Penggemar kretek, pemuja sepak bola indah.

Menjenguk Sahabat Kecil

Faisal Akbar

3 min read

Mama baru saja mengabarkan bahwa sahabat masa kecilku, Kotta, sakit keras. Aku bergidik. Dalam sekali lirik, sudah bisa kutebak kalimat yang hendak menghambur dari kerongkongannya: Mama memintaku untuk menjenguk si pesakitan. Aku selalu curiga dengan momen seperti ini—jangan-jangan, ada yang sengaja meracuninya, menabraknya, atau mendorongnya dari balkon sehingga mengharuskanku menemuinya.

“Kamu harus menengoknya,” ucap Mama. “Sudah sekian lama kalian saling acuh tak acuh.”

“Untuk apa, Ma?”

Aku tahu, itu bukanlah respons yang Mama harapkan.

“Kalian sudah sama-sama dewasa. Usia tua cepat atau lambat akan menggerogoti kalian. Lagipula, tidak ada salahnya, kan?”

Aku masih membatu. Bergeming. Namun, karena itu adalah amanat seorang ibu yang harus dilaksanakan, aku terpaksa mengalah dan mengangguk lesu.

“Nah, sekarang ganti pakaianmu dan bawa keranjang buah-buahan ini. Mama titip salam.”

***

Kamar rumah sakit itu tak begitu besar. Dari celah pintu yang sedikit tersibak, tercium aroma obat-obatan. Tembok-temboknya putih pucat. Aku sering berandai: kenapa rumah sakit seakan mengharamkan penggunaan cat merah atau hitam? Bukankah merah—yang berarti darah—dan hitam—yang melambangkan kematian—jauh lebih jujur?

Ketika menengok ke dalam, aku melihat kawanku itu, Kotta, dengan dua huruf t, tengah berbaring lemas.

Perkenalanku dengan Kotta tak begitu dramatis. Itu terjadi dasawarsa silam. Sederhananya, sejak aku lahir, Kotta dengan serta-merta dinobatkan sebagai sahabat kandungku. Nah, bagaimana menjelaskan istilah ‘sahabat kandung’ ini? Kami lain ibu, lain pula bapak. Aku dilahirkan dari seorang perempuan rantau yang separuh hidupnya mengejar karier, sementara Kotta lahir dari sepasang kekasih bernama Punca dan Manusa yang entah bagaimana rupanya.

Dahulu, aku dan Kotta sangat akrab. Hubungan kami erat, seperti Kapten Haddock dan miras, atau seperti manusia dan lupa. Sehari-hari kami selalu menghabiskan waktu berdua. Di mana pun ada aku, di situ pula Kotta berpijak. Ia tak ubahnya seorang abang. Pagi-pagi kami berjalan kaki ke sekolah, melewati gerombolan burung gereja, lalu sesekali melantingkan remah roti pada monyet milik tetangga. Siangnya, ke warung untuk membeli jajanan atau mencuri kesempatan ke rental PS. Dan saat petang tiba, kami berlomba-lomba ke masjid untuk sembahyang dan mengaji.

Lain cerita saat aku beranjak remaja. Aku dan Kotta semakin dekat. Kami gemar melewati malam-malam yang kusut. Kotta akan mendekapku tatkala bersedih, menyetel musik house yang buruk sambil bersenda gurau atas kekacauan dalam dadaku yang acapkali berkecamuk. Ia menemaniku berkendara dengan motor pemberian ayah, ke sekitar jembatan layang menenggak amer, atau sekadar menggoda perempuan di bar yang tak pernah kuketahui namanya.

Waktu berjalan apa adanya, hingga kami menapaki masa di mana segalanya tak lagi hitam dan putih. Kami harus berpisah.

“Apa kabar?” sapaku seraya menyibak tirai, dingin.

“Ah, kamu rupanya….,” suaranya agak parau. “Yah, beginilah. Tunggu, bagaimana kamu bisa tahu kalau aku sedang sakit?”

“Dari Mama. Tapi tanpa diberi tahu sekalipun, semua orang toh sudah pasti tahu.”

Kotta tertawa pelan. Kemudian, aku meletakkan keranjang rotan di atas kenap, duduk di bangku yang berada di tepi ranjang, dan mulai mengais topik pembicaraan untuk sekadar berbasa-basi.

“Dapat salam dari Mama.”

“Terima kasih, sampaikan pula salamku padanya,” Kotta tersenyum tipis. “Bagaimanapun, aku berutang banyak pada ibumu.”

