Di kota ini, orang yang berjalan lambat terlihat seolah ingin menantangmu berkelahi. Dia seperti sedang mengejekmu dalam hati, “Hidup cuman sekali dan aku ingin menikmati hidup ini!” Sungguh aforisme yang sangat menjengkelkan. Justru karena hidup cuman sekali, orang-orang macam aku begini harus hidup mati-matian. Sebab, hanya ini yang kami punya.
Namun, meski hidup bergegas di kota ini seperti sudah takdir, ada harinya ketika aku muak terburu-buru seperti dikejar anjing gila, dan itu bukan untuk menantang siapa pun berkelahi. Aku hanya ingin hidup barang sehari dengan menikmati segala yang berlalu di sekitarku, semua yang aku punya, dan seluruh waktu yang sudah kulewati. Lebih-lebih saat membangun hubungan dan ikatan emosional, aku ingin bersabar menjalaninya. Dengan begitu, setidaknya meski hidupku payah, aku bisa bercinta seperti orang kaya. Namun, lagi-lagi yang seperti tadi hanya mimpi kelas menengah. Berkali-kali aku mencobanya, berulang kali aku gagal. Bahkan, saat membayar perempuan di tempat karaoke atau panti pijat, mereka selalu bermain terburu-buru, minta cepat-cepat dibayar, dan menyuruhku segera pulang untuk melayani pelanggan lain. Mereka selalu bilang, “Waktumu sudah habis.” Padahal waktuku masih banyak, hanya uangku yang habis.
Aku bukannya tidak pernah benar-benar serius mengejar perempuan sehingga mesti membayar pelacur hanya untuk merasa dicintai dalam hitungan jam. Aku sempat bertahun-tahun mencintai seorang perempuan hanya untuk menyadari setelahnya bahwa ia tidak tertarik kepadaku sama sekali. Suatu hari aku pernah bilang kepadanya, “Tolong ajari bagaimana caranya menjadi orang yang kamu suka.” Aku masih ingat jawabannya. “Kalau kamu nanya itu pas tahun pertama, mungkin masih ada kesempatan. Sayangnya sudah telat.” Untungnya aku orang yang cukup tahu diri. Setelah mendengar penolakannya yang segamblang itu, aku belajar untuk berhenti mencintainya.
Kemudian aku sadar, berhenti melakukan sesuatu ternyata lebih sulit dan butuh waktu lebih lama daripada saat memulainya. Dan sekali kamu berhenti mencintai seseorang, butuh waktu lebih lama lagi untuk kembali mencintai. Ketika aku berhasil melupakan cinta pertamaku, tiba-tiba aku sudah terlalu tua untuk menikmati masa muda yang berbunga-bunga. Yang lebih sialnya, setelah umurmu melampaui tiga puluh tahun, orang-orang berusaha mendesakmu untuk menjalin hubungan serius dan segera menikah. Mereka memperkenalkanmu dengan orang-orang yang tidak kamu suka, atau terlalu tua, atau cara bicaranya menyebalkan, atau yang ingin menua sendirian.
Di antara sekian banyak orang yang terburu-buru ingin aku menikah, yang paling kubenci adalah ayahku. Setiap kali mengunjungi rumahnya, dia selalu menasehatiku, “Cepat cari istri, biar kamu ada yang ngurus dan hidupmu tidak berantakan.” Seandainya tidak ada keperluan seperti ulang tahunnya atau peringatan hari kematian ibuku, tentu aku tidak akan mampir ke sana hanya untuk berbasa-basi dan pura-pura bersikap baik. Biar hidupku tidak berantakan katanya… Aku akan menerima wejangan itu dari siapa pun kecuali ayahku. Tidak ada alasan untuk mendengar nasehat dari seorang pria yang menikah lagi saat istrinya baru meninggal 63 hari. Apalagi nasehat soal pernikahan.
