Hujan Turun Sore-Sore dan Puisi Lainnya

Rizki Muhamad Fakih

50 sec read

‎Hujan Turun Sore-Sore

‎Mimpi menguap di atas
‎langit-langit
‎kasur, bantal & selimut tebal
‎tak cukup memeluk gelisah
‎yang bersarang di antara
‎tulang-tulangku.

‎Di luar jendela, langit sedang
‎menangis
‎Matahari sudah lama
‎berkemas
‎aku sendiri, tak mampu
‎berbicara & tertawa
‎melihat uap-uap mimpi
‎di udara.

Cirebon—Purwakarta

‎Hujan deras membikin
‎potret buram di jendela
‎dingin membungkus tubuh
‎Mobil-mobil berlari,
‎saling berpapasan,
‎tetapi tidak saling sapa
‎seperti orang-orang asing
‎di persimpangan

‎Kantukku datang
‎meminta mimpi segera
‎bekerja
‎pikiran & ingatan
‎tercecer di mana-mana
‎Bahkan selepas perjalanan
‎jauh dan menyenangkan
‎kita akan selalu merindukan pulang
‎& kampung halaman.

Satu Hari di Bulan November

‎Suatu hari di awal November
‎aku dan kekasihku
‎terjatuh
‎lutut kami berdarah, nyeri, dan linu
‎itu sama menyakitkan
‎seperti ketika dosen pembimbingku mengabaikan pesan

‎Aku dan kekasihku tidak
‎bertengkar
‎meributkan siapa salah di antara kita menyebabkan motor terjatuh
sedang aku terus mengutuki si dosen
‎Itulah bedanya cinta dan benci: apakah dirimu bisa berkompromi dengan kesalahan seseorang.

‎Kipas Angin

‎Kipas angin berputar sepanjang hari
‎sedikit menyejukkan ketika aku disengat matahari
‎Tetapi, terpikir olehku
‎siapa yang menyejukkan kipas angin
‎ketika hari-harinya gerah
‎dan melelahkan?

Untuk Dosen Pembimbing

‎Aku diajari menulis puisi
‎untuk menyingkap sesuatu
‎tetapi, bagaimana cara menyingkap sesuatu sekaligus menyembunyikan maksudnya?
‎kadang ingin kutulis puisi
‎lugas saja, penuh caci maki dan kata kasar
‎ketika dosen pembimbingku tiba-tiba
‎hilang dan mengabaikan
‎pesan

‎Maaf, tabiat buruk tidak bisa
‎dipuisikan

*****

Editor: Moch Aldy MA

Rizki Muhamad Fakih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email