Bayangan Sebuah Tahun dan Puisi Lainnya

Ahmad Rizki

3 min read

bayangan sebuah tahun

siapa yang memundurkan jam, katamu
pagi tersangkut
pada paku di belakang pintu
dan, seekor lalat tidur
di dalam gelas teh semalam

matahari lupa jalan pulang
dan seseorang masih duduk di teras
bersama bau mangga busuk
dan tagihan listrik tahun lalu

dari akar pohon mangga
terdengar suara seseorang
mengaduk tahun yang mati

kursi rotan menghadap jendela
dan duduk beberapa
debu, beberapa menit setiap kedipan

angin membuka kalender
hari rontok ke selokan
seekor burung mematuki angka
jam dinding batuk

dari speaker masjid
azan keluar terlambat, membawa
yang pecah

aku memungut tubuhku
dari benda yang tertinggal
di foto keluarga
yang perlahan berubah
menjadi warna coklat

waktu mengetuk kayu
dari kejauhan, mula-mula
seperti tukang memperbaiki atap

lalu seperti orang
yang sedang membuat nisan
dan suara tumbuh dari dalam dada

aku tidak melihat siapa-siapa
kecuali halaman rumah
yang semakin penuh
pohon mangga, yang
terus menjatuhkan jemuran
basah; tempat pakaian ibu
masih bergoyang
dan angin
sudah bertahun-tahun mati
menjelang senja

awan terbalik di dalam ember
cucian, awan mengendap
di dasar air, dan seekor semut
menyeberangi bulan: aku
menggali halaman
untuk mencari, dan
tanah mengeluarkan
pecahan jam
dan denting
paku berkarat
karena nama—aku
terus menggali

di kejauhan
seseorang masih memaku
sesuatu yang singkat
setiap ketukan
memundurkan tahun.

dan menghilangkan wajah, lalu
sunyi

di bawah tanah
daun-daun bergesekan
dengan gelap

sesuatu akan tumbuh
dan yang sedang belajar
menjadi kuburan

seekor burung kecil
masih mencoba
mengangkat matahari
yang jatuh
ke dalam tahun

siapa yang memundurkan jam, katamu
pagi tersangkut
pada paku di belakang pintu

dan, seekor lalat tidur
di dalam gelas teh semalam

(Tangerang, 2022)

bingung
—buat Sekar

‎sebelum kita pulang dan hancur lebur
‎beberapa rincian menyelinap dari tidur:
‎kuitansi yang basah oleh tawa
‎sendok aluminium di kiri wastafel
‎dan selembar dendam yang terselip
‎di antara tagihan listrik dan ngantuk.

‎kesunyian belum datang malam itu.

‎tubuh menggantungkan hidupnya
‎pada tonase truk di jalanan
‎pada napas pelacur yang
‎mengembun di kaca warung
‎sementara bibir remajamu
‎menguliti kota dari wajahku.

‎dari sepi yang kuhijrahkan
‎berderet zikir kebingungan
‎semacam gerbong tua
‎yang kehilangan daya-upaya.

‎tiada yang sanggup bersaksi.
‎aku kalah.
‎bagaimana nasib dua bayangan
‎yang lama saling mengenakan tubuh?

‎ding. dong. ding. dong.

‎lonceng itu berbunyi dari kepala.
‎tumbuh dari tengkorak psikoanalisku
‎yang tertidur di sepanjang trotoar Jakarta.

‎dari pelipisnya meleleh abu kecil
‎yang nempel d tas sekolah bocah SMA.

‎sementara mata kanak-kanak yang lugu
‎menyimpan perang yang belum
‎diberitakan.

‎nyeri bertebaran
‎seperti patahan cahaya

‎menancap pada bahuku
‎pada rusukku
‎pada bahasa yang gagal mengucapkanmu:
‎aku kalah.
‎apa setelah segala reruntuhan
‎masih tersedia sedikit jiwaku
‎di dalam kedua tanganmu?

‎satu. tiga. sembilan.
‎angka-angka itu berjatuhan dari awan
‎dan malaikat kehilangan alamat.

‎ah, setelah yang tersisa
‎tinggal separuh kesia-siaan
‎aku berjalan melewati

‎lorong diriku sendiri:
‎celana sobek
‎spion retak
‎topi yang menggantung
‎di kepala remaja.