Setidaknya dia bisa menunggu hingga seratus hari dulu sebelum menikahi perempuan yang umurnya lebih muda lima belas tahun itu. Seharusnya dia menunggu sampai pusara ibu sepi peziarah, tidak ada lagi yang menyiram air di atasnya, dan kembang-kembang yang tersisa sudah mengering. Sialannya, dia buru-buru menikah lagi hanya untuk memamerkan ke orang-orang kalau dia belum impoten dan memperkenalkan istri barunya ke teman-teman saat peringatan seratus hari kematian ibuku. Dan kini, setelah punya dua anak baru dan memaksaku akur dengan mereka, dia pikir pengalamannya itu cukup untuk menasehatiku memilih pasangan dan segera menikah.
Aku tidak punya dendam dengan istri barunya. Ibu tiriku itu berusaha bersikap sebaik mungkin kalau ada aku di rumah. Aku hanya tidak suka berlama-lama di dekatnya. Aku tahu seramah apa pun ia mencoba, ia hanya ingin aku cepat-cepat pergi. Aku pernah melihatnya mendengus pelan saat berbalik badan setelah membukakanku pintu. Ia hanya berusaha menjadi ibu yang baik di depan anak-anaknya dan istri teladan di mata suaminya. Sementara aku hanya polisi tidur baginya yang harus dilewati.
Sore itu aku baru pulang dari rumah ayah setelah memperingati tujuh belas tahun kematian ibu. Aku sudah mulai lupa suaranya dan berhenti menangis saat mengingat wajahnya. Kalau aku menjadi ayah, saat inilah aku baru akan menikah lagi. Menjelang tiba di apartemen, aku melihat ada toko baru di seberang jalan. Sebelumnya itu barber bernama Forgeron tempat aku biasa memotong rambut. Rupanya sekarang digantikan toko bunga dan kedai teh kecil. Namanya Halleina. Suara lonceng berdenting saat aku membuka pintu. Seorang perempuan dengan bando kain di rambutnya sedang merangkai tujuh tangkai bunga putih di mejanya. Ia tersenyum melihatku. “Eh silakan Mas, maaf aku beresin satu pesanan ini dulu ya.” Aku hanya mengangguk kecil.
Tata letaknya tidak berubah sejak tempat ini masih salon. Hanya cat yang sebelumnya putih diganti warna oranye, keempat sisi tembok penuh bunga-bunga, meja dan sofa kecil menggantikan meja resepsionis, dan hanya ada sepasang kursi lipat di dalam. Aku berjalan mengitarinya dan tiba-tiba perempuan tadi sudah berdiri di belakangku. “Cari sesuatu, Mas?”
“Baru buka hari ini?”
“Eh, iya Mas. Mas tinggal sekitar sini?”
Aku menunjuk ke apartemen di seberang jalan. “Baru buka langsung ada yang pesan ya?”
Ia menatapku bingung. Aku menunjuk ke buket bunga di tangannya. “Oh… ini pesanan temanku. Katanya mau diambil malam ini… Mas lagi cari bunga juga?”
“Iseng aja. Dulu ini salon langgananku.”
“Oh… maaf ya Mas aku gak bisa potong rambut.”
Aku tertawa. Itu bukan jawaban yang aku duga. “Aku gak berharap Mbak bisa potong rambut juga.”
Ia tersenyum. “Eh, Mas mau ngeteh dulu?”
“Cuman ada teh?”
“Iya, cuman ada teh.”
“Kenapa cuman ada teh?”
“Pusing Mas kalau kebanyakan menu.”
“Ada rekomendasi?”
“Mas lagi capek gak?”
“Lumayan.”
“Kalau mau teh moringa, itu bikin rileks.”
“Moringa? Baru dengar.”
“Daun kelor, Mas. Bahasa kerennya, moringa.”
“Daun kelor bisa diminum?”
“Bisa dong… daun kelor kan emang buat diminum. Emang buat apa lagi Mas?”
“Setahuku buat ngusir makhluk halus.”
Ia tertawa. Gingsulnya tampak mengintip dari balik bibir atasnya. “Ya udah Mas duduk dulu, mau di luar juga boleh. Nanti aku anterin.”
Hanya ada sepasang meja kecil dan empat bangku di depan toko. Aku ingin merokok, tapi tidak disediakan asbak dan sepertinya asap rokok tidak cocok disemburkan dekat bunga-bunga. Sebelum sempat melamun terlalu jauh, secangkir teh daun kelor dihidangkan di atas meja. Perempuan itu lalu ikut duduk di depanku. “Silakan Mas. Awas masih panas.” Aku menyeruputnya perlahan.
