Wali kota itu berbicara ke mikrofon. Keringat membasahi pelipisnya, membuat rambutnya yang disisir rapi dengan pomade jadi berkilauan di bawah terik matahari. Ia berdiri di atas panggung darurat yang didirikan di halaman SD Negeri 99 Konoha. Di belakangnya, sebuah spanduk besar membentang. Huruf-hurufnya tebal dan merah.
PROGRAM MAKAN SIANG BERGIZI, GENERASI EMAS KONOHA.
Suara Wali kota menggelegar dari pengeras suara yang sedikit sember. “Ini adalah fondasi peradaban! Dengan perut yang kenyang, anak-anak kita akan berpikir lebih cerdas. Mereka akan menjadi insinyur, dokter, bahkan mungkin… wali kota!”
Ia berhenti sejenak, menunggu tepuk tangan. Seorang ajudan di sisi panggung memberi isyarat. Guru-guru, yang sudah hafal skenarionya, segera menyikut murid-murid di barisan depan. Anak-anak itu bertepuk tangan. Suaranya terdengar seperti hujan gerimis di atas atap seng, tidak serempak dan tanpa semangat.
Bu Lastri, kepala sekolah, berdiri di bawah pohon ketapang. Ia tidak bertepuk tangan. Ia hanya memandangi panggung itu. Satu panggung lagi, pikirnya. Satu lagi acara. Ia sudah melihat tiga pejabat berbeda meresmikan tiga program berbeda di halaman sekolahnya. Semuanya dimulai dengan spanduk dan pidato. Semuanya berakhir dalam diam.
Guru-guru lain sibuk. Mereka mengangkat ponsel, merekam video untuk status WhatsApp. Wajah Wali kota memenuhi layar kecil mereka. Beberapa guru bahkan melakukan siaran langsung di Instagram, menambahkan filter bunga-bunga di sekitar wajah sang pejabat.
“Sebuah terobosan,” kata Wali kota lagi, nadanya makin tinggi. “Sebuah inovasi yang akan dicatat sejarah!”
Bu Lastri mengalihkan pandangannya ke tumpukan food tray yang tersusun di dekat panggung. Dari sana, tercium bau samar sesuatu yang digoreng dengan minyak yang sudah dipakai berkali-kali.
Setelah pidato selesai, seorang wartawan dari koran lokal menghampiri Bu Lastri. Namanya Bambang. Ia masih muda, penuh semangat, dan selalu membawa buku catatan kecil.
“Luar biasa sekali ya, Bu? Tanggapan Ibu bagaimana dengan menu bergizi ini?” tanya Bambang, pulpennya sudah siap di atas kertas.
Bu Lastri memasang senyum tipis yang tidak sampai ke matanya. Senyum itu sudah ia latih selama dua puluh tahun menjadi pegawai negeri. “Tentu kami sangat mendukung. Ini program yang sangat baik untuk anak-anak.”
“Menunya sendiri bagaimana, Bu? Tadi saya dengar ada susu, telur, dan sayuran. Betul-betul paket gizi seimbang.”
Bu Lastri mengangguk. “Betul. Sangat seimbang.”
Ia tidak menceritakan pada Bambang bahwa susu gratis yang datang minggu lalu itu lebih mirip air cucian beras yang kebetulan pernah menatap sapi dari kejauhan. Ia juga tidak bilang kalau telur rebus yang mereka sebut “sumber protein unggul” kadang ukurannya begitu kecil sampai-sampai beberapa anak mengira itu kelereng yang ikut termasak.
“Anak-anak pasti senang sekali,” kata Bambang sambil mencatat.
“Sangat senang,” jawab Bu Lastri. Ia melihat seorang murid kelas dua, Dodi, sedang menatapnya dari kejauhan sambil memegangi perutnya. Mungkin diare lagi, pikir Bu Lastri. Kegembiraan memang punya banyak efek samping.
***
Program itu berjalan. Setiap hari, sekitar pukul sepuluh pagi, sebuah mobil boks tua akan berhenti di depan gerbang sekolah. Dua orang pria berkaos kotor akan menurunkan tumpukan food tray itu. Rutinitas itu menjadi bagian baru dari kehidupan sekolah. Begitu juga dengan keluhan-keluhan yang datang setelahnya.
Di ruang guru, saat jam istirahat, Bu Lastri mendengar laporan-laporan kecil itu.
“Bu, Dodi kelas dua tadi protes lagi,” kata Bu Susi, wali kelasnya. “Katanya nugget ayamnya keras. Pas dia lempar ke tembok, nuggetnya mantul.”
Pak Guntur, guru olahraga, menimpali. “Anak-anak kelas lima bilang sayur bayamnya cuma dapat dua helai daun, Bu. Yang satu kuning, yang satu sudah bolong-bolong.”
