Kamu menginjakkan kaki di dermaga dan melambaikan tangan. Koper cokelat tua peninggalanku yang kamu genggam terlihat semakin lusuh. Bajumu tampak masih baru, mungkin dibeli di kapal, tapi sama sekali tidak cocok dengan perawakanmu yang kecil dan pendek. Topimu kebesaran, melesak di kepala hingga hampir menutupi mata. Aku tersenyum dan membalas lambaian tangan.
Dua tahun sudah berlalu sejak kamu melambai kepadaku dengan senyum yang sama di Pelabuhan Batavia. Tidak ada yang berubah, senyum itu tetap senyum kawanku, kekanakan dan ramah.
“Bagaimana pelayaranmu?” tanyaku sambil menyambar erat tangan yang kamu sodorkan.
“Buruk. Aku terus-menerus mabuk. Senang rasanya bisa mendarat.” Jawaban dengan nada lugu itu yang kutunggu. Tanpa sadar tawaku pecah.
“Hahaha, pasti sulit buatmu yang orang daratan.”
Kamu menggerutu, berkata sesuatu, tapi hanya kutangkap setengah karena suasana ramai. Aku merangkul pundakmu, mengajak keluar dari pelabuhan dan naik trem ke tengah kota. Kamu memerhatikan keadaan di luar dengan antusias ketika trem tengah berjalan, hingga membuatku geli sendiri karena kamu bertanya ini dan itu saat melihat hal baru.
“Sudahi dulu kekagumanmu itu. Ada waktu lain untuk melihat-lihat. Jangan lupakan tujuanmu ke sini.”
“Ayolah, kawan. Masih ada dua hari sampai pertemuan pertama. Biarkan orang udik ini melihat-lihat dunia modern!”
Aku selalu menyerah dengan keingintahuanmu yang ajaib. Sewaktu itu, ketika kita masih kecil, Juffrouw Magdalena memergokimu di bawah jendela saat aku sedang belajar dengannya. Kamu mengintip sambil mendengarkanku belajar bahasa Belanda. Ketika bermain, kudapati kamu dapat mengikuti semua pelajaranku dengan baik, bahkan lebih baik dariku.
Tapi itu dulu. Sekarang ada yang perlu kamu dengar terlebih dahulu.
“Duduklah dulu dengan benar. Dengarkan aku.”
Kamu melihatku dengan tatapan yang seakan mengganggu kesenanganmu, jadi aku memasang wajah serius. Dengan wajah yang sama kamu duduk diam.
“Ayah meninggal dua bulan lalu,” kataku.
Wajahmu berkerut, tampak kaget, tapi tidak berkata apa-apa. Menungguku mengatakan hal lain. Ketika aku diam saja, kamu menyandarkan badan dan menutup mata dengan lengan baju.
“Telegram…?”
“Ayah yang suruh. Sampai kau tiba di Amsterdam, jangan beri tahu.”
Kulihat setetes air keluar dari matamu, mengalir membasahi pipi.
“Hij is als mijn eigen vader, dia sudah seperti ayahku sendiri,” suaramu bergetar.
“Aku tahu. Hij is ook mijn vader, weet je nog? Dia ayahku juga, ingat?”
Kamu mengambil napas panjang dan mengusap mata. Wajahmu seketika berubah sedih. Kita duduk dalam diam yang canggung sampai trem tiba di Hobbemastraat dekat Rijksmuseum dan turun.
“Aku tahu seharusnya tidak memberimu kabar buruk ketika kau baru saja sampai. Tapi rumahku sudah dekat, cepat atau lambat kau akan tahu.”
Kamu mengangguk, tetap diam. Aku memberitahumu kalau Mama sudah memasak makanan yang sesuai seleramu, bukan masakan Belanda. Mendengar hal itu wajahmu sedikit merona meski tetap terlihat murung.
“Ya,” jawabmu singkat.
