Ketika tubuh Awan terhantam gas air mata, ia dan beberapa orang di sekitarnya tiba-tiba berubah menjadi semut. Entah gas air mata itu mengandung senyawa jenis apa, Awan tak mengerti. Gas itu mengubah tubuhnya menjadi semut—ya, semut kecil di tengah kerumunan demonstran.
Polisi kebingungan ke mana perginya orang-orang yang berkerumun tadi, termasuk Awan dan kawanannya. Mereka segera berlari menuju selokan yang penuh daun kering dan air basi dari sisa makanan. Sekuat tenaga mereka menghindar dari letupan gas air mata yang terus membanjiri pelataran Dewan Rakyat.
Dari kejauhan—mungkin dari dalam pagar gedung Dewan Rakyat itu—polisi riuh berteriak, “Cari orang-orang keparat itu! Mereka pasti sedang sembunyi!”
Dari sudut pandang selokan yang sempit, polisi dan tentara berhamburan, terus menembakkan gas air mata dan menyemprotkan air dari truk besar. Awan tak ingin melihat, tapi matanya nanar lalu tiba-tiba menangis. Teriakan terdengar dari seorang mahasiswa berjas kuning yang matanya terkena gas air mata. Mahasiswa lain berjas biru merintih meminta pertolongan karena diinjak polisi.
Awan berubah menjadi cengeng. Ia tak sanggup menatap pemandangan menyakitkan di hadapannya. “Hidup perjuangan!” teriaknya sambil menangis tersedu. Namun, tak ada semut lain yang memedulikannya. Kawanan semut itu perlahan beringsut melewati selokan, menjauhi demonstrasi yang kian memanas. Mereka mencium aroma makanan lezat dari ujung gedung sana.
Sementara para mahasiswa, masyarakat dengan jaket ojol, dan para ibu-ibu tak henti-hentinya meneriakkan perlawanan. “Hentikan! Polisi keparat! Tentara bangsat!”
Beberapa ibu mencoba menyelamatkan para mahasiswa yang ditarik, diinjak, dan ditangkap aparat dengan tongkat kayu kecil. Namun mereka didorong, tak peduli bahwa mereka perempuan. Mereka dihantam dengan kejam agar tidak melawan.
Awan tetap terpaku mengamati. Sebagai semut, ia tidak bisa menyelamatkan siapa pun, bahkan dirinya sendiri. Jika ia berani masuk ke tengah kerumunan pendemo, ia akan mati terinjak sia-sia. Hingga akhirnya seorang kawan semut berbisik padanya, “Kamerad, lebih baik kita menyelamatkan diri dan mengikuti gerombolan semut yang lain. Sepertinya mereka akan masuk ke Gedung Dewan Rakyat. Itu yang bisa kita lakukan sekarang.”
Asap terus berhamburan memenuhi halaman depan gedung Dewan Rakyat. Batu-batu beterbangan. Gas air mata terus meletus di antara mereka yang berlarian menyelamatkan diri.
“Kamerad, ayolah!” seorang semut menarik tubuh Awan yang diam membisu, sementara gas air mata sudah dekat. Penglihatan Awan mengabur. Saat itulah ia menyadari bahwa indra penciumannya menjadi sangat tajam. Ia mencium sesuatu—aroma makanan dari ujung selokan gedung Dewan Rakyat, jaraknya sekitar tiga ratus meter darinya. Ia mencium bau nasi kotak dengan lauk ayam, daging, sayur brokoli, serta sambal yang mungkin tak habis dimakan para anggota Dewan dan dibiarkan membusuk di ruangan mereka. Aroma hidangan basi itu membuatnya begitu lapar; seharian ia belum makan sesuap nasi. Mungkin itu yang dituju kawanannya, pikirnya.
Memang begitu kenyataannya. Para semut bergerak menuju gedung Dewan Rakyat karena lapar. Mereka bergosip bahwa makanan di sana lezat, padahal aromanya tak begitu mengenakkan—basi. Mereka ingin menenangkan perut yang meronta karena tak diberi makan seharian. Begitulah nasib mahasiswa, pikir Awan, sementara kebingungan terus menghantuinya.
Akhirnya ia mengikuti langkah kawannya. Ia melewati tepian kasar di bawah kakinya, ikut berlarian mengikuti aroma yang ditinggalkan semut lain. Jalannya terasa jauh, lebih jauh dari jarak antara kos dan kampusnya. Namun, perut mereka lebih mengerti; ia membawa mereka terus bergerak. Meski begitu, telinga Awan masih dapat mendengar jeritan dari kejauhan—suara-suara yang terus meminta keadilan. Ia menangis sepanjang perjalanan.
Setibanya di tangga yang menjulang, kawanan semut itu berusaha berjalan menanjak. Awan ngos-ngosan. Sebagai semut, ia merasa begitu kecil di bawah gedung Dewan Rakyat yang besar itu. Sementara semut lain bersemangat karena perut mereka terus memanggil agar diisi sesuatu, meski hanya nasi kotak bekas. Beberapa kali mereka berhenti menunggu kawanan yang lebih lemah agar tidak tertinggal.