“Paling tidak masih ada bentuknya, Pak,” sahut Bu Susi. “Kemarin lauknya cuma bakwan jagung, tapi jagungnya nggak ada.”
Meski begitu, di media sosial, ceritanya berbeda. Bu Susi, beberapa menit setelah mengeluh, mengunggah sebuah foto ke Facebook. Foto itu menunjukkan seorang murid perempuan sedang tersenyum dengan sedikit terpaksa, di depan kotak makannya yang terbuka. Takarirnya sarkas, “Luar biasa! Terima kasih, Pak Presiden. Terima kasih, Pak Wali Kota. Anak-anak kami kini makan sehat setiap hari. #TanjungGadingMaju #GenerasiEmas”
Bu Lastri melihat unggahan itu dari komputernya. Ia tidak menekan tombol ‘suka’. Ia hanya membuka laci mejanya, mengambil sebotol obat maag, lalu menelannya tanpa air.
**
Masalahnya tidak berhenti di situ. Kiriman makanan mulai sering terlambat. Anak-anak seharusnya makan pukul sepuluh, tapi mobil boks kadang baru datang pukul dua belas, tepat saat bel pulang berbunyi. Nasi di dalamnya sudah dingin dan mengeras.
Lalu muncullah apa yang disebut oleh brosur dinas pendidikan sebagai “menu inovasi”. Menu itu datang tanpa pemberitahuan. Suatu hari, saat food tray dibuka, isinya adalah nasi putih dan sebuah benda persegi berwarna cokelat pucat. Tidak ada yang tahu itu apa. Bentuknya padat, teksturnya seperti gabus basah, dan baunya asam.
Seorang anak kelas tiga, Rina, menangis. Ia bilang benda itu mirip penghapus papannya yang jatuh ke selokan.
Bu Lastri mengambil satu sampel. Ia membawanya ke kantor, meletakkannya di atas piring. Ia menekannya dengan sendok. Benda itu hancur menjadi remah-remah lembap. Ia menciumnya lagi. Baunya seperti tahu yang sudah menyerah pada nasib. Tahu yang sudah melewati masa jayanya, lalu di-press ulang untuk memulai hidup baru yang menyedihkan.
Malam itu, Bu Lastri tidak bisa tidur. Ia ingin menelepon seseorang di dinas. Ia ingin protes. Ia ingin bertanya apakah mereka benar-benar berpikir anak-anak bisa membangun peradaban dengan lauk dari tahu basi. Tapi ia tahu apa yang akan terjadi. Teleponnya akan disambungkan dari satu staf ke staf lain. Akhirnya, seseorang akan berkata dengan nada bosan, “Ibu tidak mendukung program pemerintah? Ibu mau dianggap anti-pembangunan?”
Jadi, ia tidak menelepon. Ia hanya berbaring di tempat tidurnya, menatap langit-langit, dan membayangkan betapa sering orang dewasa menghancurkan anak-anak.
**
Keesokan paginya, Bu Lastri sudah mengambil keputusan. Keputusan kecil yang bodoh. Saat mobil boks itu datang, dan dua pria seperti biasa menurunkan kotak-kotak makanan, Bu Lastri tidak kembali ke kantornya. Ia berjalan keluar gerbang, menyalakan motor matic-nya yang sudah tua, dan mengikuti mobil boks itu dari kejauhan. Kabarnya, dapur untuk makan siang gratis dipindah ke suatu tempat.
Ia merasa seperti mata-mata di film murahan. Mobil boks itu tidak berjalan ke arah pusat kota, tempat restoran-restoran atau perusahaan katering berada. Mobil itu justru berbelok ke kawasan industri di pinggir kota, sebuah area yang penuh dengan gudang-gudang berkarat dan jalanan berlubang.
Mobil itu akhirnya berhenti di depan sebuah gudang besar. Di atas gerbangnya ada plang nama yang sudah pudar.
CV TERANG BENDERANG ABADI.
Di bawahnya ada tulisan yang lebih kecil, “Spesialis Lampu Jalan & Solusi Logistik.”
Bu Lastri memarkir motornya di balik tumpukan drum bekas. Ia berjalan mengendap-endap mendekati gudang. Gerbangnya sedikit terbuka. Ia mengintip dari celah itu.
Di dalam, tidak ada dapur. Tidak ada kompor besar. Tidak ada koki berseragam putih. Yang ada hanyalah tumpukan kardus yang menjulang hingga ke atap. Kardus-kardus biskuit, sarden kalengan, dan mi instan. Banyak di antaranya tampak kempot dan berdebu. Di sudut lain, beberapa pria berkaos singlet sedang berdiri di sekitar drum-drum plastik biru besar. Mereka menuangkan sesuatu dari karung-karung tak berlabel ke dalam drum, lalu mengaduknya dengan sebatang kayu. Di dekat mereka, tumpukan tahu yang sudah menghitam teronggok di atas terpal.
