Muhammad Ikhsan (mhdikhsan), penulis muda asal Sumatera Barat, lahir 28 Jan 2007. Puisinya lahir dari luka dan kerap ia bagikan di akun Instagram-nya @mhdikhsan00s

Nyanyian dari Bangkai dan Puisi Lainnya

Mhdikhsan

1 min read

lalat-lalat, 1

lalat-lalat bernyanyi
sambil menyetubuhiku—
mengecup lembut semua pori.

menjilat manis keringat.
melumat habis seluruh bulu,
hingga cairan menyembur 
dari akar peradaban
di antara kakiku.

lalat terus bernyanyi
dengan suara seperti setan
dalam mimpi anak kecil.

aku pun menjadi anak kecil
di hadapan buasnya ketagihan
yang terus mereka dendangkan
di atas tubuhku—
tanpa memedulikan aku
yang telah mati di puncak berahi
dengan satu cipratan putih
yang membebaskanku dari dunia.

lalat-lalat, 2

aku dan kawanan
suka bernyanyi
dengan suara rendah,
aneh—seperti mantera rusak.

kami tak tahu
apakah lagu kami
puji-pujian layaknya ode
atau kutukan.
manusia bilang:
“itu suara yang sebaiknya
dimusnahkan.”

tapi lewat nyanyian inilah
kami berpesta
di tubuh seorang manusia
yang baru saja kami persekusi
tanpa ampun,
hingga napasnya gugur
seperti setetes air
pada kobaran api.

kami lumuri dia dengan liur,
dengan kotoran,
hingga uap kematiannya
memenuhi lubang hidung kami.

bahkan saat dia menyemprot
cairan yang mengalir
seindah kabut pagi,
kami terus berpesta.

kematiannya:
nikmat. sungguh nikmat.

lalat hijau

setelah usai menikmati segalanya,
aku terlena
dalam kenikmatan mengarungi
senyapnya kematian.

suatu hari, 
aku sadar tubuhku membusuk
di hutan belantara
yang tak pernah ambil peduli.

dengan sisa-sisa indera,
kurasakan luka-luka terbuka,
darah, nanah yang belum kering,
dan cairan hangat
yang dulu disebut cinta.

tubuhku jadi altar
bagi ratusan lalat hijau
yang datang dari langit rendah, menjadikannya surga—
mereka menelusup paksa
ke lubang dan luka,
menetaskan benih
di tubuh yang telah ditinggalkan aku.

sekejap,
tubuhku menjadi rumah penuh cinta
bagi kawin dan kelahiran.

aku kini hanya bangkai
tempat lalat merayakan
hidup yang lain.

belatung

ribuan telur lalat
menetas di luka tubuhku.

belatung mungil melata
dalam daging terbuka,
melahap sisa-sisaku
dengan lahap dan sukacita.

aku hanya bangkai—
tubuh kosong yang menyaksikan
anak-anakku tumbuh
menjadi lalat muda.

o, tuhan …
beginikah rasanya
kenikmatan terakhir:
ketika luka disayangi,
dan tubuh dijadikan rumah.

aku tersenyum getir
melihat mereka menggeliat,
menggali luka baru
yang dulu tak sempat kubuka
saat masih manusia.

beberapa hari berlalu,
mereka telah dewasa,
lalu terbang entah ke mana.

“anak-anakku, kembalilah …
masih ada daging yang membusuk
untuk kalian cicipi.
tubuh ini belum habis, belum.”

dan seperti ibu
yang melepas putra sulungnya merantau—
begitulah aku menangis
di dalam diam,
mengenang yang terbang dari tubuhku.

nyanyian dari bangkai

pagi, siang, dan malam
menetes perlahan
ke busuk bangkaiku.

angin mengangkat baunya—
memanggil gerombolan kumbang,
tungau, mikroba, lalat:
yang muda, yang baru,
yang lahir dari anak-anakku.

aku diam.
dan terus diam
saat mereka menggerogoti
sisa-sisaku.

pohon bernyanyi pelan,
rumput pun berdoa.
air tak pernah sampai padaku.
hujan yang dijanjikan
tak turun juga.

aku tak tahu di mana diriku kini.
tubuhku pun lari
dari rupa yang dulu kukenal.

aku telah menjadi bentuk
yang tak patut dikenang—
bentuk tanpa wajah, bentuk terakhir.

kudengar dari alam:
lalat-lalat yang dulu mencumbuku
kini bersetubuh dengan tubuh baru.

aku hanya bangkai, hanya sisa,
hanya tiada, hanya …

*****

Editor: Moch Aldy MA

Mhdikhsan
Mhdikhsan Muhammad Ikhsan (mhdikhsan), penulis muda asal Sumatera Barat, lahir 28 Jan 2007. Puisinya lahir dari luka dan kerap ia bagikan di akun Instagram-nya @mhdikhsan00s

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email