Pengajar di STKIP Kusuma Negara Jakarta, ibu dari anak autistik, sesekali menulis puisi, cerpen, esai

Menyebrangi Musim-Musim dan Puisi Lainnya

Arida Erwianti

1 min read

Menyebrangi Musim-Musim

Seperti biasanya
ia memulai hari
dengan menggantung petunjuk arah di ujung pintu
melukis buram ramalan cuaca
tentang musim yang sulit ditebak

Kita
menyeberangi musim-musim
mengalami
kopi panas, secangkir teh yang dingin
palung
bintang
angin
dan kaki kecil yang melangkah di ladang sepejam

Musim masuk ke rumah-rumah, dan menunggu hidangan yang cocok untuknya
barangkali
juga memilih milih baju yang cocok
namun rasa mana yang kira-kira pas?
untuk dingin di sudut tirai yang begitu gelap
dan seseorang yang pergi dalam belantara gerimis

Lalu engkau gundah menarik tali
berharap pukat menangkap ikan-ikan dan lampu-lampu
tak apa, jika belum tuntas
kita pun telah menabung sinar matahari
tak apa

Berita Hari-Hari

Perasaan juga bisa tak menentu
di sini, di hari-hari
berita beterbangan dari layar gawai, televisi atau kertas-kertas koran
tarik nafaslah dahulu sebelum menyentuhnya…
ada rumah, hutan dan lautan yang terbang ke kerongkongan

Berita berita itu lalu ditiup bagai debu ke wajahmu
kau gamang, cemas, kadang merasa mual dan lunglai
berita telah meninggalkan perih di mata
nyeri di dada
perasaan jadi tak menentu

Menggali Jalan Keluar

Dialah yang kuat
menahan bara yang akan membakar hutan dalam dirinya
dialah yang tabah memunguti sampah-sampah di atas ranjang
lalu siapa yang mampu menahan laju arus dalam kepala?

Diam saja terhimpit sunyi
melangkah maju, menentang gemuruh
malam ini, makan malam kita dari remah-remah
orang-orang di gedung mewah beratap hijau

Kita berlari dalam labirin dengan jiwa menebak teka-teki
siapa pula yang ketuk-ketuk
buru-buru
lalu menyeret pergi

Gelembung doa-doa tak kasat mata
lalu memenuhi

menyelebungi
di depan itu jalan keluar

Kabar Negara

Aku menyelinap dalam iklan-iklan, lagu-lagu dan live streaming
supaya menghindar dari sergapan kabar dari negara
yang jinjit-jinjit
gapai-gapai
pura-pura

Jejak-Jejak Pada Mata

Ia menyusuri jejak pada garis yang samar di sekitar mata
lalu memilin kisah-kisah yang berserakan
tentang binar sekaligus sembap
yang sebanyak perjalanan
dan menyaksikan

Apakah krim mata anti-aging dipulas dengan baik, sehingga menyamarkan luka di sana?
mata hanya selalu diam
merekam segala
yang istirahat saat menamatkan buku-buku

*****

Editor: Moch Aldy MA

Arida Erwianti
Arida Erwianti Pengajar di STKIP Kusuma Negara Jakarta, ibu dari anak autistik, sesekali menulis puisi, cerpen, esai

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email