Aku menanggapi dengan anggukan. Perihal utang ini, Kotta sudah melontarkannya berulang kali. Katanya, Mama telah menyelamatkan reputasinya—yang sampai sekarang urung kuketahui maksudnya. Kotta hanya mengaku bahwa dirinya penuh kepalsuan, sehingga hanya Mama yang bisa memolesnya. Aku kembali menatapnya. Kotta, sahabat kecilku itu, kini sudah banyak berubah. Penampakannya hampir tak kukenali. Raut mukanya menua. Rambutnya yang lurus memutih keperakan. Di kulitnya sudah muncul keriput. Dan bau anyir merebak dari pori-porinya.

***

“Oh ya, Kotta,” sambungku, “bagaimana kondisimu?”

Mata Kotta tampak terkejut. Ia tak menyangka pertanyaan itu keluar dari bibirku.

“Entahlah.”

“Lantas, kenapa bisa sampai dirawat?”

“Yah, aku dilarikan ke IGD tengah malam,” ia mulai bercerita, “padahal kamu tahu, malam adalah saat-saat di mana aku merasa hidup.”

Aku mengerling pada cairan infus yang menetes, disertai bunyi ‘bip-bip’ dari monitor.

“Siapa yang membantumu ke sini?”

“Aku mulanya menggotong tubuhku sendiri hingga nyaris tertabrak bus. Beruntungnya, ada tukang ojek, penjual cilok, satpam, dan para waria yang berbaik hati mengantarku.”

Sebetulnya, itu pertanyaan yang terlampau bodoh. Aku cukup mafhum, sejak lama Kotta hidup sendiri dan kesepian. Aku kadang merasa kasihan—tak adakah yang mau mencintainya dengan tulus?

“Ketika diperiksa, dokter bersikeras agar aku dirawat inap. Katanya, penyakitku makin parah.”

Kotta terus saja mencerocos layaknya filsuf amatiran yang baru kelar membaca Derrida. Dokter memberi tahunya bahwa ada sejumlah gejala awal, antara lain kepala yang nyeri. Ada saraf-saraf yang tertarik di bagian kanan, lantas membuat sebelah matanya separuh tertutup. Tak lama setelah terkapar di IGD, Kotta mengalami kejang hebat. Anggota badannya seakan hendak dicabut dari tiap sisi sebelum akhirnya jatuh dalam koma. Akan tetapi, dokter dengan sigap menyuntikkan obat penenang tepat di nadinya.

Sesudahnya, hasrat itu—hasrat untuk melontarkan pertanyaan bebal nan menyebalkan—timbul kembali dari dalam diriku.

“Apa penyebabnya?”

“Ini semua karena pengabaian,” Kotta bersusah payah membuka mulutnya. “Organ-organ dalam tubuhku makin gelisah dan liar, tak peduli satu sama lain. Mereka kian gencar menaruh curiga yang tak berkesudahan. Mereka meraup keuntungan demi perut sendiri, bahkan rela membunuh antarsesama, yang lebih jauh menyebabkan disfungsi.”

Lampu di langit-langit kamar seolah tambah silau. Samar-samar terdengar erangan pasien lain dari balik dinding. Aku merenung sejenak. Dan semakin dalam renungan ini, semakin banyak pembenaran di tempurung kepalaku: hal inilah yang selama ini membuatku pergi menghindar dari Kotta.

Seiring bertumbuhnya umur, aku kian menyadari bahwa aku dan Kotta tak dapat lagi bermain bersama, bahkan berkawan seperti sediakala. Terdapat teluk pemisah di antara kami yang sukar diseberangi. Aku menginginkan kemurnian sejati, sementara Kotta masih betah dengan omong kosong yang tak dapat dielakkan. Meski di sisi lain, jujur saja, aku juga merasa tak enak hati meninggalkannya sampai mati terkubur.

“Jadi, kata dokter, bagaimana caranya agar sembuh?” aku memulai lagi.

Kotta termenung agak panjang. Ia memejamkan kelopak matanya perlahan. Sementara itu, cahaya merah matahari penghabisan meredup, tanda jam besuk akan segera berakhir.

“Organ-organ itu, yang biasa menopangku dan bertindak seperti imun, kini sudah nyaris lenyap tak bersisa. Mereka kian tergusur, gugur satu per satu, kemudian digantikan para virus sialan yang bersikap masa bodoh, layaknya para elite yang tinggal di permukiman mewah dan doyan main golf.”

“Kamu belum menjawab pertanyaanku,” lidahku sesaat bergetar. “Bagaimana caranya agar sembuh?”

Kotta diam terpaku. Ia sengaja melengos.

“Lupakanlah. Aku sudah sekarat, Bung.” Tangannya seketika mengepal. “Biarlah aku menikmati raga ini hangus terbakar dari dalam.”

*****

Editor: Moch Aldy MA

Faisal Akbar
Faisal Akbar Penggemar kretek, pemuja sepak bola indah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email