Ketika mereka berhenti di tangga yang lebih luas, Awan menabrak sesuatu—barangkali lima semut juga ikut terbentur. Sesuatu yang hitam mengilap dan berbau oli bercampur minyak busuk. Beberapa dari mereka naik ke atas gundukan hitam itu, lalu mendapati ladang rambut rimbun berbau kaki. Tentu saja Awan tahu: itu kaki manusia. Bisa jadi polisi atau tentara. Ia mundur ketakutan.
Seorang semut bernama Izon, yang selalu sok tahu dan penasaran, mencoba masuk ke dalamnya. Dengan rahangnya, ia menggigit kaki manusia itu—seorang polisi yang sedang duduk santai mengamati kerusuhan dari pelataran tinggi. Gigitan semut kecil bernama Izon itu menimbulkan nyeri luar biasa. Polisi itu berteriak marah.
“Anjing!”
Ia memanggil temannya yang sedang merokok. Mereka tampak sama sekali tak peduli pada keriuhan di luar gedung. Kini perhatian mereka beralih pada seekor semut kecil yang menggigit kaki manusia.
“Banyak semut di sini, bajingan!” teriaknya.
Tiba-tiba gundukan berupa sepatu pantofel itu bergerak cepat, menginjak lantai ke sana ke mari. Beberapa semut yang masih menempel di sepatu berjatuhan; yang di bawah berhamburan. Awan terkejut hingga mematung. Pemandangan di atas kepalanya gelap—sepatu itu hampir menginjaknya. Untung seorang kawan mendorong tubuhnya menjauh. Ia tersadar bahwa ia hampir mati.
“Semut, asu!” kata seorang polisi yang gatal-gatal sambil menggaruk betisnya. Kakinya terus bergerak, menjadi gempa bagi para semut. Mereka terlempar ke sana ke mari, berusaha saling menggapai agar tetap bergerombol dan bertahan hidup. Saat mereka berhasil membuat lingkaran, mereka berlari menaiki anak tangga, membentuk barisan lurus dan rapi agar tidak kehilangan arah. Mereka kabur meninggalkan polisi yang masih emosi.
“Memalukan! Takut kok sama semut.”
Seorang aparat menertawakan kawannya yang ketakutan oleh sekawanan semut kecil. Ia menyebutnya Perwira Lemah, disambut tawa aparat lain.
Dari sudut kecil tangga itu, para semut ikut tertawa melihat kelucuan manusia. “Ayo teruskan, kamerad! Kita akan makan enak hari ini!” teriak Izon dari kejauhan. Ia telah mencapai anak tangga teratas, diikuti delapan semut lain yang terengah-engah.
Awan dan gerombolan semut yang tertinggal mempercepat langkahnya. Setibanya di pintu gedung yang megah, mereka melihat keanehan. Isinya hampa dan penuh kekosongan. Ke mana semua anggota Dewan Rakyat saat rakyat berjuang di halaman depan gedung mereka? pikir Awan.
Padahal rakyat sedang mati-matian menyuarakan tuntutan: transparansi anggaran Dewan Rakyat, pengembalian tentara ke barak, pengamanan demonstran, hingga pemberian sanksi tegas bagi anggota partai yang tak bekerja. Tapi yang Awan temui hanyalah kegelapan. Beberapa lampu menyorot tubuh mereka, memberi penerangan bagi perjalanan para semut. Kosong dan pengap—mungkin seperti otak mereka yang duduk di sini. Tak ada kehidupan. Ke mana mereka semua?
Lalu aroma yang sejak tadi mereka cari menyebar ke seluruh ruangan: sayur dan buah basi, daging berbau anyir. Beberapa semut yang sangat lapar kalang kabut mencarinya. Pada bilik pertama di sebelah kanan setelah meja resepsionis, Izon dan kawanannya melipir masuk karena aroma nasi basi yang kuat. Hingga akhirnya semut-semut lain berlarian mengikutinya. “Serbu, kamerad! Makanan sudah di depan mata!”
Di dalam ruangan kecil yang redup itu, meja-meja berantakan. Kotak nasi masih menumpuk di sudut, sebagian tumpah, sebagian dibiarkan setengah terbuka. Bau asam menyeruak seperti napas orang yang baru saja memakan bangkai.
Para semut menyerbu. Mereka berlari naik ke atas meja, menggigit butiran nasi basi, menyeret remahan daging ayam yang sudah menghitam. “Nikmat sekali!” seru salah satu dari mereka. “Kita seperti rakyat yang akhirnya merasakan remah-remah kekuasaan!”
Awan tak ikut makan. Ia hanya menatap nasi kotak itu dengan tatapan getir. Tulisan di tutup kotaknya jelas terbaca: Dewan Rakyat — Rapat Kerja dan Silaturahmi Nasional.
Ia tahu betul, nasi-nasi itu dibeli dengan uang rakyat—uang dari pajak yang ditarik dari keringat para pedagang kecil, tukang ojek, dan buruh yang tak pernah menikmati apapun selain utang dan kabar buruk di berita. Ia menghela napas panjang.
