Ponsel itu tergeletak di atas meja makan, di samping piring yang belum sempat ia angkat sejak pagi. Layarnya hitam, tetapi bagi Herman, benda itu terus menyala di kepalanya. Seperti mata yang tidak berkedip. Seperti saksi yang bisa mempermalukannya kapan saja.
Ia berdiri lama di dapur kontrakan, menatap meja dari jarak aman, seolah ponsel itu bisa berjingkrak-jingkrak dan membuka dirinya sendiri. Dari luar, suara penjual gas elpiji lewat, disusul motor kurir ekspedisi yang knalpotnya serak tak terkendali. Dunia berjalan seperti biasa. Hanya Herman yang berhenti.
Sejak semalam, dada Herman terasa seperti diikat tali tambang. Bukan sebab asma, tetapi sebab bayangan. Bayangan dirinya terbaring kaku, dikerumuni tetangga, lalu seseorang mengambil ponselnya untuk menghubungi keluarga. Bayangan jari orang asing membuka layar, menggulir jari, lalu sampai ke aplikasi galeri dan menemukan seribu tiga ratus dua puluh enam video porno yang ia koleksi. Sehingga raut wajah-wajah yang tadinya iba berubah menjadi bergidik-geli.
Ia meneguk air putih. Tenggorokannya tandus. Air itu tidak sampai menghapus rasa asin yang menetap di lidahnya sejak bangun tidur.
Herman sama sekali bukan orang penting. Usianya tiga puluh tujuh, bekerja sebagai staf administrasi di kantor distributor alat tulis. Pekerjaan yang membuatnya akrab dengan kolom, angka, dan stempel. Setiap hari ia berangkat pukul tujuh lewat sepuluh, pulang pukul lima lewat sedikit, kecuali jika hujan dan jalanan macet. Ia dikenal pendiam, rajin, dan tidak pernah mau tahu apa urusan orang lain. Di grup WhatsApp kantor, namanya jarang muncul. Kalau muncul, biasanya paling banter hanya untuk mengirim emotikon tanda jempol.
Di mata tetangga kontrakan, ia juga tidak meninggalkan kesan apa pun. Ia menyapa seperlunya, membayar tepat waktu, dan tidak pernah membawa tamu. Pemilik kontrakan pernah berkata pada istrinya bahwa Herman itu orang baik dan kelihatan alim walau jarang salat berjemaah ke musala. Herman mendengar kalimat itu secara tidak sengaja, dan menyimpannya seperti nota kecil di saku. Ia tidak pernah membantah, tetapi juga tidak pernah merasa cocok mendeskripsikannya.
Pagi itu, ia tidak berangkat kerja. Ia sudah menyiapkan baju, menyetrika dengan rapi, lalu membatalkan semuanya. Kemeja salur biru muda itu digantung kembali. Celana bahan berwarna hitam dilipat. Pantofel dibiarkan di rak. Ia duduk di kursi plastik dan menatap lantai. Jantungnya berdetak terlalu keras untuk ruangan sekecil itu.
Pikirannya berulang pada satu hal. Mati.
Ia tidak takut mati sebab neraka atau siksa kubur. Ia juga tidak pernah terlalu akrab dengan cahaya tuhan atau malaikat. Yang membuatnya ngeri adalah apa yang tertinggal. Terutama ponsel itu.
Sejak beberapa minggu terakhir, Herman merasa tubuhnya aneh. Kadang dada kirinya seperti diremas-remas, kadang napasnya pendek. Ia sudah berniat ke puskesmas, tetapi selalu menunda. Baginya, pergi ke dokter adalah mengakui kemungkinan terburuk. Dan kemungkinan terburuk itu selalu datang bersama skenario yang sama.
Jika ia mati mendadak, siapa yang akan membuka ponselnya? Dan bagaimana jika orang itu menemukan film bokep di dalamnya?
Ibunya sudah tua dan tinggal di kampung. Adiknya jarang menelepon, tetapi akan datang jika mendengar kabar buruk. Tetangga kontrakan tentu akan membantu. Barangkali Pak RT. Barangkali ibu pemilik kontrakan. Mereka semua orang baik, pikir Herman. Justru itu masalahnya.
