kesal karena bisa kutebak sesal istriku memilihku dan sesal anakku lahir dengan ayah semenyedihkan ini.

Kembali kuhela nafas dalam-dalam sebelum kutambah kecepatan motorku untuk menyalip truk tebu di depan dari sebelah kanan. Jalanan aspal berkelok ke arah kanan. Burung-burung layang kembali kulihat terbang berkelompok di langit. Jingga pada langit sore barat masih sempat kulihat ketika suara klakson nyaring dalam ingatan.

Langit tak bergeming dengan warna jingga dengan semburat merah muda dan biru. Burung-burung layang yang berkelompok juga tak bergeming di langit. Matahari masih tetap di langit, tak tenggelam. Sore menjadi abadi tak menggelap. Aku berdiri di depan rumah. Pintu rumahku masih dibuka seperti biasa. Kulihat layar televisi menyala dengan acara serial kesukaan istriku. Tapi istriku duduk di sofa sambil main handphone seperti biasanya. Masih kuingat televisi itu juga kumiliki bukan dari tabunganku atau gajiku, tapi dibelikan mertuaku.

Mertuaku ke luar dari dapur sambil menggendong anakku. Sebuah celemek plastik telah melingkar di leher anakku. Ia hendak makan dengan disuapi neneknya—mertuaku. Istriku belum cukup sabar meladeni anakku yang kata dokter di sosial media tengah melakukan Gerakan Tutup Mulut. Aku sendiri juga tidak sabar dan lebih sering memarahi anakku meski amarah itu tak menghasilkan apa-apa. Anakku tetap mengulum makanannya, berat badannya tetap ada di angka yang sama, dan tawanya untukku, untuk istriku tetap sama cerianya.

Maafkan ayah, Nak. Ayah baru tahu semua maksudmu. Ayah baru mengerti tentang maksud tangismu, rewelmu, dan tatap matamu.

“Yah… Yah,” ucap anakku sambil menatapku di halaman rumah.

Tangan anakku melambai-lambai pelan. Aku membalas lambaiannnya.

“Mana Ayah? Ayah belum pulang,” kata mertuaku sambil membetulkan gendongan jariknya.

“Sebentar lagi ayah pulang. Tunggu Ayah pulang sambil makan ya,” kata istriku yang hanya bisa kudengar suaranya dari dalam rumah.

Anakku tersenyum menatapku di halaman rumah namun lambat laun kulihat rasa takut pada matanya. Senyumnya mengendur dan kini ia menjerit tangis histeris. Mertuaku sampai kelimpungan. Istriku terlihat beranjak dari sofa dan berusaha ikut mencoba menenangkan. Namun tak juga tangis anakku mereda. Istri dan mertuaku sama-sama kebingungan dengan tangis anakku yang tiba-tiba. Dalam tangisnya, aku merasa anakku melihatku yang masih saja berdiri di halaman rumah. Pintu rumah ditutup seiring dengan suara azan dan kudengar anakku masih histeris. Istri dan mertuaku masih sama-sama berusaha menenangkan.

Sebentar lagi sebuah panggilan akan masuk ke handphone-mu, istriku. Memang tidak langsung kamu angkat karena nomor itu tak tersimpan di daftar kontakmu. Namun kamu akan mengangkatnya setelah orang itu mengirimi pasfotomu dengan noda darah sembari menulis pesan: Apakah ini Anda? Tolong angkat panggilan saya karena orang yang Anda kenal mengalami kecelakaan. Panggilan itu dari seseorang yang menemukan pasfotomu yang kusimpan dalam tas dengan nomor kontakmu di lembar sebaliknya. Handphone-ku sudah tidak bisa berfungsi karena benturan keras.

Orang itu akan memberimu kabar tentang aku yang terhantam sebuah minibus ketika berusaha menyalip sebuah truk bermuatan tebu di kelokan jalan. Sementara tubuhku yang tak lagi bernyawa dan utuh, bersimbah darah terkapar pada tepi jalan beralas daun pisang menunggu ambulans datang. Motormu ringsek dan akan dibawa ke kantor polisi. Untunglah orang tuamu sudah membelikan motor yang baru.

(Maospati, 2 November 2026)

*****

Editor: Moch Aldy MA

Kristophorus Divinanto
Kristophorus Divinanto Pengajar di Kota Madiun Jawa Timur

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email