Percakapan Kita dan Puisi Lainnya

Malza Nurzaini

1 min read

Minggu Sore Kembali Berkilah

Minggu sore kembali berkilah
membelenggu langit yang seharusnya biru
lalu nila dan jingga bersatu padu
menerbitkan segala ketakkaruan
menyongsong Senin yang rudin
& kesibukan yang kurang penting
sedang kepenuhan kemarin
belum sepenuhnya lenyap
seperti langit sore ini 
menyisakan warna keemasan
bersenyawa dengan kecemasan
barangkali, waktu luang & uang 
tak pernah sepakat
mendefinisikan kebahagiaan

tapi matahari terus terbenam 
dan seseorang harus terus meringkus 
kepusingannya ke dalam tas kerja
gagal membiarkan belulangnya mengapur
dalam pelukan seprai yang luntur
dipenuhi kutu-kutu

buku-buku & rindu-rindu
menjadi sonder 
menjadi flaneur 
mengonsumsi semua yang grandeur-grandeur
terbenam dalam 
kegagalan paripurna 
menjadi manusia.

Maaf

dengan atau tanpa kata
selalu ada sepasang mata
membeliak di balik upaya
maaf-memaafkan
karena selalu ada ‘mengapa’
yang meronta-ronta

terselip di antara
arteri & vena—
mengganggu jaringan saraf
lalu menggagalkan hidup
yang pernah berdegup.

kubayangkan
kau terbangun di suatu subuh
dengan dada yang nahas
berharap takdir lekas membalas
segala luka yang membekas
diam-diam kau berharap menjadi Ayub
yang disembuh-pulihkan olehNya
hingga yang tuntas kembali melebat
lalu doa-doa menjadi bahasa
yang mengangkang
di antara sopan dan kurang ajar.

sedang aku ingin sekali bertanya:
siapa yang kaucintai
ketika kau mengaku mencintaiku?

Percakapan Kita

percakapan kita serupa
laci lama tak dibuka:
di sana ada kotak pandora
mengandung malapetaka
& rindu yang celaka

di hatimu ada cigarette
after sex—apocalypse. 
memberatkan bahumu lunglai
muara dari wajahmu yang masai
hingga kau tak lagi punya cukup nyali
menatap legam gelap
kantung mataku yang malas hidup

biarkan aku berterus terang
ada hari-hari ketika layar monitor
masih terus terang menyala
di jam-jam panjang ketika dunia tertidur
& tubuh-tubuh terlelap
dalam harap-harap cemas
meninggalkan semua nasi
yang telah menjadi bubur
enggan diaduk—
memekik ganjil di lidah
serupa kemasing-masingan
kita di pelupuk waktu

sesuatu yang lembut
akan datang
mungkin juga tidak
aku tak tahu.

perihal perasaan sering terasa benar
tapi sesekali agak palsu
serupa cokelat yang melekat
pada eskrim kesukaanmu
maka kubakar saja
bersama jarum coklat kesukaanku.

Barangkali Kau Benar & Dostoyevsky Keliru

aku kerikil
amarah seorang bocah
akan menyepaknya
sepulang sekolah
dihantam dendam kesumat

& angin sakal
tertahan oleh itu semua renjana
yang mahir mengepal hasrat
payah memendam rindu

waktu itu, oktober berkabut
& angin April kini
masih kalang-kabut
oleh hati yang kecut
hinggap di wajah kita yang kusut
lalu bola mata berkeliaran
enggan beradu
sebab dua pasang mata pernah dibantai
habis oleh yang menyenangkan
& menenangkan.

andai kau psikolog
sudikah kau mendiagnosis
detak-detik
sunya-sunyi
& rongga yang melebar di dada?
sebab jiwaku plastik:
bisa didaur ulang
oleh rimba suasana
diombang-ambingkan zaman
lalu kedaluawarsa.

jika sampai tubuh ini
pada suatu kemampuan
untuk mangkir
dari kesepian-kesepian ganjil
aku ingin menginsafi
kepenuhan kita saat itu
sebab tak ada penuh
bagi apa-apa yang hidup.

barangkali kau benar, &
dostoevsky keliru
aku masih terus belajar
mencintai legam kegelapan itu
tanpa jari-jemarimu di jari-jemariku.
kuharap sisifus dan promotheus tersenyum
melihat aku menggelindingkan tubuh
ke kemenjadian yang lain

Melihat yang Tipsy

ada perempuan
mati-matian melupakan
hidup yang celaka
dengan lagu-lagu indie
& bau kecut bacardi.

sedang ia tak punya
laki-laki yang ready
memberi ciuman panjang
di pipi & dahi.

kulihat goyangannya yang tipsy
menanggalkan segala rupa nafsi
tubuhnya meliuk-riang
ingin hilang
ditelan campuran pelik
bising & alkohol—
sebagai rem darurat
dari hidupnya yang konyol.

pukul dua pagi,
goyangannya melambat
kubayangkan pandangannya
runyam. berbayang.
kepala jadi dua.

kaki & tangan jadi empat.
hidup jadi duabelas
kecelakaan beruntun.

*****

Editor: Moch Aldy MA

Malza Nurzaini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email