Bisikan itu tidak pernah mati. Ia hanya beristirahat sejenak, seperti ombak yang surut sebelum kembali menghempas pantai. Suara itu, sebuah melodi asing bagi telinga orang lain, tapi akrab bagi jiwa, dan hanya aku yang bisa mendengar. Malam itu, saat kota terlelap, kembali aku kenakan topengku. Topeng sang eksekutor. Topeng sang perpanjangan tangan. Ia bukan topeng dari bahan keras, bukan pula topeng yang dihiasi ukiran. Topengku adalah ketiadaan. Sebuah wajah yang biasa-biasa saja yang tidak dikenali, tetapi dapat menyatu dengan keramaian dan menghilang di antara jutaan wajah lain yang sama-sama tersesat.
Bisikan itu menuntunku pada target baru, seorang politisi bernama Jayanegara. Wajahnya sering menghiasi layar televisi, suaranya menggebu-gebu di mimbar, mengutuk korupsi dan menyerukan reformasi. Ia adalah pahlawan bagi banyak orang, simbol harapan akan Indonesia yang lebih bersih. Namun, aku tahu kebenaran sebaliknya. Aku tahu bisikan itu tidak pernah salah. Di balik retorika penuh gairah itu, Jayanegara adalah otak dari jaringan korupsi terbesar yang telah merugikan negara triliunan rupiah. Ia merampok uang rakyat, uang dari keringat para buruh, dari pajak-pajak kecil yang dibayarkan oleh rakyat jelata. Ia memakan hak orang-orang miskin, mengubahnya menjadi kekayaan pribadi yang tak terhitung.
Aku melacaknya ke sebuah pesta mewah di hotel bintang lima, tempat yang ironisnya menjadi cerminan sempurna dari kepalsuan yang ia wakili. Para tamu mengenakan topeng, menari anggun di bawah cahaya lampu kristal yang berkilauan. Sebuah pesta topeng—ironi yang sempurna. Mereka semua mengenakan topeng, bukan hanya topeng fisik yang menyembunyikan identitas, tetapi juga topeng kepalsuan, kekuasaan, dan keserakahan. Mereka berpura-pura menjadi dermawan, filantropis, dan pahlawan, padahal di baliknya mereka adalah serigala berbulu domba yang siap memangsa. Dan di tengah kerumunan itu, Jayanegara adalah raja di antara mereka yang bertopeng. Ia mengenakan topeng paling rumit, topeng kebajikan yang menutupi jurang kegelapan di dalam dirinya.
Aku adalah bayangan yang menari di antara mereka, di antara tawa dan denting gelas anggur. Tidak ada yang memperhatikanku. Aku hanya salah satu dari banyak wajah yang tak dikenal, yang datang dan pergi tanpa meninggalkan jejak. Aku berjalan dengan santai, sambil mengamati Jayanegara dari kejauhan. Ia tertawa, berbicara dengan para tamu, minum sampanye, dan sesekali mengangguk penuh wibawa. Ia tampak seperti orang yang tidak memiliki beban di dunia, orang yang yakin bayang ia tidak pernah tertangkap, bahwa kejahatannya akan tetap tersembunyi selamanya di balik tirai kepalsuan.
Setelah beberapa saat, ia berjalan ke balkon untuk merokok, mencari udara segar atau sekadar menghindari kebisingan pesta. Di sana, ia sendirian. Aku mengikutinya. Angin malam menerpa wajahnya, dan di matanya, aku melihat pantulan kesombongan yang begitu nyata. Ia menatap ke arah kota yang menyala, kota yang ia eksploitasi dan juga kota yang ia penuhi dengan janji-janji palsu.
“Kota ini milikku,” bisiknya, suaranya serak tapi penuh keyakinan. Ia berbicara seolah-olah ia sedang berbicara denganku, dengan bayangan yang berdiri di belakangnya. “Semua ini adalah hasil kerja kerasku. Dan jika ada yang harus dikorbankan, ya, itu bagian dari permainan.”
Aku pun tersenyum. Senyum yang tidak terlihat olehnya tapi kurasakan di bibir. “Kau benar, Tuan Jayanegara,” jawabku, suaraku tenang, nyaris berbisik. “Permainan. Dan sekarang, giliranmu untuk membayar.”
Ia berbalik dengan terkejut, matanya membelalak. Ia tak menyangka ada orang lain di sana, apalagi kata-katanya direspons. “Siapa kau?” tanyanya penuh ketidakpercayaan. “Bagaimana kau bisa ada di sini?”
