Writer of stories, essays, thoughts, and daydreams.

Suatu Borok yang Menjejal Bintang

Bella Paring Gusti

4 min read

Di ujung jalan, perempuan itu menghitung bintang. Selalu tiap malam, di waktu yang sama, dan di tempat yang sama pula. Kadang ia mencatat hasil jumlahnya ke telapak tangan, lantas sisanya ia pendam pelan-pelan di gaung benaknya selagi melangkah pulang.

Namun, tak jarang hitungan yang disimpan erat dalam otaknya bergeser dengan hal-hal yang ia temui di jalan. Ingatannya lekas bertumpang-tindih seiring netranya menyaksikan seorang gelandangan masih menyisir jalan, atau anak jalanan yang tampak kuyu giat menggenjreng gitar bobrok maupun mengayunkan kerincingan sambil hinggap dari mobil ke mobil, seperti malam ini.

Satu hal lagi yang dilakukan perempuan itu secara rutin ialah berkunjung ke toko mainan. Biasanya tiap sore, sebelum menghitung bintang-gemintang, ia mampir lebih dulu ke salah satu toko mainan besar yang letaknya di pusat kota. Ia selalu berdiri termenung di depan rak yang sama, meski terkadang berkeliling toko juga dengan kedua tangan terbondong di balik tubuhnya yang melengkung dalam, persis laiknya manula yang tengah jalan-jalan.

Perempuan itu tak mengingat kapan awal mula ia melakukan dua kebiasaan tersebut. Tetapi, peristiwa yang memicu, khusus satu hal itu, selalu ia ingat sampai mati. Bahkan terperinci hingga bagaimana kejadian itu mengilukan tengkorak sekaligus menyembelih dadanya dulu.

Para pegawai toko mainan pun mana ingat persis sejak kapan perempuan itu mulai menapakkan kakinya di sini. Apalagi mereka sudah berganti-ganti generasi. Dari mulanya mereka bertanya-tanya, mengasihani, sampai mencoba mendatangi dan melayani seperti halnya terhadap pembeli lain. Namun, satu per satu pegawai tersebut hanya menggeleng pasrah begitu berbalik badan. Cerita dari mulut ke mulut akhirnya melahirkan generasi yang memaklumi perempuan itu berada di sini; menganggap bahwa ia adalah salah satu famili toko yang tak perlu diajak bicara lagi.

Ada kalanya sebagian besar konsumen mempertanyakan soal asal-usul si perempuan bungkuk. Para pegawai yang kebetulan sedang jaga tak berdaya untuk tidak menggelengkan kepala dan melengkungkan bibirnya. Sampai detik ini, karyawan toko mainan yang bercat merah muda itu tak tahu-menahu perihal nama yang tersemat dalam diri si perempuan penghitung bintang.

Nah, persis sekarang ini, kamu masih memaku di balik rak, sama seperti sebelum-sebelumnya dengan tubuh tegang. Matamu yang berkantung itu masih mengawasi satu benda yang sama: boneka beruang krem kecil yang sedang membawa hati merah bertuliskan: “I love you”. Pandanganmu pun masih saja kosong, seolah tengah mengunjungi tempat yang jauh.

Pernah suatu kali aku mencoba menyuruh salah satu pegawai untuk mengganti boneka itu dengan boneka beruang krem kecil yang baru. Namun, rupanya kamu tak sekadar sadar, tetapi menghafal bagaimana noda samar terpeta di dada sebelah kiri boneka tersebut, atau bagaimana jahitan di hatinya sedikit renggang, atau letak mata yang tak presisi di sana. Malahan kamu menyukai warna pudar bulu sintetis di area kepala beruang, tanda boneka itu telah merana dimamah usia.

Tepat lima menit sebelum toko ditutup, si perempuan bungkuk mulai bergeser langkah dan melenggang pergi. Ia pun melakukannya persis setiap hari, di jam dan detik yang akurat walau tak memeriksa jam sama sekali. Aku mengangguk singkat dan mengulum senyum ramah ke arah pegawai yang tengah berberes untuk pulang; berterima kasih karena sudah mengizinkan hal sama senantiasa berulang dalam tiga ratus enam puluh lima hari terakhir.

Perempuan itu kembali menjejakkan langkah di jalur yang membawa tubuhnya tadi. Beberapa kali ia sempat berhenti sesaat demi menonton lakon orang yang baginya mungkin sudah seperti pertunjukan seni kehidupan. Bukannya tak nyaman lagi, orang-orang sudah hafal mengenai tindak-tanduk si perempuan bungkuk, ihwal kebiasaannya yang selalu melalui jalan ini setiap hari sehingga mereka hanya menganggapnya sebagai angin lalu saja.

Meski langkahnya sering terhenti oleh segala sesuatu yang menyedot perhatiannya—utamanya menghitung bintang—ia tetap memasuki sebuah permukiman kecil di sisi kiri, berbelok ke tikungan kedua sampai melewati pos satpam di mana para pemuda saling bertukas kisah, lantas menuju halaman sebuah rumah di kanan tubuhnya.

“Selamat sore, Bu. Kira-kira ada yang bisa saya bantu? Apa Ibu ingin membeli boneka itu?”

Mendadak suara lembut perempuan muda dari masa lalu menyengat kepalaku sewaktu mengikuti punggung perempuan bungkuk yang sekarang tengah membuka pintu rumahnya untuk kemudian merasuk ke dalam. Namun, wajah yang digayuti senyum muram itu terus membayang, lekas menindih tampang perempuan muda tadi.