‎di sana kutemukan wajahku
‎mengunyah roti, mengeras.

‎neraka ternyata bukan api.
‎neraka adalah pintu yang terbuka
‎dan aku gagal menutupnya.

‎neraka adalah mengingatmu
‎dan tanpa menjadi siapa pun.

‎setelah itu aku berziarah
‎mencari tanahnya, dan
‎segala yang musnah
‎diam-diam masih menyimpan
‎keinginan untuk pulang.

‎sebelum kita pulang dan hancur lebur
‎beberapa rincian menyelinap dari tidur:
‎puluhan metafora melarikan
‎diri dari surga puisi.

‎(2026)

disebabkan sebuah nama
: kepada svr

di kali pesanggrahan
cinta menjelma
bahasa yang kehilangan
arah pulang

tetapi tiap kudengar namamu, makin
ingin kubayar utang cahaya
yang tertinggal di antara sampah
dan terbawa udara kota

negara atau swasta di dalam kepala
adalah sepasang kekasih
yang tidur di bawah jembatan
sambil menghitung umur banjir

meski nenek moyang mengutuk suara
dari dasar panci dan sumur tua

pikiran sebatas bau sampah
yang berputar di permukaan air
penuh berita dan plastik
tetapi mudah dibeli taktik

di antara aliran kali yang pelan
aku mendengar azan subuh
dan suara mesin pompa
yang menyedot mimpi anak-anak
ke dalam perut kota

aku termangu di pinggirannya
sambil menggumamkan:
irisan cinta mengental
pada sebuah nama
di kali pesanggrahan
cinta berwujud
bulan yang hanyut
bersama sampah rumah tangga

tetapi metafora seperti ikan kecil
berenang di sekitar limbah
mencari keluarganya yang hilang
dibunuh zat kimia
yang tak pernah masuk kitab sejarah

beberapa mimpi tertindih lirih
di tepian kali itu, dan berkata:
tebu dan gula hanya cerita
kecuali nama
masih melahirkan makna

di kali pesanggrahan
cinta menjelma
bahasa yang kehilangan
arah pulang

tetapi tiap kudengar ceritamu
makin ingin kususuri
jejak air yang menghafal
segala yang dibuang manusia

dari nama menuju makna
bulan berhenti mencuci wajahnya

langit menggantung
seperti pakaian kerja yang basah

air mengalir tanpa keluh kesah
tetapi nama tak hentinya berzikir

mencari harapan dan putus asa
yang dilahirkan kota
dilahirkan sejarah
dilahirkan makna

di kali pesanggrahan
cinta menjelma
bahasa yang kehilangan
arah pulang

tetapi tiap kudengar namamu
ingin kubayar harapan
dan putus asa
yang melahirkan nama
dan makna

dari seluruh benda
yang hanyut bersama air

(2026)

sepanjang jalan

‎sepertujuh minor pentatonik
‎memucatkan udara jakarta.

‎lampu-lampu neon bergoyang
‎dan bulan menjejalkan dua jarinya
ke tenggorokannya sendiri.

‎betapa gagah ia.

‎ia memuntahkan
‎asap espresso
‎struk belanja
‎air mata kehilangan bau
‎dan jelaga
‎di bulu mata kota.

‎ia tak pernah tidur
‎hanya letih, dan
‎di balik kaca:
‎sepasang kekasih, dua
‎cangkir espresso, setengah
‎meja kayu, empat tangan
uap kopi—cukup.

‎di trotoar, seorang pria
‎menghitung receh
seperti menghitung bintang
‎yang jatuh ke got.

‎mesin espresso mendesis
‎gelas-gelas beradu
‎dari speaker menjerit:
isn’t she lovely
‎isn’t she wonderful
‎isn’t she precious
‎less than one minute old.

‎seperlima mayor dorian
‎menyayat jakarta
‎dan dari trotoar
‎seorang pria memantulkan
‎kesendirian.

isn’t she precious, jelas speaker itu
‎dan bintang menggerakkan pisau
‎tipisnya ke leher malam.

less than one minute
‎old, jerit terakhir speaker itu
‎sementara jakarta
‎membuka pintunya
‎dan kehidupan
‎seperti biasa, mulai
‎menagih janji.

‎(2026)

*****

Editor: Moch Aldy MA

Ahmad Rizki

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email