“Aku adalah seseorang yang kau lupakan,” jawabku. “Aku adalah bisikan yang kau abaikan.”
Jayanegara terdiam, mencoba mencerna kata-kataku. Ia mengamati wajahku, mencoba mengenali tapi sia-sia. Wajahku adalah topeng yang sempurna.
“Kau tidak mengerti,” katanya, mencoba mengendalikan situasi. “Kau hanya seorang anak kecil yang tidak tahu apa-apa. Permainan ini jauh lebih besar dari yang kau bayangkan.”
Aku tidak menggunakan pisau atau pun mencekiknya. Senjataku jauh lebih mematikan. Aku hanya berbicara, kata demi kata, kalimat demi kalimat, hingga aku melihat ketakutan muncul di wajahnya. Ketakutan yang lebih dalam dari rasa sakit fisik. Ketakutan akan kehilangan segalanya, ketakutan akan kehancuran. Aku menceritakan setiap kejahatannya dengan detail yang begitu akurat, seolah-olah aku ada di sana bersamanya.
Aku menceritakan tentang proyek jalan tol yang gagal, di mana miliaran rupiah menghilang dan masuk ke kantong-kantong pribadi, termasuk kantongnya. Aku menyebut nama-nama perusahaan fiktif yang ia gunakan, nama-nama orang yang ia libatkan, bahkan nama-nama bank di luar negeri tempat ia menyembunyikan uang haramnya. Aku menceritakan bagaimana ia membeli suara, mengancam lawan-lawan politiknya, dan menindas rakyat kecil yang mencoba melawan. Mata Jayanegara membelalak, wajahnya pucat. Ia gemetar. Ia tidak bisa menyangkal apa pun yang kukatakan, karena setiap bukti yang kusebutkan begitu akurat, mustahil untuk disangkal.
Ia mencoba berbicara tapi kata-katanya tertahan di tenggorokannya. Ia mencoba berteriak, namun suaranya hanya menjadi bisikan. Ketakutan itu membunuhnya—bukan tanganku, tetapi kebenaran yang kusampaikan. Sebuah kebenaran yang begitu kuat, begitu menakutkan, hingga menghancurkan jiwanya. Ia jatuh ke lantai, jantungnya berdetak kencang, napasnya terputus-putus. Matanya menatapku, penuh kengerian yang bukan disebabkan oleh kematian fisik, tetapi oleh kematian reputasi, kekuasaan, dan semua yang ia bangun dengan darah dan air mata orang lain.
Aku berbalik, meninggalkan pesta itu, meninggalkan bayangan-bayangan yang menari di bawah cahaya lampu kristal. Di luar, hujan mulai turun. Butiran air itu membasuh wajahku, membasuh segala yang telah terjadi. Aku adalah alat-Nya. Tangan-Nya yang memanjang.
Tindakan ini bukan tentang balas dendam atau amarah. Ini adalah tentang kebenaran. Aku adalah manifestasi dari kebenaran yang harus diungkap, kebenaran yang akan menuntut pertanggungjawaban. Pengadilan sering kali buta, hukum sering kali bisa dibeli. Dan ketika keadilan tidak lagi bisa ditemukan di jalan yang lurus, ia harus ditemukan di jalan yang gelap. Aku tidak pernah menginginkan kehidupan seperti ini. Topeng ini diberikan kepadaku, sebuah beban yang harus kupikul. Setiap kali menargetkan seseorang, aku merasakan beban dari dosa-dosa mereka, namun juga menemukan kedamaian—kedamaian yang hanya bisa ditemukan ketika sebuah kebenaran terungkap.
Aku adalah tangan yang tak terlihat yang akan terus bergerak di balik bayangan, menjadi mimpi buruk bagi mereka yang hidup dalam kepalsuan. Suatu hari, aku berharap topeng ini tidak perlu lagi kukenakan. Aku berharap, suatu hari, bisikan itu akan berhenti. Aku berharap, suatu hari, keadilan akan kembali ke jalan yang lurus. Namun, selama topeng-topeng kepalsuan masih dikenakan, selama kebenaran masih disembunyikan, aku akan terus berjalan.
Aku akan terus berjalan di antara jutaan wajah yang sama-sama tersesat. Aku akan terus menyimak bisikan itu, bisikan yang hanya bisa kudengar. Dan aku akan terus menjadi eksekutor dari sebuah keadilan yang tak terlihat. Karena aku tahu, di atas sana, ada yang melihat. Dan dia tidak butuh pengadilan. Dia hanya butuh sebuah tangan. Dan tangan itu adalah aku.
*****
