Kalau Mau Jadi
di negeri ini
kalau kau mau jadi orang
tak perlu mulutmu banyak bertanya
posisi bisa naik asal kau ahli
menjilat ke atas, menginjak yang di bawah
dan jangan pernah sekalipun bilang tidak
kalau kau mau terlihat cakap
tak usah repot baca buku tebal
tak perlu kau paham sejarah
filsafat
atau konstitusi
yang penting kau mahir mengolah dalih
semua itu gampang sekali
bila kau jadi penurut
seperti anjing pelacak milik tuan
tahu siapa harus diendus
tapi bisanya cuma menggonggong
menunggu aba-aba
karena di negeri ini
logika kalah pada jabatan
etika tunduk pada relasi
dan kebenaran hanya diakui
bila keluar dari mulut yang berduit
kalaupun ada yang jadi pemimpin
itu bukan karena nalar atau ilmu di kepalanya
tapi seberapa fasih ia bisa
menirukan suara majikannya
(Jambi, 2025)
–
Takut Pada Buku
apa ketakutan yang kau punya pada buku?
apakah kau takut kalah usia—
sebab tulisan bisa hidup lebih lama
dari usiamu
atau kau takut dibaca
takut rahasiamu bocor
di catatan kaki sejarah
atau di kutipan kecil yang kau anggap
menghina
apa takutmu pada buku begitu dalam
hingga kau lebih memilih api
daripada argumen
kau takut buku membakar kepalamu
maka kau lebih dulu membakarnya
kau gentar pada terang yang ditawarkannya
karena ia bisa membuka yang kau tutupi
dan menjernihkan yang sengaja kau keruhkan
kau kira membakar akan menghapusnya
sayangnya ia takkan pernah benar-benar dilahap api
ia akan selalu tumbuh
hidup di kepala
yang sempat membacanya
dan menyala di pikiran dan lidah
yang berani menyuarakannya
(Jambi, 2025)
–
Tim Kendali Emosi Bapak
negara kini beroperasi aneh
prioritasnya bukan lagi kesejahteraan umum
melainkan kenyamanan psikologis Bapak
mereka adalah staf kepercayaan dengan akses istimewa
pekerjaan resminya kurator informasi eksekutif
motivasi mereka jelas: investasi jangka panjang
yaitu menjaga kedekatan dengan pusat keputusan
alur kerja harian mereka adalah proses pemurnian
amputasi total pada setiap masukan yang bernada negatif
memastikan setiap laporan adalah narasi yang dikultivasi
data yang buruk dilebur
diubah menjadi potensi pertumbuhan
hanya bentuk yang menegaskan kebenaran visi Bapak yang disajikan
arah negara ini sangat spesifik dan personal
ditentukan bukan oleh kebijaksanaan kolektif
melainkan oleh persepsi damai satu pikiran
satu perintah mutlak mengikat semua:
bapak tidak boleh merasa adanya keraguan
bapak tidak boleh merasa tertekan
terutama tidak oleh opini publik—
mereka adalah penyedia realitas alternatif yang sempurna
(Jambi, 2025)
–
Emas di Jantung Rimba
traktor beringas itu merangkak
di atas urat nadi ibu bumi kami
alat beratnya merobek paru-parunya
dengan izin yang basah oleh air matanya
mana mungkin mereka kenal teduhnya hutan
tak tahu wangi humus yang basah
namun hebatnya
lihai bicara tentang lahan tidur
dengan lidah yang hanya beraroma rupiah
lalu mereka pasang pagar besi
melarang kami menghirup udara
hanya mesin keji yang boleh masuk
menangguk untung menumpuk dosa
mereka tak kenal kenyang
mereka tak tahu cukup
kami bukan bangsa pendiam
jika akar dicabut tanah pasti melawan
kami pilih berjuang daripada tewas tanpa perlawanan
mari bersatu rebut kembali hijau ini
lawan mereka!
hidup kami tak ada di uang mereka
hidup kami ada di tangan kita
(Jambi, 2025)
–
Cara Bicara yang Tak Mereka Sukai
aku bicara terang-terangan
tak kubungkus dengan pita
tak kulapisi dengan gula
namun mereka menyebutnya itu bukan kritik
hanya amarah tanpa dasar
mereka lebih terima
pada protes dan kritik bersuara rendah
yang duduk rapi menunggu giliran
seolah ketidakadilan hanya layak ditegur dengan bahasa bunga
dengan tubuh sedikit menunduk
atau bahkan mengesot
kita tahu betul
dalam lingkar kekuasaan
kekerasan justru datang
dalam bentuk paling sopan:
terselubung seragam dinas
rapat-rapat legal
dengan bahasa yang sudah disesuaikan
dan aku hanya berkata seadanya
tentang ketimpangan, tentang luka
dengan bahasa yang tak mereka sukai
aku tidak memilih kasar
aku hanya tak berutang gaya bicara
karena terlalu sering diminta diam
atas nama kesantunan sepihak
etika di tangan mereka
bukan alat memahami
tapi senjata membungkam
selama kekuasaan sibuk menilai cara bicaraku
lebih dari isi yang dibicarakan
yang rusak bukan adabku
tapi kejujuran mereka menatap kaca
(Jambi, 2025)
*****
Editor: Moch Aldy MA

Sangat indah, semoga tulisan puisi isi bisa selalu dibaca oleh teman-teman bloger. Salam kenal kak 😀