Hari Pertama
Kesepian datang tanpa suara
Ia menyelinap saat petang mulai pudar
Mengisi ruang di antara detak jantung yang semakin lambat
Aku duduk di sudut kamar; memandang kertas-kertas
Yang pernah penuh dengan kata
Kini, hanya putih kosong yang menatap balik
Seakan mengejek sepi pikiranku
Aku merindukan suara, tawa, dan bisikan lembut
Namun, dinding-dinding itu bisu
Dan hanya memantulkan sunyi
–
Hari Kedua
Kenangan menghantamku tanpa aba-aba
Wajah-wajah di masa lalu berkelebat
Seolah hidup dalam bayang-bayang
Yang menari di dinding
Mereka tersenyum
Namun tak bisa kusentuh
Nama-nama kupanggil
Tapi hanya gema yang kembali
Aku terperangkap di antara masa silam
Dan kekosongan masa kini
Semakin kuingat
Semakin tajam menusuk
–
Hari Ketiga
Kehilangan tiba seperti badai
Buku puisiku terserak
Terbalut tinta hitam
Yang tak sengaja tumpah
Kata-kata yang dulu penuh makna
Kini berubah jadi noda tak berbentuk
Kucoba menyelamatkan aksara
Namun semua sia-sia
Seakan puisiku, hidupku
Mulai pudar, tak lagi terbaca
–
Hari Keempat
Berita kekacauan negara hilir mudik di televisi
Kerusuhan di jalanan, gedung-gedung yang dibakar
Dan teriakan yang tak terdengar dari balik layar kaca
Aku menatap semua itu tanpa benar-benar melihat
Pikiranku jauh tenggelam dalam penyesalan
Yang tak berkesudahan
Bayang perempuan menghantui benakku
Senyum yang dulu memberi harapan
Kini menjelma memar yang tak sembuh
Rindu itu menyiksa tanpa ampun
Bukan! Bukan waktu yang memisahkan
Melainkan kesalahanku sendiri
Kata-kata yang kulontar dengan sumpah serapah
Janji-janji yang kulanggar
Ia pergi dengan luka yang kusematkan
Tak ada yang bisa kusalahkan selain diriku sendiri
Kucoba melarikan diri dalam tulisan
Namun kata-kata mengkhianati perasaanku
Semua terasa hambar dan kosong
Kabar buruk masih terus bergulir
Sementara kegelisahan di dalam batinku tak kunjung usai
Mengoyak sisa-sisa kewarasan yang kumiliki
–
Hari Kelima
Kebencian merambat pelan pada sekujur diriku
Pada dunia yang tak mengerti bahasaku
Pada kalimat yang dulu mudah kurangkai
Kini tercekat di ujung lidah
Aku ingin bicara, namun suaraku hilang
Aku ingin menulis, namun jemariku kelu
Seakan semesta mengasingkanku dengan sengaja
Membiarkanku tenggelam dalam sunyi tak bertepi
Seolah keberadaanku tak lagi berarti
*****
Editor: Moch Aldy MA