“Buka sampai jam berapa, Mbak?”
“Jam delapan-sembilan malam. Eh, jangan panggil Mbak, nama aja Mas.”
“Siapa namanya?”
“Halleina.” Ia menjulurkan tangan. “Mas?”
Aku menjabat tangannya. “Rupawan. Panggil Awan aja.” Ia tersenyum. “Jadi ini tokonya nama kamu?” Ia mengangguk. “Bagus namanya.”
“Terima kasih Mas.”
“Awan.”
“Oh ya… Awan.”
“Aku belum pernah dengar nama Halleina.”
“Aku juga. Itu nama kota di Austria, Hallein. Dulu ayahku pernah kerja di sana. Nama Mas juga bagus.”
“Itu mungkin ejekan dari ayahku pas lihat anaknya jelek, jadi dikasih nama Rupawan. Kalau kamu pernah baca Cantik Itu Luka, persis begitu. Anak buruk rupa dikasih nama Cantik.”
“Eh, enggak ah Mas.”
“Awan… terserah kamu deh mau manggil apa.”
“Maaf Mas, eh Wan… belum biasa… tapi wajah kamu lumayan kok.”
“Lumayan jelek?”
“Lumayan rupawan.”
“Kamu mau muji sebanyak apa pun, hari ini aku belum ada niatan beli bunga.”
Ia tertawa. “Aku tukang bunga, Mas. Bukan SPG rokok.”
“Iya, kamu lebih cocok jadi tukang bunga. Apa bahasa kerennya tukang bunga?”
“Florist.”
“Tadi teman kamu pesan buket mawar putih buat apa?”
“Peony.”
“Peony?”
“Itu bunga peony, bukan mawar. Buat kado nikah temannya.”
“Teman kamu juga?”
“Bukan.”
“Apa bedanya mawar dengan peony?”
“Hmm… peony kembangnya lebih lebar, biasanya lebih penuh, lebih banyak kelopaknya. Harganya lebih mahal juga.”
“Kenapa?”
“Musiman sih, Mas. Dia harus di tempat dingin, gak bisa sembarangan nanamnya. Kalau mawar kan bisa sepanjang tahun mekar, lebih gampang.”
“Jadi pesanan tadi buat orang spesial ya?”
“Bisa jadi, atau mungkin temanku habis menang arisan, atau dapat warisan dan mau buang-buang uang.”
“Aku buta soal bunga. Tahunya cuman mawar, melati, bunga matahari, tulip, anggrek, bunga asoka… yang bulat mirip pompon itu bunga apa?”
“Eh, itu krisan. Sebelahnya, yang warna kuning kelopaknya panjang-panjang, itu juga krisan, krisan laba-laba. Sampingnya juga.”
“Buat kado ulang tahun bagus juga.”
“Biasanya buat berkabung, Mas…”
“Oh… untung kamu bilangin. Kalau di samping papan menu itu, yang kelopaknya mirip serutan pensil, bunga apa?”
“Anyelir. Mas suka?”
“Buat berkabung juga?”
“Buat wisuda bisa, ucapan selamat, pernikahan… mitosnya dulu Dewi Diana jatuh cinta sama seorang penggembala, tapi cuman berakhir sepihak. Gara-gara sakit hati, si penggembala dicongkel matanya, terus tubuhnya dibuang ke tanah. Nah, bunga yang tumbuh dari jasadnya itu anyelir.”
“Oke… ceritanya romantis sekali ya. Aku sekarang percaya kamu florist.”
“Emang sebelumnya enggak?”
“Yah… mungkin iseng-iseng aja.”
Ia tertawa. “Gak ada orang buka toko bunga iseng-iseng. Kalau SPG rokok mungkin.”
“Sebentar deh, tadi kamu bilang teh daun kelor bikin rileks?”
“Moringa.”
“Iya, moringa apalah. Itu bikin rileks, atau bikin ngantuk?”
“Bikin rileks, menenangkan… kalau badan udah santai, biasanya emang ngantuk kan, Mas?”
“Aku kayaknya mulai ngantuk.”
“Manjur dong.”
“Kalau gitu pamit dulu. Teh moringanya berapa?”
