MENGHAMILI TUHAN
aku menggauli sunyi,
di atas ranjang cahaya yang retak
tuhan berbisik di telingaku,
menyuruhku menanam benih kata
ke dalam rahim dunia
setiap desir menjadi doa yang menggeliat,
dan tubuh jadi kitab yang basah oleh makna
kami bercinta sampai malam hamil oleh nubuat
dan dari setiap orgasme,
lahirlah anak-anak tuhan
yang menulis ulang keberadaban
dengan napas yang masih hangat dari surga.
–
NEGARA DALAM PERUT
aku makan nasi pemberian presiden,
rasanya seperti upacara kenegaraan
di perutku, bendera berkibar
pejabat berdebat di usus besar
setiap sendawa jadi pidato
ketika lapar—rapat darurat.
–
IKLAN LAYANAN MASYARAKAT
suara lembut di televisi berkata,
“jadilah warga yang baik.”
lalu aku lihat tetanggaku sedang memulung moral dari tong sampah
di bawah spanduk “bersih itu sehat,”
para pejabat mencuci tangan mereka dengan air keruh
malam harinya, iklan itu tayang lagi,
kali ini dengan musik yang lebih optimis,
agar kebohongan terasa menenteramkan.
–
MUSEUM MASA DEPAN
di ruang pertama, kurator menunjuk sebuah toples berisi air mata
labelnya spesimen empati, tahun terakhir ditemukan 2031
di dindingnya, tergantung foto orang tersenyum tanpa filter
pengunjung berbisik kagum
tanpa tahu apa maknanya
di ruang terakhir,
ada cermin besar bertuliskan,
“anda adalah artefak yang masih berfungsi.”
–
IBUKU PEREMPUAN SETENGAH IKAN KEMBUNG
ibuku perempuan setengah ikan kembung.
separuh manusia yang rajin menanak nasi,
separuh lagi bau laut yang tak pernah hilang.
setiap pagi ia menggoreng dirinya sendiri,
tapi hanya separuh matang.
ketika aku lapar,
ia bilang,
“jangan habiskan aku,
kau masih butuh pelukan.”
*****
Editor: Moch Aldy MA