“Awan, kenapa tidak makan?” tanya Izon dengan mulut masih belepotan remah.
Awan menatap kawanannya satu per satu. “Apakah kalian tidak sadar? Kita ini sedang memakan apa yang seharusnya jadi hak kita sendiri.”
Beberapa semut berhenti mengunyah. Sebagian tetap melanjutkan, berpura-pura tak mendengar. Lapar, dalam bentuk apa pun, memang lebih kuat dari nurani.
Awan berjalan pelan menjauh dari meja itu. Langkah kecil kakinya membawa ia ke ruangan lain yang tampak lebih sepi. Di sana, cahaya lampu berkedip samar dari balik pintu bertuliskan “Server Room — Akses Terbatas”.
Rasa ingin tahu menuntunnya. Ia menyelinap masuk di antara celah pintu yang tak tertutup rapat. Suara klik-klik mesin server berdengung seperti detak jantung gedung itu. Lampu-lampu kecil berkedip hijau dan biru, seolah berbisik dalam bahasa yang hanya dimengerti mesin.
Di tengah ruangan, Awan melihat sesuatu: seekor semut besar, tubuhnya dua kali lipat dari semut biasa. Ia tampak sedang berdiri di atas kabel tebal berwarna hitam, menatap layar monitor yang menampilkan data keuangan Dewan Rakyat—angka-angka fantastis yang membuat kepala berdenyut.
“Siapa kau?” tanya Awan.
Semut besar itu menoleh. “Aku adalah semut penjaga rahasia,” katanya dengan suara serak. “Tugas kami menjaga angka-angka ini agar tidak bocor ke dunia manusia.”
“Rahasia apa yang kalian jaga?”
Semut besar itu tersenyum sinis. “Korupsi, kamerad. Kami diberi makan dari sisa-sisa kebusukan itu. Kami hidup di antara kabel, menjaga agar data tetap utuh dan tidak bisa diakses siapa pun. Kau pikir kenapa gedung ini tetap berdiri megah sementara rakyat di luar pingsan oleh gas air mata?”
Awan terpaku. “Berarti… bahkan semut pun bisa korup?”
“Tentu saja,” jawab semut besar itu. “Ketika manusia terlalu busuk, racunnya menular sampai ke kami.”
Tiba-tiba pintu ruangan terbuka. Sinar lampu putih menerobos masuk, disertai langkah berat manusia. Dua polisi berseragam hitam masuk sambil bercakap pelan.
“Ada yang bilang ruangan ini sempat disusupi, katanya ada yang aneh di sistem,” kata salah satu.
“Sudahlah, paling tikus,” jawab yang lain, tertawa.
Awan panik. Ia melihat Izon dan beberapa semut lain menyusul masuk, tak tahu apa yang sedang terjadi. Semut besar itu memberi isyarat. “Sembunyi di bawah meja! Mereka bisa memusnahkan kita hanya dengan satu semprotan pestisida!”
Namun Izon justru berlari naik ke kabel utama dan menggigitnya. “Kamerad! Kalau mereka korup, biarlah kita yang memutus arusnya!” teriaknya.
Cahaya biru meledak. Suara letupan kecil memantul ke seluruh ruangan. Mesin-mesin server berasap, alarm menyala. Polisi berteriak panik, berusaha memadamkan korsleting. Sementara itu, ratusan semut—termasuk Awan—berhamburan keluar melalui celah dinding, membawa tubuh Izon yang gosong.
“Dia mati sebagai pejuang,” bisik salah satu semut.
Dari luar, terdengar sirene pemadam dan langkah aparat yang tergesa. Gedung Dewan Rakyat kini gelap total. Layar-layar komputer mati, listrik padam. Dalam kegelapan itu, Awan menatap tubuh Izon yang hancur separuh, namun di wajahnya masih ada sisa senyum.
Malam turun perlahan. Suara tembakan gas air mata di luar mulai mereda. Hujan turun mengguyur halaman.
Awan memandang ke luar jendela gedung: ribuan manusia masih bertahan, menyalakan ponsel dan menyorotkan cahayanya ke langit. Dari atas, mereka tampak seperti titik-titik kecil—seperti semut.
Dan Awan sadar: mungkin selama ini manusia dan semut tak jauh berbeda. Sama-sama kecil di hadapan kekuasaan, tapi jika bersatu, bisa mengguncang bumi.
Ia menatap tubuh Izon yang kini diam. Dengan suara pelan, ia berbisik,
“Perlawanan belum mati, kamerad. Ia hanya berubah bentuk.”
Kemudian Awan berjalan menuju lubang di sisi dinding. Di luar, hujan turun deras, membasahi segala yang tersisa. Ia menatap jauh ke arah kerumunan yang mulai bersorak lagi di bawah sana.
Satu semut kecil berdiri di pinggir jendela gedung Dewan Rakyat, menatap ribuan manusia yang menolak menyerah. Ia mengangkat tangannya yang kecil, seolah berteriak tanpa suara:
Hidup rakyat. Hidup semut. Hidup perlawanan.
*****
Editor: Moch Aldy MA

Terus berkarya