Muhammad Ikhsan (mhdikhsan), penulis muda asal Sumatera Barat, lahir 28 Jan 2007. Puisinya lahir dari luka dan kerap ia bagikan di akun Instagram-nya @mhdikhsan00s

Taman Firdaus dan Puisi Lainnya

Mhdikhsan

1 min read

taman

taman di pinggir jalan itu milik kita.

kau mungkin lupa, atau aku
yang mungkin mengada-ada;
tapi aku ingat, kita dahulu
di taman itu pernah berciuman
sampai-sampai nyamuk cemburu,
lalu masuk ke dalam rongga hidungku,
dan akhirnya mati di dalam rongga hidungmu.

aku mungkin lupa, atau kau
yang telah meniadakannya;
kita di sana dahulu pernah bersenggama,
aku menikmati masam-manisnya peluhmu,
dan kau merasakan pahitnya liurku.

taman di pinggir jalan itu,
kau tahu? ia seperti kita;

tidak lagi ada.

dalam mimpi

“di taman ini adalah rumahku,”
danau yang berseri-seri, hutan
yang lembap, dan aku yang
terjepit di antara dua pohon.

dari jauh
kau berjalan meninggalkan
taman ini, seolah kau
sudah tahu: taman adalah rumahku.

kucoba memanggil namamu
sambil melambai-lambai, ingin
mengundangmu ke rumahku,
tapi kau enggan putar badan,
bahkan menoleh ke belakang pun
tak kau lakukan.

kau hanya menjawab dalam hati
—yang entah mengapa—
langsung bergema di telingaku.

kau berkata, “aku akan menjauh,
mungkin untuk selamanya …
sebab di taman itu, semua bunga
telah kaulahap. kini bunga-bunga itu,
mungkin akan bermekaran
di tubuhmu, dengan dagingmu
sebagai tanahnya dan darahmu
sebagai air dan pupuknya.

semuanya akan sangat
mengerikan, bagimu—
bagiku.”

taman firdaus

di taman ini
maut tak akan pernah datang.

beribu-ribu tahun lamanya
aku terperangkap di sini, tanpa
tahu pintu keluar, tanpa tahu
pintu masuk.

dulu, seribu tahun yang lalu,
kau dan aku begitu nyaman
bercinta di taman ini, sampai-
sampai harum semerbak bunga
kalah telak melawan bau tengik
keringatku juga keringatmu.

tapi, entah dengan dalih apa,
entah dengan alasan apa,
entah dengan dasar agama apa,
entah kenapa, kau pergi.

kau berkata, kau hanya
akan pergi sebentar, dan
akan kembali ketika lumut
telah tumbuh di pepohonan.

lumut telah semakin tua.

o! tuhan!
sungguh, apakah kau
telah mati?

sampai jumpa, katamu

dedaunan yang gugur bernyanyi.
pepohonan yang kering bersedih.
rerumputan tak lagi tumbuh. aku
tak lagi teriak-menangis.

yang pergi, akan tetap pergi.
yang kembali, hanya menjadi janji.

cahaya tak kunjung memancar.
dan mataku, tak kunjung basah.

“sampai jumpa,” ucapmu dulu
barangkali adalah sinonim dari
“selamat tinggal.”

lihat, teh yang kuseduh untukmu
kini telah menguap seluruhnya,
hingga menjadi kering; hingga
gelasnya pecah.

*****

Editor: Moch Aldy MA

Mhdikhsan
Mhdikhsan Muhammad Ikhsan (mhdikhsan), penulis muda asal Sumatera Barat, lahir 28 Jan 2007. Puisinya lahir dari luka dan kerap ia bagikan di akun Instagram-nya @mhdikhsan00s

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email