Konsultan kriminal.

Manusia Setelah Manusia

Adia Puja

6 min read

Dunia beserta seisinya hancur dan Tuhan hanya menyisakan sepasang manusia. Kebetulan, kedua manusia tersebut bernama Dama dan Ahwa, anagram dari Adam dan Hawa, dua manusia pertama yang juga diciptakan Tuhan. Disisakannya Dama dan Ahwa bukan tanpa musabab. Tuhan ingin menempatkan kembali manusia-manusia di dunia yang baru. Manusia-manusia baru.

Bukan tanpa alasan juga Tuhan memusnahkan seluruh manusia di dunia. Ia muak dengan tingkah manusia yang justru membawa kerusakan dan bencana. Semula, Tuhan menempatkan manusia di dunia sebagai khalifah bagi makhluk lainnya. Manusia sengaja dibuat berakal dan berbudi untuk tujuan adiluhung tersebut. Namun kenyataannya, alih-alih merawat, manusia justru menjelma sel kanker yang membawa teror bagi dunia yang hanya satu-satunya itu.

Mereka menjelma sebagai makhluk paling biadab dan merusak di muka bumi. Hingga di satu titik, ketika Iblis tampak lebih salih, Tuhan memutuskan untuk membinasakan seluruh umat manusia. Memencet tombol reset, dengan hanya menyisakan Dama dan Ahwa.

Meski begitu, eksistensi Dama dan Ahwa merupakan bukti bahwa Tuhan sangat mencintai umat manusia. Di puncak murkanya, Tuhan masih menaruh harapan pada manusia. Pada Dama dan Ahwa. Tuhan masih berharap mereka akan melahirkan manusia-manusia baru yang dapat memelihara kedamaian di muka bumi. Tidak seperti umat manusia terdahulu yang jahanam luar biasa.

Seperti Adam dan Hawa, Dama dan Ahwa kembali dipertemukan. Bedanya, jika Adam dan Hawa dipertemukan di Surga, Dama dan Ahwa dipertemukan di dunia. Di tengah kehancuran dan sisa-sisa peradaban manusia yang telah musnah, yang selama ini mereka banggakan.

“Ayolah,” kata Iblis mengawali bujuk rayunya seperti yang pernah ia lakukan kepada Adam dan Hawa miliaran tahun silam. “Kalian tidak perlu berkembang biak. Tidak perlu repot-repot melahirkan manusia-manusia baru ke dunia ini.”

“Mengapa begitu?” selidik Dama yang sejak awal sudah menaruh kecurigaan pada Iblis.

“LIhat kehancuran ini,” Iblis merentangkan tangannya, menunjuk ke sekelilingnya. “Semua kehancuran dan kekacauan ini adalah ulah manusia. Anak-anak Adam dan Hawa. Pendahulu kalian.”

Dama dan Ahwa memandang berkeliling. Di sekeliling mereka hanya ada hamparan tanah lapang dengan pohon-pohon seukuran jari raksasa yang telah rebah. Mereka pun berdiri di atas salah satu batang pohon berukuran besar yang telah runtuh.

“Dahulu, tempat kita berdiri ini merupakan sebuah hutan. Hutan lebat yang menjadi rumah bagi berbagai makhluk hidup. Kalian lihat sekarang? Semuanya hancur. Manusia menebang seluruh pepohonan untuk mengeruk tanahnya. Akibatnya? Bukan hanya tumbuhan dan hewan yang menjadi korban, melainkan manusia lainnya juga yang tidak bersalah. Bencana satu digantikan bencana lainnya akibat ketamakan segelintir manusia. Bahkan, kami para iblis pun tidak pernah terpikir untuk membuat kehancuran sekeji ini.”

Ahwa tercengang terhadap penjelasan si Iblis. “Benarkah manusia tega melakukan ini semua?”

“Kau tidak percaya? Ini belum seberapa. Mari kutunjukkan yang lainnya,” kata Iblis tersenyum licik. Kemudian, Iblis merapalkan mantra yang tidak dimengerti oleh Dama dan Ahwa. Berkat mantra itulah, mereka bertiga berpindah tempat ke bumi bagian lainnya dalam sekejap mata.

