bayangan sebuah tahun
siapa yang memundurkan jam, katamu
pagi tersangkut
pada paku di belakang pintu
dan, seekor lalat tidur
di dalam gelas teh semalam
matahari lupa jalan pulang
dan seseorang masih duduk di teras
bersama bau mangga busuk
dan tagihan listrik tahun lalu
dari akar pohon mangga
terdengar suara seseorang
mengaduk tahun yang mati
kursi rotan menghadap jendela
dan duduk beberapa
debu, beberapa menit setiap kedipan
angin membuka kalender
hari rontok ke selokan
seekor burung mematuki angka
jam dinding batuk
dari speaker masjid
azan keluar terlambat, membawa
yang pecah
aku memungut tubuhku
dari benda yang tertinggal
di foto keluarga
yang perlahan berubah
menjadi warna coklat
waktu mengetuk kayu
dari kejauhan, mula-mula
seperti tukang memperbaiki atap
lalu seperti orang
yang sedang membuat nisan
dan suara tumbuh dari dalam dada
aku tidak melihat siapa-siapa
kecuali halaman rumah
yang semakin penuh
pohon mangga, yang
terus menjatuhkan jemuran
basah; tempat pakaian ibu
masih bergoyang
dan angin
sudah bertahun-tahun mati
menjelang senja
awan terbalik di dalam ember
cucian, awan mengendap
di dasar air, dan seekor semut
menyeberangi bulan: aku
menggali halaman
untuk mencari, dan
tanah mengeluarkan
pecahan jam
dan denting
paku berkarat
karena nama—aku
terus menggali
di kejauhan
seseorang masih memaku
sesuatu yang singkat
setiap ketukan
memundurkan tahun.
dan menghilangkan wajah, lalu
sunyi
di bawah tanah
daun-daun bergesekan
dengan gelap
sesuatu akan tumbuh
dan yang sedang belajar
menjadi kuburan
seekor burung kecil
masih mencoba
mengangkat matahari
yang jatuh
ke dalam tahun
siapa yang memundurkan jam, katamu
pagi tersangkut
pada paku di belakang pintu
dan, seekor lalat tidur
di dalam gelas teh semalam
(Tangerang, 2022)
–
bingung
—buat Sekar
sebelum kita pulang dan hancur lebur
beberapa rincian menyelinap dari tidur:
kuitansi yang basah oleh tawa
sendok aluminium di kiri wastafel
dan selembar dendam yang terselip
di antara tagihan listrik dan ngantuk.
kesunyian belum datang malam itu.
tubuh menggantungkan hidupnya
pada tonase truk di jalanan
pada napas pelacur yang
mengembun di kaca warung
sementara bibir remajamu
menguliti kota dari wajahku.
dari sepi yang kuhijrahkan
berderet zikir kebingungan
semacam gerbong tua
yang kehilangan daya-upaya.
tiada yang sanggup bersaksi.
aku kalah.
bagaimana nasib dua bayangan
yang lama saling mengenakan tubuh?
ding. dong. ding. dong.
lonceng itu berbunyi dari kepala.
tumbuh dari tengkorak psikoanalisku
yang tertidur di sepanjang trotoar Jakarta.
dari pelipisnya meleleh abu kecil
yang nempel d tas sekolah bocah SMA.
sementara mata kanak-kanak yang lugu
menyimpan perang yang belum
diberitakan.
nyeri bertebaran
seperti patahan cahaya
menancap pada bahuku
pada rusukku
pada bahasa yang gagal mengucapkanmu:
aku kalah.
apa setelah segala reruntuhan
masih tersedia sedikit jiwaku
di dalam kedua tanganmu?
satu. tiga. sembilan.
angka-angka itu berjatuhan dari awan
dan malaikat kehilangan alamat.
ah, setelah yang tersisa
tinggal separuh kesia-siaan
aku berjalan melewati
lorong diriku sendiri:
celana sobek
spion retak
topi yang menggantung
di kepala remaja.
di sana kutemukan wajahku
mengunyah roti, mengeras.
neraka ternyata bukan api.
neraka adalah pintu yang terbuka
dan aku gagal menutupnya.
neraka adalah mengingatmu
dan tanpa menjadi siapa pun.
setelah itu aku berziarah
mencari tanahnya, dan
segala yang musnah
diam-diam masih menyimpan
keinginan untuk pulang.
sebelum kita pulang dan hancur lebur
beberapa rincian menyelinap dari tidur:
puluhan metafora melarikan
diri dari surga puisi.
