pretty much like to writes.

Sore dan Lima Tahapan Kedukaan

Felicia Wijaya

3 min read

Akhirnya saya memutuskan untuk menonton film Sore Istri Masa Depan yang kedua kalinya di bioskop. Pertama kali menonton film tersebut, saya dibuat terpukau dengan sinematografinya yang begitu apik. Setelah menyelami laman internet, ada banyak detail yang menarik dari film ini yang membuat saya akhirnya memutuskan untuk menonton kembali film Sore yang kedua kalinya di bioskop.

FIlm ini berbicara tentang Sore, istri Jonathan yang mengalami perjalanan ruang waktu untuk kembali ke masa lampau untuk menyelamatkan Jonathan dari pola hidupnya yang buruk. Sore bersikeras berusaha untuk mengubah pola hidup Jo yang berantakan; suka minum alkohol dan perokok berat, menjadi pola hidup yang lebih sehat. Hal ini dilakukan olehnya dengan satu tujuan, yakni mengubah hidup Jo jadi lebih baik sehingga ia tidak mati muda.

Baca juga:

Beberapa waktu lalu, saya sempat melihat perdebatan di internet terkait film ini. Ada yang mengatakan bahwa Sore punya Messiah Complex. Dikutip dari laman American Psychology Associate, Messiah Complex adalah keinginan atau dorongan yang kuat untuk seseorang menyelamatkan orang lain. Dalam film ini, tentu Sore yang memiliki keinginan kuat untuk menyelamatkan Jo dari kematiannya. Upaya Sore juga ia wujudkan dengan keras lewat hal-hal yang ia terapkan pada kehidupan Jo: mulai dari lari pagi, membuang semua minuman kerasnya, sampai mematahkan puntung rokok yang dimiliki Jo.

Film ini juga menciptakan diskusi yang menarik di internet, bagaimana netizen mulai menyematkan sebutan Mrs. I Can Fix Him pada Sore, melihat betapa kerasnya upaya Sore untuk mengubah Jo. Beberapa netizen juga mengatakan bahwa jika mereka berada di posisi Sore, mereka tak akan berusaha sekeras itu untuk mengubah Jo. Tak sedikit yang mengatakan bahwa mereka akan menyerah begitu saja dan tidak akan menyia-nyiakan lebih banyak waktu untuk menyelamatkan Jo. Bahkan, banyak yang menyayangkan upaya Sore yang sebegitunya buat Jo.

Menurut saya, setelah menonton film Sore tentunya, apa yang Sore upayakan ini sangat wajar. Ia baru saja kehilangan suaminya, dan ia diberikan kesempatan untuk mengulang waktu menemui suaminya, dan mungkin atas inisiatifnya berusaha untuk mengubah masa lalu Jo, supaya di masa depan Jo tidak meninggalkannya. Sore melakukan semua hal itu karena ia masih berduka kehilangan Jo, mengusahakan semua perubahan supaya Jo tidak meninggalkannya di masa depan.

Baca juga:

Jika kita mengaitkannya pada teori Lima Tahapan Kedukaan oleh Kubler-Ross, Sore yang terus berusaha mengulang waktu demi menyelamatkan Jo sesungguhnya sedang ada di tahap Bargaining. Mari kita bahas satu-persatu tahapan tersebut dengan mengaitkannya pada alur film Sore.

Pada tahapan pertama, ada tahapan Denial. Setelah mengalami perasaan duka, manusia akan cenderung untuk menolak kenyataan yang baru saja terjadi. Penolakan merupakan reaksi spontan otak untuk melindungi diri dari kenyataan yang dianggap terlalu menyakitkan. Pada tahap ini, kita bisa melihat potongan film yang menyajikan adegan Sore yang berlama di pemakaman Jo sembari menyeka air matanya. Setelahnya, Sore mulai menyusuri hasil potret Jo dan mendapati sebuah petunjuk yang mengatakan bahwa Arctic merupakan zona tanpa waktu, membuatnya berkelana ke Arctic sendirian.

Hal tersebut menandakan tahapan kedua, yakni tahapan Anger (Marah). Perasaan marah mulai timbul sebagai wujud protes, “Kenapa ini harus terjadi kepadaku?” Mereka yang masih di tahapan Anger biasanya akan jadi lebih sensitif, mudah tersinggung dan meledak-ledak. Merasa bahwa dunia tidak berlaku adil kepada mereka.

Setelah tahapan tersebut, baru muncul tahapan Bargaining. Inilah tahapan yang Sore lakukan sepanjang film. Berusaha untuk menego takdir, mengusahakan perubahan sehingga Jo bisa bertahan lebih lama. Sore terus menerus mengalami _timeloop_ demi mengulang apa yang ia usahakan untuk Jo. Hal ini sangat wajar dilakukan olehnya, karena Sore masih berusaha untuk mengusahakan “pembatalan” kematian Jo di masa depan. Ia masih berusaha bernegosiasi dengan waktu dan mungkin Sore berpikir ” Kalau aku bisa bikin pola hidup Jo jadi lebih baik, mungkin Jo gak akan mati”. Pada tahap inilah Sore, yang diberikan kemampuan untuk mengulang waktu berusaha untuk memperbaiki semuanya dan membatalkan kematian Jo.

Pada akhirnya, tiga hal yang tidak dapat diubah adalah: waktu, rasa sakit, dan kematian. Mau tidak mau, suka tidak suka waktu akan terus bergerak ke depan. Semua Bargaining yang dilakukan Sore tidak bisa diterima oleh Waktu. Dan tahapan selanjutnya muncul adalah tahapan Depression. Pada tahapan ini, manusia biasanya akan jadi lebih berdiam diri, menarik diri dari lingkungan, dan lebih suka sendiri. Mereka akan melalui perasaan sedih, merasa hampa, dan kehilangan minat pada hal yang mereka sukai.

Setelah semua tahapan tersebut, yang tersisa di akhir adalah tahapan Acceptance atau Penerimaan. Setelah menerima bahwa ia tak bisa mengubah apapun di kehidupan Jo, Sore akhirnya menerima takdirnya. Ia membiarkan dirinya hilang dan menyelesaikan tugasnya. Manusia pada tahapan ini biasanya sudah bisa berdamai dengan kenyataan dan mulai menjalani kehidupan mereka seperti biasa lagi. Kedukaan bukan menjadi suatu momok yang menakutkan, sebaliknya mereka sudah bisa bergerak maju dan memaknai hidup mereka kembali.

Setelah berusaha memahami ini semua, menurut saya apa yang Sore lakukan tidaklah berlebihan. Mengingat ia baru kehilangan suaminya, wajar saja jika ia berusaha untuk menyelamatkan suaminya saat diberikan kesempatan untuk melakukan itu semua. Kembali lagi, proses berduka memang proses yang sulit bagi semua yang ditinggalkan. Ia tidak bergerak maju begitu saja, sebaliknya bisa bergerak mundur maju, sembarangan, dan terasa menyakitkan.

Lewat film ini, saya jadi belajar lagi tentang memahami perasaan orang lain, terutama mereka yang berduka. Dan semoga tulisan ini bisa memberikan perspektif baru lagi bagi para pembaca sekalian. (*)

Editor: Kukuh Basuki

Felicia Wijaya
Felicia Wijaya pretty much like to writes.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email