Kamu menggeleng pelan menanggapi pertanyaan salah seorang pelayan yang sengaja kusuruh untuk menghadapimu, sementara aku, si pengecut ini sedang bersembunyi di balik rak lain sambil terus mengawasi.

“Tidak. Saya tidak ingin memilikinya. Biar boneka itu ada di rak displai dan tetap menjadi boneka baru. Karena jika sudah dimiliki, akan tiba waktunya dia akan kusam dan dicampakkan oleh pemiliknya.”

“Oh, saya rasa tidak akan seperti itu jika Ibu yang membelinya. Saya yakin Ibu akan menyayanginya dengan sepenuh hati mengingat pengorbanan Anda setiap hari ke mari hanya untuk melihatnya.”

Sekonyong-konyong tatapan menusuk kamu arahkan kepada si pelayan sehingga perempuan muda itu mundur selangkah.

“Saya tidak punya anak, Mbak,” tekanmu setajam pisau. “Tentu, kalau punya anak, saya akan membelinya. Saya jamin anak dan keluarga saya tidak akan mencampakkan boneka itu sebab saya tahu rasanya menjadi boneka!”

Desau angin yang kencang mula-mula mengantarai kalian berdua, menyergap dingin kepalaku, hingga akhirnya aku terpelanting kembali ke masa kini. Tahu-tahu pintu yang ada di hadapanku nyaris tertutup jika saja aku tak gesit menangkap kenop pintu. Kamu memandangku acuh tak acuh dan meninggalkanku begitu saja tanpa suara.

Aku tak patah arang membuntutimu sampai kamu berderap menuju sebuah kamar tanpa pintu dan terduduk di sana dengan mata mengitari seluruh ruang yang didominasi cat warna merah muda. Hatiku kembali rontok. Lagi-lagi helaan napas panjang keluar dari mulut ini.

“Sudah dua puluh tahun berlalu. Apa kamu tidak capek?”

Kamu yang tampak cowong melirikku tanpa menoleh. “Aku tidak akan berhenti mencatat jumlah bintang-bintang, sampai bulan di langit ada dua.”

Senyum nanar menyembur dari bibirku. Betapa keras kepalanya si perempuan bungkuk ini. “Ayo, kita sudahi semuanya. Mari mengecat ulang kamar ini, dan memulai kehidupan kita dari awal,” aku menyarankan.

Kali ini kamu menoleh, dengan sorot mata seakan ingin mengulitiku hidup-hidup. “Kamu jangan gila! Kamu pikir kamu bisa melupakan Parahita, anak kita?!” tukasmu sengit. Bahkan aku dapat menyaksikan kedutan di sekitar rahangmu.

Aku berusaha memanjangkan sabar di dada dan tidak sampai hati mengatakan bahwa dirinyalah yang gila karena tetap memelihara kebiasaan ganjilnya tiap malam, sebab si perempuan bungkuk tersebut yakin jika Parahita menjadi salah satu bintang di belantara langit.

“Mari melupakan kejadian yang lalu, Sayang. Parahita tetap tumbuh di antara kita. Lupakan semua omongan orang-orang.” Bagaimanapun, aku tetap getol membujuk istriku yang telah layu sejak peristiwa itu.

“Enak saja! Aku tidak bakal lupa dengan ibumu yang buat aku keguguran, Mas! Gara-gara jamu tetek bengek keparat itu! Terus, ibumu malah main lempar salahnya kepadaku!”

“Husss! Ibu sudah meninggal, Tin. Sudah saatnya kamu juga memaafkan kesalahan Ibu kemarin!”

Lalu, aku menangkap embun menyungkup kedua matamu, dan perlahan cairlah kebekuan yang selama ini kamu simpan diam-diam.

“Apa perempuan itu pernah meminta maaf kepadaku, Mas? Kenapa sampai detik ini kamu masih juga membela ibumu sampai menyuruhku tetap tunduk dan memaafkan semua dosanya meski dia tidak pernah sadar akan kesalahannya?!”

Mendadak kepalaku ngilu seperti dirambati arus listrik bertegangan rendah. Ucapannya bagai cemeti yang mencambuk luka menganga. Padahal aku sedang tidak ingin bertarik urat dengannya. Bukankah sebagai menantu, ia memang harus tetap berbakti kepada ibu mertua selayaknya ibu sendiri?

Aku langsung mencekal tangan si perempuan bungkuk, dan menyeretnya ke suatu ruang yang terletak paling belakang. Telingaku bahkan sudah tuli tatkala ia menggelinjang, memohon-mohon kepadaku untuk tak membawanya ke sana, meski bertambah deras buyar air mata itu. Cukup, tak kubiarkan pemberontakannya jadi menghina sosok ibu yang sudah mengusahakan segalanya demi hidupku!

Dengan gigih kupasang pasung untuk tangan dan kakimu, membungkammu dari keluyuran tiap malam demi mencatat jumlah bintang sepele itu. Pegawai toko mainan merah muda pun tak akan repot-repot mengasihani sosok perempuan bungkuk lagi. Sayangnya, kali ini kamu benar, Tin. Sebuah boneka yang telah dimiliki akan tercampak pada masanya.

*****

Editor: Moch Aldy MA

Bella Paring Gusti
Bella Paring Gusti Writer of stories, essays, thoughts, and daydreams.

Gibah

Katarina Retno Triwidayati Katarina Retno Triwidayati
3 min read

330 Hari Bersama Renan

Fitri Rusandi Fitri Rusandi
11 min read

Sur-el dari Tuhan

Hidayatul Ulum Hidayatul Ulum
6 min read

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email