Kamu meletakkan barang-barang di kamar lantai dua, tepat di samping kamarku yang sedikit agak lebih luas. Kita berdua turun ke ruang makan. Kamu makan lahap sekali. Mama terus-menerus melihatmu dengan senyum di wajahnya. Dalam sekejap, sikap riangmu kembali sampai percakapan mengarah ke pembicaraan tentang Ayah.
Sore itu juga kamu mengunjungi makam Ayah—ayah kita. Aku melihatmu berdoa dalam agamamu, berkomat-kamit meski kamu tahu Ayah seorang Katolik. Kamu mengorek sedikit tanah di pusara Ayah dan memasukkan daun tembakau yang kamu bawa dari Hindia. Kamu selalu tahu kesukaan Ayah.
Kamu ingat? Dulu, ketika aku mengetahui bahwa kamu belajar bahasa Belanda lebih baik dariku, aku memberitahukannya kepada Ayah. Keesokan harinya Ayah memanggil kamu dan orang tuamu ke kantornya di perkebunan. Kalian keluar dengan muka berseri dan tidak berhenti mengucap terima kasih. Dua hari kemudian, kamu duduk bersamaku belajar bahasa Belanda dengan Juffrouw Magdalena.
Kamu selalu belajar lebih baik dariku. Setelah aku kelelahan belajar, kamu masih saja membacai buku-buku pelajaran, bahkan membaca buku lain yang aku saja ogah membacanya. Setelah umur kita cukup—lebih setahun karena bahasa Belandaku yang dinilai buruk oleh Juffrouw Magdalena—kita berangkat bersama ke kota, hendak mendaftar di Europeesche Lagere School (ELS).
Sayang kamu pribumi, bukan darah bangsawan pula. Bahkan dengan bantuan Ayah, kamu tetap tidak bisa masuk. Kamu terpaksa masuk Hollandsch-Inlandsche School (HIS), meskipun aku tahu bahasa Belandamu lebih baik dariku. Aku membelamu saat itu, ingat? Aku menyombongkan dirimu di hadapan guru tegap berkumis baplang yang kutahu belakangan sebagai kepala sekolah. Aku diejek teman-teman lain karena berkawan dengan pribumi, sedangkan pribumi di kelasku lebih memilih membaur dan justru seperti ingin jadi orang Eropa. Tentu aku bingung dan marah—kamu temanku yang paling dekat.
***
Hari-hari selanjutnya berjalan cepat dan lambat dalam waktu yang bersamaan. Kamu mulai mengikuti perkuliahan dan begitu pula aku. Di jam makan siang, kita sering bertemu di taman di belakang kampus. Tapi aku mulai menyadari sesuatu yang ganjil: kamu tak lagi seceria hari pertama. Ada kantung gelap di bawah matamu, dan tawa lebar itu tak lagi mudah keluar.
Hari-hari pertama kamu di Amsterdam sudah berat, tapi bulan-bulan berikutnya jauh lebih kelam. Awalnya aku mengira semua akan membaik seiring waktu. Tapi aku salah. Kamu mulai sering datang ke rumah dengan mata sayu dan langkah yang lambat.
Aku terlalu sibuk pada urusanku sampai tak terlalu memerhatikannya. Tetapi kemudian aku melihat sendiri bagaimana mereka memperlakukanmu. Buku dicabut dari tanganmu saat kau bicara dalam diskusi. Bangku ditarik saat kau hendak duduk. Di perpustakaan, pustakawan mengawasi langkahmu seolah-olah kau pencuri.
Suatu hari, ketika seorang mahasiswa Belanda tinggi besar menyebutmu “Javaans aap” di koridor universitas dan mendorongmu sampai buku-bukumu jatuh berserakan, aku tak bisa lagi diam.
“Jij bent de aap hier! Kau yang monyet!” seruku padanya. “Kau yang berperilaku seperti binatang!”