Ponsel itu menyimpan terlalu banyak malam yang tidak pernah ia ceritakan pada siapa pun. Terlalu banyak waktu kosong yang diisi dengan aplikasi VPN, fitur auto-rotate, dan penyuara telinga. Terlalu banyak pencarian yang dihapus peramban, lalu muncul lagi. Ia tidak menganggap dirinya mesum atau rusak. Ia hanya manusia tua yang kesepian dan penat, yang menemukan cara paling mudah dan murah untuk merasa hidup walau sekejap. Sesingkat ejakulasinya.
Namun ia tahu, penjelasan filosofis-eksistensial semacam itu tidak akan pernah sampai. Yang sampai hanya thumbnail, judul video, dan durasi. Yang sampai hanyalah kesimpulan. Herman adalah manusia amoral.
Ia berdiri dan mendekati meja. Tangannya gemetar ketika mengambil ponsel. Beratnya terasa berlipat. Ia menekan tombol daya. Layar menyala, meminta sidik jari. Ia menempelkan ibu jari. Ponsel terbuka dengan patuh, seperti biasa. Fon sebesar pohon nangka dan kecerahan layar maksimal menyambutnya, sehingga matanya pun menyipit.
Ia langsung masuk ke pengaturan, mencari sesuatu yang sudah lama ia dengar, tetapi tidak pernah ia coba. Fitur pengunci aplikasi galeri.
Seolah tak ingin ambil pusing, Herman meletakkan ponsel kembali, lalu duduk. Napasnya masih berat. Keringat muncul di pelipis. Di luar, matahari naik perlahan, menyinari gang sempit. Ibu pemilik kontrakan lewat sambil membawa sapu. Mereka beradu pandang. Ibu itu tersenyum kecil. Herman membalas, walau rasanya serupa meminjam wajah orang lain.
Siang hari, dadanya masih terasa sesak. Kali ini lebih lama. Ia memijat pelan, berharap rasa itu pergi sendiri. Ia teringat ayahnya yang meninggal sebab serangan jantung di tengah sawah, jatuh begitu saja di antara batang padi. Waktu itu, orang-orang lebih sibuk mengurus jenazah ketimbang memikirkan apa yang ada di saku celana ayahnya. Herman ingat, dompet ayahnya dibuka oleh pamannya untuk mencari KTP. Isinya uang lusuh dan foto ibu yang sudah pudar.
Herman membayangkan setelah ia mampus, adiknya atau siapapun itu, mengetahui kata sandi pengunci aplikasi galerinya dan mendapati segudang video porno miliknya.
Ia berdiri tergesa, mengambil jaket, dan keluar. Ia memutuskan ke puskesmas. Jalanan panas menyengat, tetapi ia membawa kuda besinya segesit mungkin, nyaris seperti orang yang dikejar anjing rabies.
Di ruang tunggu puskesmas, ia duduk di antara ibu-ibu dan seorang bapak yang batuk terus-menerus. Televisi menyiarkan sinetron dengan volume rendah. Herman menatap lantai. Tangannya menggenggam ponsel di saku jaket. Ia membayangkan jatuh pingsan di kursi itu. Ia membayangkan perawat mencari nomor darurat.
Ia menuliskan nomor adiknya di catatan kecil, lalu merobeknya. Kertas itu terlalu jujur.
Saat namanya dipanggil, ia masuk ke ruang dokter. Dokter itu muda, berkacamata, dan berbicara dengan nada datar yang menenangkan. Ia bertanya tentang keluhan, riwayat, dan kebiasaan. Herman menjawab seperlunya. Ia tidak menyebut ponsel, tentu saja.
Pemeriksaan berlangsung singkat. Dokter menyimpulkan bahwa keluhan Herman lebih mirip kelelahan campur kecemasan belaka. Maka ia disarankan istirahat, mengurangi rokok juga kopi, dan jika perlu, konsultasi lanjutan. Herman mengangguk. Di lubuk hatinya, ia ingin bertanya apakah kecemasan bisa membunuh, tetapi pada akhirnya menahan pertanyaan polos itu dalam tenggorokan.
