I'm just poor anarchist who lied being a poet to get your love.

Hari Ketiga dan Puisi Lainnya

Luthfi Hafizh Rizqullah

1 min read

Hari Pertama

Kesepian datang tanpa suara
Ia menyelinap saat petang mulai pudar
Mengisi ruang di antara detak jantung yang semakin lambat
Aku duduk di sudut kamar; memandang kertas-kertas
Yang pernah penuh dengan kata

Kini, hanya putih kosong yang menatap balik
Seakan mengejek sepi pikiranku
Aku merindukan suara, tawa, dan bisikan lembut
Namun, dinding-dinding itu bisu
Dan hanya memantulkan sunyi

Hari Kedua

Kenangan menghantamku tanpa aba-aba
Wajah-wajah di masa lalu berkelebat
Seolah hidup dalam bayang-bayang
Yang menari di dinding

Mereka tersenyum
Namun tak bisa kusentuh
Nama-nama kupanggil
Tapi hanya gema yang kembali

Aku terperangkap di antara masa silam
Dan kekosongan masa kini

Semakin kuingat
Semakin tajam menusuk

Hari Ketiga

Kehilangan tiba seperti badai
Buku puisiku terserak
Terbalut tinta hitam
Yang tak sengaja tumpah

Kata-kata yang dulu penuh makna
Kini berubah jadi noda tak berbentuk
Kucoba menyelamatkan aksara
Namun semua sia-sia

Seakan puisiku, hidupku
Mulai pudar, tak lagi terbaca

Hari Keempat

Berita kekacauan negara hilir mudik di televisi
Kerusuhan di jalanan, gedung-gedung yang dibakar
Dan teriakan yang tak terdengar dari balik layar kaca

Aku menatap semua itu tanpa benar-benar melihat
Pikiranku jauh tenggelam dalam penyesalan
Yang tak berkesudahan

Bayang perempuan menghantui benakku
Senyum yang dulu memberi harapan
Kini menjelma memar yang tak sembuh
Rindu itu menyiksa tanpa ampun
Bukan! Bukan waktu yang memisahkan
Melainkan kesalahanku sendiri

Kata-kata yang kulontar dengan sumpah serapah
Janji-janji yang kulanggar
Ia pergi dengan luka yang kusematkan
Tak ada yang bisa kusalahkan selain diriku sendiri

Kucoba melarikan diri dalam tulisan
Namun kata-kata mengkhianati perasaanku
Semua terasa hambar dan kosong

Kabar buruk masih terus bergulir
Sementara kegelisahan di dalam batinku tak kunjung usai
Mengoyak sisa-sisa kewarasan yang kumiliki

Hari Kelima

Kebencian merambat pelan pada sekujur diriku
Pada dunia yang tak mengerti bahasaku
Pada kalimat yang dulu mudah kurangkai
Kini tercekat di ujung lidah

Aku ingin bicara, namun suaraku hilang
Aku ingin menulis, namun jemariku kelu
Seakan semesta mengasingkanku dengan sengaja
Membiarkanku tenggelam dalam sunyi tak bertepi
Seolah keberadaanku tak lagi berarti

*****

Editor: Moch Aldy MA

Luthfi Hafizh Rizqullah
Luthfi Hafizh Rizqullah I'm just poor anarchist who lied being a poet to get your love.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email