Keributan pecah. Aku menarikmu berdiri, tapi mereka mulai mengelilingi kita. Seorang staf datang dan memisahkan, tapi hanya kamu yang dipanggil ke ruang dekan.
Aku ikut masuk.
“Dia yang dihina, bukan pelakunya!” seruku.
Tapi dekan hanya melirikku dan berkata, “Jangan buang waktu, Pemuda. Anda tidak tahu siapa orang yang Anda bela.”
Sejak hari itu, aku mulai dikucilkan. Teman-teman enggan menyapaku. Di kantin, bangku kosong di sekelilingku seperti lingkaran tak kasatmata yang tak bisa dilintasi siapa pun. Dalam diskusi kelas, ucapanku dipotong. Di perpustakaan, aku dipinjamkan buku dengan enggan.
Mama bahkan ditegur oleh kenalannya. Katanya, aku “lupa siapa diriku.” Tapi aku ingat bahwa aku adalah temanmu. Itu cukup bagiku.
***
Suatu hari kamu mengajakku ke sebuah tempat. Lokasinya tak jauh dari kampus, tapi cukup tersembunyi. Aku pun tak tahu tempat ini. Di sana terdapat belasan mahasiswa Hindia.
Ketika kamu masuk, wajah mereka berseri. Tapi ketika melihatku, mereka langsung memasang muka curiga pada kita berdua.
Seorang pemuda bertubuh kurus mendekat. Tangannya dikepalkan meski tak diangkat.
“Siapa ini?” tanyanya ketus.
Kamu menjawab tenang, tapi terdengar menahan tegang, “Ini temanku. Dari kecil.”
“Teman? Seorang Belanda?” Lelaki itu menatapku dari ujung rambut ke ujung kaki. “Kau membawa penjajah ke dalam ruang kita, dan menyebutnya teman?”
Aku belum sempat bicara ketika satu lagi menyambung—pemuda gagah dengan suara tajam. Ia terlihat seperti berasal dari keluarga bangsawan.
“Kita tidak butuh pengawasan dari kaum kolonial di sini. Kau tahu ini ruang bagi kami, bukan?”
Aku membuka mulut, “Aku tidak—”
“Kau tidak apa?” sahut lelaki pertama. “Tidak merasa bagian dari mesin yang membuat kami seperti ini?”
“Dia bukan seperti itu. Dia dibesarkan di tanah kita. Ayahnya yang mengajari aku bahasa Belanda. Dia yang membelaku di sekolah. Kalian tahu sulitnya menjadi aku, dan dia satu-satunya yang pernah mengulurkan tangan.” Kamu mencoba menengahi.
Si pemuda gagah memelototimu. “Itulah masalahnya. Dari dulu kalian, orang biasa, menunggu tangan putih mengulurkan sesuatu, lalu menyebutnya kemurahan hati? Memang, sekali jelata akan lekat selamanya!”
Hening.
Aku menahan napas. Di ruang itu, mataku bertemu dengan mereka satu per satu. Wajah-wajah yang keras karena luka, bukan karena benci. Mereka mengenal jenis derita yang aku tak pernah benar-benar tahu. Dan aku pun mulai menyadari, sama seperti kehadiranmu di Belanda, kehadiranku di sini adalah kesalahan—betapa pun baik niatku.
Kamu memberikan isyarat, dan aku keluar meninggalkanmu di dalam. Sayup-sayup kudengar suara-suara meninggi dari dalam, tapi aku meneruskan langkah ke rumah.
Malam itu bersalju. Kamu pulang dengan wajah murung dan luka kecil di pelipis kanan. Katamu, karena terjatuh di jalan. Tapi aku tahu, luka itu bukan karena jatuh.
“Aku ingin pulang,” katamu pelan sambil menatap jendela yang berkabut.
“Ke Hindia!?” jawabku kaget.
“Ke mana saja, yang terasa seperti di rumah sendiri. Di kampus aku tak diterima; di sini aku hanya manusia kelas dua. Yang membuatku lebih marah adalah, di antara orang sewarna denganku kamu menjadi penindas. Kamu temanku, bukan yang lain.” Katamu, pelan dan getir.