“Astaga!” Dama dan Ahwa memekik bersamaan begitu mereka tiba di tempat tujuannya.

Di hadapan mereka terhampar kehancuran yang sangat mengerikan. Bangunan-bangunan boyak yang masih mengurakan asap kehitaman, kendaraan-kendaraan besi berserakan dan lebih dari separuhnya hancur, tanah-tanah berlubang bekas dihantam senjata mematikan, jelaga beterbangan bagai selaput di udara, mayat-mayat manusia berserakan dengan genangan darah yang menyerupai sebuah sendang: anak-anak, perempuan, lelaki, tua, muda, tentara, pedagang, guru, kaya, miskin, semua menjadi mayat tanpa kecuali.

“Sepanjang sejarah umat manusia, peperangan selalu terjadi. Bahkan, peradaban manusia dibangun di atas kematian dan penderitaan yang tidak pernah berhenti. Satu peperangan selalu digantikan peperangan lainnya. Yang kalian saksikan ini hanya secuil kerusakan atas nama peperangan. Ini belum seberapa. Ingin kutunjukkan yang lebih mengerikan dari ini?”

“Apa?! Ini belum seberapa, kau bilang?” Dama berseru tidak percaya.

Iblis mengangguk mantap.

“Apa tujuan dari peperangan? Apakah ada hal yang layak ditebus dengan harga semahal ini?”

“Banyak. Selalu ada alasan bagi manusia untuk memulai peperangan dan membunuh: kekuasaan, kekuatan, agama, ideologi, politik, ekonomi, wilayah, kebencian, dendam. Bahkan untuk hal seremeh cinta,” jawab Iblis.

Sebelum Dama dan Ahwa memberikan pertanyaan lanjutan, Iblis sudah kembali merapalkan mantra dan memindahkan mereka ke bagian lain di planet bumi.

Kali ini, mereka berada di sebuah desa yang sangat gersang. Dama dan Ahwa sampai mengernyitkan dahi akibat sengatan mahatari. Tidak jauh dari tempat mereka berdiri, terdapat rumah-rumah kayu beratap rumbia.

“Mari ikuti aku,” kata Iblis sambil berjalan menuju rumah-rumah tersebut. Dama dan Ahwa mengekor di belakangnya.

Iblis mengajak mereka memasuki salah satu rumah.

“Ya Tuhan!” Ahwa memekik kencang ketika melangkah ke dalam rumah.

“Ada apa?” tanya Dama yang berada di paling belakang.

“Mayat! Di dalam rumah tersebut banyak sekali mayat,” Ahwa menyahut dengan suara bergetar.

“Mayat?” Dama melongokkan kepalanya karena penasaran, dan memekik sama kencangnya seperti yang dilakukan oleh Ahwa.

“Kalian tidak perlu terkejut. Mayat-mayat seperti itu juga ada di rumah lainnya di seluruh desa ini,” jelas Iblis.

“Tapi mengapa?”

“Mereka mati karena kelaparan. Di wilayah ini, nyaris tidak ada sumber air dan makanan. Akibatnya, masyarakatnya menderita kelaparan akut dan mati seperti bangkai. Padahal, tidak jauh dari sini, terdapat perkotaan yang sangat megah dan maju. Jangankan air dan makanan, mereka menimbun harta sebanyak-banyaknya untuk memenuhi hasrat belaka. Namun, orang-orang di kota tidak peduli dengan sesamanya di pedesaan ini. Kematian orang-orang miskin ini hanya dianggap takdir. Sedangkan kematian orang-orang kaya dianggap sebagai tragedi.”

“Apakah manusia bisa berbuat sekejam itu?” Dama meninggikan suaranya. “Sejak tadi, kau selalu menunjukkan kehancuran akibat ulah manusia. Apakah tidak ada manusia yang benar-benar baik di dunia ini?”