Di luar puskesmas, ia duduk di bangku semen. Angin bergerak malas. Ia merasa sedikit lebih ringan, tetapi bayangan itu belum pergi. Ia tahu, diagnosis bukan jaminan.
Sore hari, ia pulang dan mendapati pesan dari kantor. Atasannya menanyakan kabar dan meminta laporan yang tertunda. Herman membalas singkat. Ia berbaring di kasur, menatap plafon. Ponsel ia letakkan di samping kepala, seperti kebiasaan. Ia menoleh, lalu memalingkan wajah. Ia seperti tidur dengan sesuatu yang bisa menikam kapan saja.
Malam datang. Lampu gang menyala. Suara televisi tetangga terdengar. Herman bangkit dan duduk di meja. Ia mengambil kertas dan pulpen. Ia menulis surat. Bukan surat wasiat tentang harta, sebab ia tidak punya apa-apa selain biji pelirnya yang besar sebelah. Ia menulis tentang ponsel. Tentang aplikasi galeri yang sebaiknya tidak dibuka. Tentang permintaan sederhana agar ponsel itu dikubur, dibakar, ditenggalamkan, atau dimusnahkan dengan cara apapun segera setelah kematiannya.
Setelah selesai, ia membaca ulang. Kalimat-kalimat itu nampak canggung dan sedikit tolol. Ia membayangkan adiknya membaca, lalu menghela napas, lalu tertawa kecil, lalu merasa bersalah sebab tertawa. Herman melipat surat itu dan menyelipkannya ke dalam dompetnya yang juga dihuni kertas lusuh bergambar lelaki berkumis memegangi parang.
Pukul sebelas malam, dadanya kembali terasa berat. Ia bangkit, berjalan ke kamar mandi, dan membasuh wajah. Cermin memantulkan wajahnya yang pucat pasi. Ia menatap matanya sendiri. Di sana tidak ada hal-hal keren, juga tidak ada kejahatan besar. Hanya ketakutan ganjil yang terlalu lama dipelihara.
Ia kembali ke kamar dan duduk. Ponsel ada di tangan. Jarinya bergerak ekspres, seolah akhirnya tahu apa yang mesti dilakukan. Ia membuka pengaturan, mencari fitur reset pabrik untuk mengembalikan ponselnya seperti semula. Sambil menghela napas tidak terlalu panjang, ia mengklik tombol itu.
Setelah selesai, ia merasa kosong. Bukan lega, tetapi ringan seperti setelah menangis lama. Nyaris serupa membereskan rumah setelah pesta.
Ia meletakkan ponsel di meja, lalu berbaring. Detak jantungnya perlahan melambat. Ia terlelap dengan cepat, untuk pertama kalinya dalam beberapa hari.
Pagi hari, ia bangun dengan cahaya matahari di wajah. Dadanya masih terasa aneh, tetapi tidak sesak. Ia duduk dan mengingat apa yang ia lakukan semalam. Ia tersenyum kecil, lalu bangkit. Ia mandi, berpakaian, dan berangkat kerja. Di jalan, ia melihat seorang lelaki tua terpeleset, lalu bangkit lagi dengan bantuan orang-orang. Hidup terus berjalan, pikir Herman, tanpa peduli apakah kau menonton film biru atau tidak.
Di kantor, ia menyelesaikan laporan. Atasannya menepuk bahunya. Rekannya bercanda tentang libur. Herman ikut tersenyum. Beberapa minggu kemudian, dadanya membaik. Ia tetap sesekali cemas, tetapi tidak lagi dikejar bayangan yang sama. Ia masih manusia dengan kebiasaan-kebiasaan kecil yang tidak ia ceritakan, tetapi ia tahu, jika suatu hari ia mendadak modar, yang tersisa bukanlah pengadilan moral.
Suatu sore, ketika hujan turun pelan, Herman duduk di kontrakan, membaca koran bekas yang ia beli untuk alas meja. Di kolom kecil, ada berita tentang seseorang yang meninggal mendadak di halte. Berita itu singkat, dingin, dan selesai dalam beberapa baris. Tidak ada tentang ponsel. Tidak ada tentang video bokep.
Herman melipat koran itu dan menyeduh kopi.
******
Editor: Moch Aldy MA