(2026)
–
disebabkan sebuah nama
: kepada svr
di kali pesanggrahan
cinta menjelma
bahasa yang kehilangan
arah pulang
tetapi tiap kudengar namamu, makin
ingin kubayar utang cahaya
yang tertinggal di antara sampah
dan terbawa udara kota
negara atau swasta di dalam kepala
adalah sepasang kekasih
yang tidur di bawah jembatan
sambil menghitung umur banjir
meski nenek moyang mengutuk suara
dari dasar panci dan sumur tua
pikiran sebatas bau sampah
yang berputar di permukaan air
penuh berita dan plastik
tetapi mudah dibeli taktik
di antara aliran kali yang pelan
aku mendengar azan subuh
dan suara mesin pompa
yang menyedot mimpi anak-anak
ke dalam perut kota
aku termangu di pinggirannya
sambil menggumamkan:
irisan cinta mengental
pada sebuah nama
di kali pesanggrahan
cinta berwujud
bulan yang hanyut
bersama sampah rumah tangga
tetapi metafora seperti ikan kecil
berenang di sekitar limbah
mencari keluarganya yang hilang
dibunuh zat kimia
yang tak pernah masuk kitab sejarah
beberapa mimpi tertindih lirih
di tepian kali itu, dan berkata:
tebu dan gula hanya cerita
kecuali nama
masih melahirkan makna
di kali pesanggrahan
cinta menjelma
bahasa yang kehilangan
arah pulang
tetapi tiap kudengar ceritamu
makin ingin kususuri
jejak air yang menghafal
segala yang dibuang manusia
dari nama menuju makna
bulan berhenti mencuci wajahnya
langit menggantung
seperti pakaian kerja yang basah
air mengalir tanpa keluh kesah
tetapi nama tak hentinya berzikir
mencari harapan dan putus asa
yang dilahirkan kota
dilahirkan sejarah
dilahirkan makna
di kali pesanggrahan
cinta menjelma
bahasa yang kehilangan
arah pulang
tetapi tiap kudengar namamu
ingin kubayar harapan
dan putus asa
yang melahirkan nama
dan makna
dari seluruh benda
yang hanyut bersama air
(2026)
–
sepanjang jalan
sepertujuh minor pentatonik
memucatkan udara jakarta.
lampu-lampu neon bergoyang
dan bulan menjejalkan dua jarinya
ke tenggorokannya sendiri.
betapa gagah ia.
ia memuntahkan
asap espresso
struk belanja
air mata kehilangan bau
dan jelaga
di bulu mata kota.
ia tak pernah tidur
hanya letih, dan
di balik kaca:
sepasang kekasih, dua
cangkir espresso, setengah
meja kayu, empat tangan
uap kopi—cukup.
di trotoar, seorang pria
menghitung receh
seperti menghitung bintang
yang jatuh ke got.
mesin espresso mendesis
gelas-gelas beradu
dari speaker menjerit:
isn’t she lovely
isn’t she wonderful
isn’t she precious
less than one minute old.
seperlima mayor dorian
menyayat jakarta
dan dari trotoar
seorang pria memantulkan
kesendirian.
isn’t she precious, jelas speaker itu
dan bintang menggerakkan pisau
tipisnya ke leher malam.
less than one minute
old, jerit terakhir speaker itu
sementara jakarta
membuka pintunya
dan kehidupan
seperti biasa, mulai
menagih janji.
(2026)
*****
Editor: Moch Aldy MA