Iblis menggelengkan kepala. “Tidak ada. Hutan gundul, wilayah peperangan, dan kematian di desa miskin ini menjadi bukti bahwa manusia adalah makhluk yang tak berbudi. Bahkan melebihi kami, para Iblis. Sejak awal, Iblis memang diciptakan sebagai makhluk tercela. Kami ditugasi untuk menggoda manusia agar melakukan kesalahan-kesalahan dalam hidupnya.

Namun, pada kenyataannya manusia kerap berlaku lebih keji dibandingkan Iblis. Dan mereka masih bisa menganggap dirinya sebagai makhluk berbudi luhur dan saleh. Suci. Agung. Mereka terus menerus beribadah dan menyerukan nama Tuhan, sembari melakukan kejahatan demi kejahatan tanpa henti.

Kami, para Iblis, memang tercela. Memang penuh dengan borok. Kami akui. Namun, kami tidak pernah menganggap diri kami suci. Kami cukup tahu diri. Tidak seperti manusia yang penuh dengan kedok.

Lagi pula, para Iblis tidak pernah membunuh sesama Iblis. Lihat apa yang dilakukan oleh manusia? Mereka masih bisa makan enak dan tidur nyenyak meski baru saja mengotori tangan dengan darah saudaranya.”

Dama dan Ahwa terdiam. Semua bukti yang telah ditunjukkan oleh Iblis memang tidak terelakkan. Manusia memang pihak yang paling harus bertanggung jawab atas kehancuran dunia.

“Tapi,” kata Dama setelah hening beberapa saat. “Kami akan melahirkan anak-anak yang berbudi. Manusia-manusia yang saling mengasihi dan menyayangi. Manusia-manusia yang membawa kebaikan bagi dunia beserta seisinya.”

Iblis terbahak kencang. “Ha-ha-ha. Apa yang kau katakan sama persis dengan yang dikatakan oleh Adam. Namun, kau lihat sendiri hasilnya?”

Dama tertohok oleh perkataan si Iblis. Diam-diam ia membantin, apa yang dikatakan makhluk terkutuk itu ada benarnya juga.

“Maka,” si Iblis memulai kembali rayuannya yang diyakininya hampir berhasil. “Kalian tidak perlu repot-repot melahirkan kembali manusia-manusia yang akan mengulangi kesalahan generasi sebelumnya. Jika kalian memang peduli pada kedamaian dan ketenteraman, biarkanlah dunia tidak dihuni oleh manusia. Biarlah hewan-hewan dan tumbuhan yang menjaga dunia ini. Kemudian, kalian bisa hidup tenang hingga ajal menjemput kelak. Dengan begitu, kalian tidak memiliki beban moral atas kebejatan manusia.”

Dama memejamkan mata. Merenungi kata-kata Iblis yang berputar-putar di kepalanya, mengusik iman yang sejak tadi mulai goyah. Ia membayangkan dunia tanpa manusia: hutan yang pulih, sungai yang kembali jernih, udara yang tidak lagi dipenuhi racun. Dunia yang tenang. Dunia tumbuh dengan kesendiriannya.

Ahwa menggenggam tangan Dama. Genggamannya gemetar.

“Jika dunia ini memang lebih damai tanpa manusia,” bisik Ahwa lirih, “mungkin kita memang seharusnya berhenti di sini.”

Iblis tersenyum lebar. Senyum kemenangan yang tertahan sejak kekalahan pertamanya di hadapan Adam dan Hawa. “Kalian bijaksana,” katanya. “Lebih bijaksana daripada manusia-manusia sebelumnya. Kalian tidak tergoda oleh ilusi harapan.”

Namun, sebelum Dama dan Ahwa menjawab, bumi bergetar pelan. Bukan gempa yang merusak, melainkan getar halus seperti lambaian daun yang dihinggapi embun pagi. Angin berembus membawa aroma tanah basah, aroma kehidupan. Langit yang sejak tadi kelabu perlahan menjelma jingga.

Seberkas cahaya membelah langit dan turun perlahan. Cahaya lembut yang menyilaukan sekaligus menenangkan. Iblis mundur selangkah. Senyumnya memudar.

