Sore merupakan sebuah band aliran indie dari Jakarta nan melankolis yang dibentuk pada tahun 2002. Beranggotakan Almarhum Ade Paloh (vocal/gitar), Awan Garnida (bassist), dan Bemby Gusti (drummer). Perjalanan Sore yang kurang lebih sudah 23 tahun ini, telah mengeluarkan sebanyak lima album. Salah satu lagu “Real, Is It” yang menjadi hidangan pembuka pada album terakhirnya yaitu, Quo Vadis, SORE? (2023) diciptakan sebelum Ade Paloh meninggalkan Sore untuk selama-lamanya.
Mencermati lirik dalam lagu “Real, Is It”, jujur saja saya mengkorelasikannya dengan kacamata ekonomi. Bunyi chorus pertama lagu itu, seketika mengingatkan saya terhadap teori Cost.
And girl (wahai wanita)
Knowing is the last thing to conceal (mengetahui adalah hal terakhir yang kusembunyikan)
When true love is the norm that’s always been (saat cinta sejati adalah hukum abadi yang selalu ada)
Secara teori, Cost adalah biaya yang dikeluarkan secara tersurat ataupun tersirat untuk memperoleh output tertentu. Artinya, jika seseorang menyembunyikan perasaan dan tidak secepatnya diketahui, sejatinya ia sudah mengeluarkan kerugian waktu dan tenaga (biaya) dan tidak mendapatkan sesuatu (output) yang diharapkan. Dalam ekonomi juga, sikap menyembunyikan perasaan menandakan adanya waktu dan tenaga sebagai aset yang terdepresiasi nilainya. Semakin lama perasaan dipendam, semakin biasa saja peniliaian kita di mata seseorang. Lebih ekstremnya, ia berpaling dari kita dan harus melihat kenyataan kalau ia sudah bersama orang lain. Pada akhirnya, menyembunyikan perasaan hanya membuat seseorang berandai-andai dalam pikiran dan terlalu kalut dalam penyesalan. Padahal, waktu dan tenaga yang dimiliki bisa untuk mengungkapkan perasaan yang kelak mendapat jawaban.
Baca juga:
Pada verse kedua “Real, Is It” juga sebenarnya mengandung pelajaran ekonomi yang tidak kalah berharga. Seseorang yang memiliki perasaan itu diibaratkan sedang mempertaruhkan modalnya di pasar saham. Dengan prinsip, tingginya risiko kerugian (penolakan) tetapi memberikan imbal hasil (penerimaan) yang lebih tinggi juga (high risk high return). Pasar yang sehat terjadi karena informasi-informasi yang ditemukan seimbang dan terbuka. Ketidakseimbangan dan ketidakterbukaan terjadi karena hanya diketahui oleh salah satu pihak. Dalam hubungan kita sebut sebagai cinta bertepuk sebelah tangan.
For all the love that is found (untuk semua cinta yang ditemukan )
I guess with you I risk my time (kurasa bersamamu mempertaruhkan waktuku)
And if it’s real (dan jika itu benar)
Then I’d set my soul confined (maka kukurung jiwaku hanya untuk ini)
Orang yang mempertaruhkan seluruh upaya pendekatan sampai mengutarakan perasaannya (modal) dan pada saat itu juga cintanya terbalas, maka seseorang telah meraih keuntungan yang diharapkan (take profit). Apabila cintanya ditolak, maka seseorang hanya membatasi kerugian pada saat itu saja (stop loss). Terkadang, cinta ditolak itu memang menyakitkan rasanya. Setidaknya, cinta yang ditolak hanya menghentikan kerugian secara jangka pendek dan bisa melihat peluang-peluang lain yang lebih menguntungkan. Namun, jika cinta diterima maka imbal hasil (return) yang diperoleh menjadi kebahagiaan secara jangka panjang.
Bagian bridge akhir “Real, Is It” semakin menyadari saya bahwa, seseorang yang terjebak dalam perasaan terpendam karena terlalu lama menyukai seseorang disebut sebagai Sunk Cost Fallacy.
When love is all around I dancе with you (Saat cinta ada di mana-mana, kuberdansa bersamamu)
Tomorrow will never be anothеr day too soon (Esok tak akan pernah datang terlalu cepat)
When love is all around I dance with you (Saat cinta ada di mana-mana, kuberdansa bersamamu)
Tomorrow will never be another day too soon (Esok tak akan pernah datang terlalu cepat)
Oh I know it’s all too soon (Oh, kutahu semuanya terlalu cepat)
Somehow (Bagaimanapun)
Dalam ekonomi-bisnis, Sunk Cost Fallacy merupakan biaya (waktu dan tenaga) yang dikorbankan tidak bisa kembali lagi karena mengambil keputusan yang salah. Waktu dan tenaga yang tidak kembali, tidak akan bisa memengaruhi keputusan di hari-hari yang akan datang. Lagi-lagi, mengungkapkan perasaan sama halnya dengan kita berinvestasi di pasar saham, pasti berisiko. Namun, jika kita tidak mencoba sebenarnya jauh lebih merugi karena kita tidak mendapat informasi pasti yang kelak akan kita sesali.
Baca juga:
Akhirnya, ekonomi memberikan pelajaran penting tentang kepastian dan kejujuran. Kepastian dan kejujuran merupakan aset yang bernilai tinggi dalam kehidupan dan menjadi tonggak dasar untuk melangkah ke depan. Ekonomi mengajarkan kehidupan ini sebagaimana Time Value of Money, memulai dari sekarang jauh lebih bernilai daripada memulainya saat nanti. Tidak menjadi masalah kita menerima jawaban getir daripada harus membuang waktu dan tenaga yang sama sekali tidak terealisasi..
Ada kalanya, mencintai seseorang itu seperti teori dasar permintaan dan penawaran. Dalam ekonomi yang terjadi di pasar semakin banyak permintaan, semakin banyak pula penawaran dan semakin banyak pula pertumbuhan. Itu sama halnya seperti kita yang mencintai seseorang, walaupun ia menawarkannya bukan kepada kita, meski cinta ini terus tumbuh kepadanya. Maka, jika jatuh cinta segera ungkapkanlah. Jangan sampai disesali dan pada akhirnya hanya bisa melahirkan syair-syair yang indah. (*)
Editor: Kukuh Basuki