“Gak usah, lain kali aja.”
“Jangan gitu.”
Ia menunjuk ke papan menu depan pintu, tertulis: OPENING DAY, FREE TEA.
Aku sudah melewatinya dua kali, tapi baru memperhatikan ada tulisan itu. Sebelum beranjak, aku memandang sekilas wajah Halleina. Ia memang cocok menjadi florist. Malam itu, tanpa sempat berganti baju, aku tidur nyenyak sekali seperti bayi. Di kota yang apa-apa serba cepat ini, tidur yang lama semacam itu patut untuk dirayakan. Dan untuk merayakannya, sejak hari itu hingga seterusnya, aku menambahkan rutinitas baru mengunjungi toko bunga dan kedai teh Halleina saban pulang kerja. Aku tidak ke sana untuk membeli bunga, hanya memesan teh moringa dan mengobrol dengan Halleina selagi ia tidak sibuk. Aku baru membeli bunga di sana ketika merayakan hari ulang tahunku.
“Apa kamu punya bunga yang tahan lama?”
“Eh, kamu cari bunga? Tumben. Hmm… buat apa?”
“Mau kutaruh di apartemen. Ruangannya terlalu kosong. Terlalu polos. Aku butuh sedikit warna.”
“Anyelir itu bisa tahan sekitar tiga-empat minggu di vas. Anggrek dua-tiga minggu. Kalau mawar, peony, paling-paling seminggu.”
“Paling lama sebulan ya…”
“Lain cerita kalau ditanam di pot.”
“Kerepotan.”
“Mas butuh yang awet berapa lama?”
“Entah ya… yang lama…”
“Yang penting tahan lama, kan? Butuh aromanya juga?”
“Asal gak bau pesing kayak edelweis. Ya, yang penting tahan lama.”
“Aku sepertinya punya deh… tunggu sebentar.”
Ia masuk ke dalam lalu menghilang di balik pintu ruangan tempatnya biasa tidur siang. Aku menunggunya sambil menyeruput teh yang sudah hangat, dan sebelum aku meletakkan cangkir ke atas meja, ia sudah kembali duduk di hadapanku membawa pot kecil berisi tiga tangkai bunga imitasi.
“Ini handmade. Aku yang buat,” ucapnya sambil tersenyum. “Yang penting awet, kan?”
Aku meraih pot kecil itu, lalu mencabut tiga tangkai bunga yang ditusuk ke sekotak gabus di dalamnya. “Ternyata kamu pengrajin juga?” Ia hanya tersenyum. “Ini modelnya tulip, kan?” Ia mengangguk. “Tahan berapa lama?”
“Sampai apartemenmu kebakaran, atau kamu udah muak lihat bunga palsu itu dan memilih membilasnya di toilet.”
“Berapa?”
“Kenapa kamu tiba-tiba mau beli bunga?”
“Ini berapa dulu?”
“Kenapa dulu?”
“Aku ulang tahun.”
“Yang benar?”
“Ya, pas hari ini.”
“Eh, ya ampun… selamat ulang tahun.” Ia menjulurkan tangan seperti pertama kali berkenalan tahun lalu.
“Terima kasih. Jadi ini berapa? Aku suka bunganya.”
“Kamu bayar dua teh ini aja.”
Ia menunjuk ke dua cangkir teh yang ia seduh sendiri. “Anggap ini traktiran kamu. Bunganya dariku, jadi itu gratis. Dan kamu gak boleh nolak, ya?”
“Aku jadi kayak preman yang habis malak kamu.”
“Justru kalau aku minta bayaran setelah tahu ini ulang tahun kamu, aku yang mirip mafia. Kamu nonton Peaky Blinders, kan? Aku mirip Bibi Polly nanti.”
“Ya sudah, terima kasih bunganya. Aku baru pertama kali dapat bunga.”
“Jangan bilang ulang tahunmu juga belum pernah dirayain?”
“Pernah, sama ibuku.”
“Kapan?”
“Hmm… terakhir berarti sekitar delapan belas tahun lalu.”
“Oh, ibu kamu… maaf ya Mas.”
“Santai aja, udah lama juga.”