“Pergilah,” sebuah suara tanpa wujud terdengar dari arah cahaya tersebut.

Iblis mendesis penuh kebencian. “Kau selalu saja ikut campur!”

“Sejak awal, semua ini memang bukan urusanmu,” jawab suara tersebut.

Cahaya tersebut semakin terang tetapi tidak membakar. Tubuh si Iblis berangsur pudar, seperti kabut yang disibak cahaya pagi. Sebelum lenyap sepenuhnya, ia sempat berbisik kepada Dama dan Ahwa, “Kalian akan menyesal.”

Seperginya Iblis, keheningan kembali menyelimuti Dama dan Ahwa. Namun kali ini, keheningan itu tidak dingin. Tidak menakutkan. Justru terasa sangat damai dan menenangkan, sekalipun kehancuran masih terhampar di sekeliling mereka.

“Apa yang harus kami lakukan?” tanya Dama ke arah cahaya tersebut. “Apakah kami salah telah meyakini perkataan iblis? Manusia telah gagal menunaikan tugasnya. Apakah kami salah jika memutuskan untuk menghentikan semua ini?”

“Kalian tidak salah,” jawab suara itu lembut. “Manusia memang telah gagal. Berkali-kali. Dan akan selalu seperti itu. Namun, kegagalan bukan alasan untuk meniadakan harapan. Harapan justru lahir dari kemungkinan untuk gagal.”

Dama menatap Ahwa. Di mata perempuan itu, ia melihat ketakutan, tapi juga sesuatu yang lain, yaitu harapan.

“Satu hal yang perlu kalian ketahui. Manusia tidak pernah sepenuhnya jahat,” lanjut suara tersebut. “Mereka hanya rapuh. Dan dari kerapuhan itulah, kebajikan memiliki tempat untuk tumbuh.”

Setelah mengatakan itu, cahaya tersebut perlahan memudar dan terbang kembali menuju kaki langit. Namun, sebelum benar-benar lesap, suara itu berpesan, “Manusia diciptakan dengan akal dan nafsu bukan tanpa alasan. Atas alasan itulah kalian bebas menentukan keputusan apa pun. Iblis tidak berhak mencampuri keputusan kalian. Tidak siapa pun. Termasuk aku.”

Dama dan Ahwa terpaku di tempat mereka berdiri. Tidak ada lagi Iblis. Tidak ada lagi cahaya yang turun dari langit. Mereka benar-benar berdua di dunia yang telah musnah itu.

Hari-hari berikutnya, dunia mulai berubah. Dari tanah retak tumbuh rumput muda. Dari batang pohon rebah muncul tunas-tunas kecil. Hewan-hewan kembali bermunculan. Bumi seolah memang telah lama menunggu kesempatan kedua.

Dama dan Ahwa hidup sederhana untuk waktu yang sangat lama. Mereka belajar dari reruntuhan, dari kesilapan manusia terdahulu yang membekas pada jejak sejarah. Mereka tidak membangun peradaban, tidak mendirikan benteng, tidak menciptakan senjata. Mereka menanam, merawat, dan terus berharap.

Beratus tahun kemudian, ketika anak pertama mereka lahir, dunia tidak berguncang. Tidak ada kilatan petir atau langit yang terbelah. Tidak ada sesuatu yang hebat yang terjadi. Hanya tangisan kecil yang rapuh. Serapuh titik bara. Namun, bagi Dama dan Ahwa, setitik bara itu menjadi harapan untuk menerangi dunia yang baru.

Dan di sudut dunia yang masih belum tersentuh, Iblis tersenyum mendengar tangisan tersebut. Bukan untuk sebuah kemenangan, melainkan sebagai sebuah panggilan yang tidak pernah berubah. Sebab, selama manusia ada, pertarungan belum benar-benar usai.

*****

Editor: Moch Aldy MA

Adia Puja
Adia Puja Konsultan kriminal.

One Reply to “Manusia Setelah Manusia”

Leave a Reply to Fathimah S.Pd Gr Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email