Lalu Bu Lastri melihatnya. Seseorang sedang mengoperasikan sebuah mesin press hidrolik kecil. Ia memasukkan adonan dari drum itu ke dalam mesin, lalu menarik tuasnya. Beberapa detik kemudian, keluarlah benda-benda persegi berwarna cokelat pucat. Menu inovasi.
Bu Lastri mundur perlahan. Perutnya mual. Jadi ini penyedianya. Bukan perusahaan katering. Bukan ahli gizi. Tapi kontraktor lampu jalan yang kebetulan punya gudang. Bahan-bahannya bukan dari pasar, tapi dari tumpukan stok kedaluwarsa yang entah didapat dari mana.
Ia teringat lagi pidato Wali kota. Tentang inovasi. Ternyata benar. Inovasi ekonomi sirkular akhirnya berhasil ditemukan di Konoha. Dari tong sampah supermarket, langsung ke piring anak-anak sekolah.
Bu Lastri menelepon Bambang, si wartawan koran lokal. Ia tidak menyebutkan namanya. Ia hanya berkata, “Kalau Anda mau berita besar, coba periksa gudang CV Terang Benderang Abadi di kawasan industri.” Lalu ia menutup telepon.
Berita itu meledak. Koran lokal memuatnya di halaman depan. Foto gudang itu, dengan tumpukan makanan kedaluwarsa, menjadi pembicaraan di warung-warung kopi. Bu Lastri menunggu. Ia menunggu kepanikan. Ia menunggu permintaan maaf. Ia menunggu program ini dihentikan.
Tapi yang terjadi selanjutnya adalah sesuatu yang tidak ia duga.
Dua hari kemudian, Wali kota menggelar konferensi pers. Ia berdiri di podium, wajahnya tampak serius dan penuh wibawa. Di belakangnya, spanduk baru dipasang.
KONOHA KOTA TANPA LIMBAH.
“Apa yang diberitakan media itu adalah hoaks,” kata Wali kota dengan tenang. “Ini adalah gerakan zero waste! Kami menyelamatkan makanan yang masih layak namun akan dibuang oleh pasar modern. Kami mengolahnya kembali. Kami mencegah pemborosan! Kami justru mengajarkan hal baik kepada anak-anak!”
Bambang, si wartawan, mengangkat tangan. “Tapi Pak, beberapa anak dilaporkan sakit perut.”
Wali kota tersenyum penuh pengertian. “Itu namanya proses adaptasi pencernaan. Tubuh mereka sedang menyesuaikan diri dengan gizi yang lebih kompleks dan alami, bebas dari pengawet.”
Keesokan harinya, headline koran lokal berbunyi, “Wali Kota Pahlawan Lingkungan. Ubah Sampah Makanan Jadi Berkah untuk Siswa.” Ada fotonya sedang memegang salah satu lauk berbentuk kotak misterius itu, tersenyum ke arah kamera.
Di sekolah, tidak ada yang berubah. Mobil boks itu tetap datang. Anak-anak tetap antre dengan wajah pasrah. Mereka sudah tidak protes lagi. Mereka hanya makan apa yang bisa mereka makan, dan membuang sisanya.
Sore itu, setelah semua murid dan guru pulang, Bu Lastri duduk sendirian di kantornya. Ruangan itu sunyi. Hanya ada suara dengung pelan dari kipas angin di langit-langit. Di atas mejanya tergeletak sebuah piring plastik kosong, sisa dari makan siang tadi. Ia memandang piring itu. Permukaannya sedikit berminyak.
Ia berpikir tentang esok hari. Mobil boks itu akan datang lagi. Anak-anak akan antre lagi. Guru-guru akan mengunggah foto lagi. Wali kota mungkin akan meresmikan program baru lagi. Semuanya akan terus berputar, seperti adonan di dalam drum-drum biru itu.
Ia mengambil piring kosong itu, membaliknya di tangannya. Piring itu ringan. Terlalu ringan.
Ia bergumam pada ruangan yang kosong itu, pada kipas angin, pada tumpukan berkas di mejanya.
“Besok lauknya apa, ya?” bisiknya. “Sisa ban bekas, mungkin?”
Tidak ada yang menjawab. Ia meletakkan kembali piring itu di atas meja. Lalu ia hanya duduk di sana, dalam keheningan, menunggu hari esok.
*****
Editor: Moch Aldy MA