“Hmm… kalau begitu kamu tunggu di sini, aku ambil kue kering buat perayaan kecil-kecilan malam ini. Gak ada janji, kan?”
“Kosong.”
“Oke, tunggu ya. Nanti jangan buru-buru pulang.”
Malam itu ulang tahunku kembali dirayakan setelah delapan belas tahun. Aku mendapat bunga untuk pertama kalinya. Rasanya aku seperti tokoh utama dalam cerpen Putu Wijaya. Aku tahu akan tidur nyenyak setelahnya. Sungguh malam yang indah dan barangkali lebih langka ketimbang malam saat Komet Halley bisa kelihatan dari bumi. Sesudah malam itu, aku semakin merindukan obrolan sepulang kerja bersama Halleina. Ketika segala sesuatu ingin cepat-cepat kurampungkan, waktu minum teh berdua dengannya adalah satu-satunya yang ingin kupanjang-panjangkan. Dan tidak terasa tiga tahun berlalu begitu saja. Aku sudah mengenal semua jenis nama bunga yang ada di toko itu. Aku berhenti merokok karena Halleina alergi dengan bau asapnya walaupun hanya menempel di baju. Lalu tibalah perayaan dua puluh tahun kematian ibu.
Ayah hanya bertambah tua, tapi dia sama sekali belum berubah. Namun, sebelah telinganya rusak sehingga kami harus bicara agak keras saat mengobrol dengannya. Dia pun masih saja menanyakanku, “Kapan nikah? Sudah bujang lapuk begini.” Dalam hati aku bersyukur tidak mewarisi sifatnya yang gampang nikah itu.
Sepulangnya dari rumah ayah, sore itu toko Halleina tutup. Nomornya pun tidak bisa dihubungi. Aku hanya meneleponnya sekali, berharap ia akan menghubungiku kembali. Namun, tidak ada pemberitahuan sama sekali. Dua pekan berlalu dalam sekejap. Toko di seberang jalan itu masih tutup. Dan pada hari Kamis, ada panggilan masuk dari nomor ayah. Ternyata itu ibu tiriku yang mengabari kalau suaminya baru saja mati. Aku disuruh pulang sekalian menyiapkan pemakamannya.
Aku tidak menangis saat melihat wajahnya sudah layu atau tubuhnya yang sudah kaku dikubur. Kami jarang bertemu, dan kenangan terakhirnya masih meninggalkan kesan bahwa dia orang tua yang menyebalkan. Aku hanya ingin semuanya cepat selesai dan bisa tidur di kamarku sendiri. Di sela-sela pemakaman itulah Halleina meneleponku. Tiga panggilan tak terjawab. Ia tidak mengirim pesan apa pun. Dan aku tidak menelepon balik. Aku ingin bicara langsung saja. Esok harinya aku pulang ke apartemen dan mendapati tokonya sudah buka. Ia tampak bingung kala melihatku masuk karena jarang-jarang aku ke sana ketika hari masih terang.
“Mas?”
“Hai. Baru buka lagi?”
“Maaf ya baru sempat hubungin kemarin.”
“Aman. Kamu gak kenapa-kenapa kan?”
“Ngobrol sambil minum teh aja, yuk?”
Aku mengiyakan tawarannya dan menunggu di luar. Saat sedang mengedarkan pandangan ke arah jalan, Halleina menghampiriku membawa sepasang cangkir yang masih beruap, juga seamplop undangan. Undangan pernikahannya. “Maaf belum sempat ngabarin, Mas. Dua minggu kemarin aku lagi ngurus persiapan pernikahanku. Kamu orang pertama yang aku undang. Acaranya kecil, tamunya sedikit, aku pengin pestanya private aja. Semoga Mas bisa datang, ya.”
Entah aku sedih karena baru saja menjadi yatim piatu, atau tidak menuruti nasehat terakhir ayah, atau mendengar kabar Halleina akan menikah.
Yang jelas aku merasa sakit sekali. Karena aku sudah belajar bahwa butuh waktu lama untuk berhenti mencintai, dan sekalinya kamu berhenti, butuh waktu lebih lama lagi untuk kembali mencintai seseorang. Dan tampaknya aku tidak punya cukup waktu lagi…
(Jakarta, 2025)
*****
Editor: Moch Aldy MA
