Stolen Focus: Sebuah Buku Panduan Melawan Distraksi

Munawir Mandjo

2 min read

Kita hidup dalam dunia serba cepat: berpindah ruang dengan cepat, menerima informasi dengan cepat, bertransaksi cepat, menyantap makanan cepat saji, bahkan multitasking untuk menyelesaikan pekerjaan secara cepat. Dorongan untuk melakukan dan memperoleh sesuatu secara cepat dan instan membuat kita mengabaikan proses atau waktu berkontemplasi. Padahal, waktu berproses dan berkontemplasi merupakan momen yang kita butuhkan untuk menjadi pribadi lebih tangguh. Perubahan cara hidup cepat ini akan memengaruhi kita, baik sebagai individu maupun sebagai kelompok.

Johann Hari merasakan dunia yang didasari kecepatan ini ternyata menjadi salah satu faktor yang menghancurkan fokus kita. Ia secara pribadi menyadari perubahan yang dialami orang-orang di sekitarnya. Mereka tak lagi mampu memberikan perhatian pada hal-hal penting. Kegiatan yang membutuhkan fokus lama, seperti membaca buku, sudah kurang diminati. Krisis perhatian dan fokus ini mendorong dirinya bergelut dalam usaha pencarian penyebab hilangnya serta cara mendapatkan kembali fokus dan perhatian kita.

Lantas, seberapa penting kita perlu menjaga fokus dan perhatian kita. Ada tiga alasan. Pertama, kurangnya fokus akan menyebabkan masalah di tingkat individu yakni kehidupan kurang berarti. Bila kita tidak mampu memberikan perhatian yang berkelanjutan kita tidak akan mencapai hal-hal yang kita inginkan.

Kedua, kurangnya fokus bisa menyebabkan masalah di tingkat masyarakat. Sebagai bagian dari masyarakat, kita memiliki tanggung jawab sosial untuk mengatasi setiap tantangan atau persoalan yang ada seperti krisis iklim, ancaman demokrasi, atau kesenjangan ekonomi ekstrem. Demi mengatasi tantangan ini, kita memerlukan fokus agar kita memiliki kemampuan memecahkan masalah.

Baca juga:

Ketiga, hanya dengan memahami sesuatu secara mendalam, kita bisa melakukan perubahan. Untuk memahami sesuatu mendalam tentu kita memerlukan fokus (hal xxv).

Johann Hari pertama-pertama menjelaskan jika hilangnya fokus kita disebabkan karena meningkatnya kecepatan oleh banjir informasi. Jean Baudrillard dalam salah satu karyanya mengistilahkan keadaan ini sebagai “implosi informasi” yakni ledakan informasi ke arah manusia (pusat). Di era internet, kita tidak perlu repot mencari informasi. Sebaliknya, informasi itulah yang akan mendatangi kita.

Baca juga:

Padahal penelitian yang dilakukan Profesor Earl Miller jika manusia berpikiran tunggal (monotasking). Manusia memiliki kapasitas kognitif yang sangat terbatas karena struktur dasar otak. Namun, alih-alih mengakui ini, kita malah menciptakan mitos jika kita dapat memikirkan tiga, lima, hingga sepuluh hal pada saat yang bersamaan (multitasking) (hal 32). Volume informasi yang berlebihan membuat kita mengalami basah kuyup informasi, membuat otak kita lelah mencerna informasi.

Sialnya, setiap waktu kita mengalami distraksi karena banjir informasi, baik dari notifikasi, media sosial, atau email. Akibatnya kita kesulitan mempertahankan fokus. Sejalan dengan studi yang dilakukan Profesor Michael Posner di University of Oregon, apabila Anda fokus pada sesuatu dan terinterupsi, Anda membutuhkan waktu rata-rata 23 menit untuk kembali ke keadaan fokus yang sama (hal xxiii).

Namun, distraksi yang disebabkan oleh banjir informasi ini tidak bisa dilepaskan dari peran ideologi besar di baliknya, yakni Kapitalisme. Buku ini juga menggambarkan bagaimana Kapitalisme terus berupaya mencari keuntungan dari waktu yang kita habiskan di depan layar ponsel.

Semakin lama kita menghabiskan waktu, maka semakin banyak keuntungan yang bisa mereka peroleh baik dari iklan ataupun kebutuhan yang mereka ciptakan. Senada dengan ungkapan Herbert Marcuse jika produk-produk di masyarakat tidak diciptakan untuk memenuhi kebutuhan, tetapi kebutuhan yang sengaja diciptakan agar produk yang ada di masyarakat laku terjual. Melalui teknologi dan informasi, Kapitalisme akan berusa menciptakan kebutuhan serta meraup keuntungan sebesar-besarnya tanpa mempedulikan dampak buruknya bagi manusia.

Bukan hanya meningkatnya kecepatan yang bisa menghancurkan fokus kita, buku ini menguraikan dengan gamblang beberapa penyebab. Beberapa di antaranya adalah tumbangnya membaca berkelanjutan, lonjakan stres, pola makan, dan meningkatnya polusi. Johann Hari menyimpulkan berbagai penyebab ini dari hasil diskusi dan wawancara dari para ilmuwan di bidangnya. Selain itu, buku ini juga menawarkan beberapa langkah preventif yang bisa kita lakukan untuk mengatasi kurangnya atau hilangnya fokus kita.

Buku dengan 300-an lebih halaman lebih ini menarik dibaca oleh kalangan yang menganggap jika membangun fokus itu penting atau bagi mereka yang merasa mudah kehilangan fokus. Selain itu, buku ini semacam cerita personal yang dialami penulis sehingga mudah dipahami karena related dengan kehidupan kita saat ini.

Membaca buku ini mungkin membuat Anda akan mengurangi aktivitas di media sosial dan fokus untuk melakukan hal-hal lebih bermanfaat. Selain itu kita akan menemukan beberapa fakta menarik dari hasil wawancara dan penelitian yang disuguhkan misalnya tentang cara kerja otak atau pentingnya melamun.

Namun, sedikit catatan saya sebagai pembaca, jika media sosial merupakan salah satu hal yang menyebabkan hilangnya fokus kita, bagaimana dengan orang yang menggantungkan hidup dari aktivitas di media sosial? Konten kreator atau toko daring misalnya. Mereka tentu rentan terdistraksi, lantas apa solusi yang ditawarkan? Sayangnya, buku ini belum menyinggung persoalan ini. (*)

 

Editor: Kukuh Basuki

Munawir Mandjo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email