Keheningan menguasai. Aku tak tahu harus menjawab apa.
“Dunia ini sudah gila.” Hanya itu yang bisa keluar dari mulutku.
Kamu mengangguk pelan.
***
Pagi hari setelah sarapan, aku mengajakmu ke makam Ayah—ayah kita. Udara dingin menggigit tulang. Salju semalam masih tersisa di ujung batu-batu nisan. Kita berdiri di sisi pusara, menunduk lama. Kamu hanya diam, menatap batu yang sama.
“Ayah keras kepala,” ujarku lirih. “Tapi dia selalu tahu siapa yang pantas dia hormati. Termasuk kamu, dia menganggapmu anak sendiri.”
Kamu tidak menjawab. Tapi aku melihat tanganmu perlahan membuka saku dan meletakkan gulungan kecil tembakau di atas pusara. Baunya menguar, menyengat hidungku. Kali ini kamu membisikkan sesuatu, pelan sekali, tak tertangkap olehku.
“Hij is als mijn eigen vader,” kamu mengulangi.
Aku mengangguk.
“Hij is ook mijn vader, weet je nog?” kataku.
Ketika kita berjalan pulang, langkahmu lebih ringan. Suara trem dan kendaraan terdengar sayup-sayup, pandanganmu jauh, seolah berpikir keras dan menerawang.
“Aku menulis surat,” katamu tiba-tiba. “Ke rumah, ke kampung. Katakan aku akan pulang. Aku tak peduli dianggap menyerah atau takut, tapi di sana aku tahu tempatku, setidaknya.”
Aku menatapmu lama. “Kamu yakin?”
“Tidak. Tapi aku juga tidak yakin bisa hidup di dunia yang hanya melihatku dari warna kulit.”
Aku menarik napas panjang, lalu mengangguk. “Kalau itu keputusanmu, aku akan membantumu bersiap.”
“Aku akan menulis, sebanyak mungkin, dari tempatku sendiri. Supaya kita bisa bertemu lagi, bukan sebagai tuan dan hamba, atau penindas dan ditindas, tapi setara, manusia seutuhnya,” katamu sambil menoleh padaku. Ada seutas senyum kecil yang letih di wajahmu.
“Kamu tahu, dulu aku pikir Eropa adalah cahaya. Sekolah tinggi, pengetahuan, kesetaraan—seperti yang dikatakan guru-guru dahulu. Tapi sekarang aku sadar bahwa tak semua cahaya menerangi, kadang menyorot, menyilaukan,” imbuhmu.
Aku tertawa kecil, kamu ikut tertawa, pelan. Untuk pertama kalinya setelah sekian minggu, tawamu terdengar tulus.
“Aku akan berusaha dari sini, supaya dunia itu terwujud,” kataku.
***
Beberapa hari setelah itu aku mengantarmu ke dermaga. Kali ini, kita bertukar tempat.
Kamu yang melangkah ke kapal, aku yang melambai. Di tanganmu masih tergenggam koper cokelat tua peninggalanku—warisan pertemanan.
Topimu masih kebesaran, tapi kini wajahmu tegas, matamu tak lagi kekanakan.
“Hati-hati di sana,” kataku. “Dan kalau kamu menulis, jangan lupakan aku.”
Kamu tertawa. “Akan selalu ada bab khusus untuk keanehan kulit putih sepertimu.”
Kapal perlahan menjauh. Amsterdam tetap dingin. Di antara kabut dan salju, aku tahu bahwa kita telah memilih—dan sekali memilih, tak bisa kembali.
Sejarah akan mencatat banyak hal. Dan entah di halaman ke berapa, namamu akhirnya akan ditulis juga. Apabila itu terjadi, aku hanya ingin namaku tetap berada di sebelahnya.
*****
Editor: Moch Aldy MA
