Getir Butir-Butir Jam Pasir dan Puisi Lainnya

Hidayatul Ulum

2 min read

Mengapa Aku Cemas, padahal Kau Begitu Cergas?

ingin kusampaikan gagasan
pada terang layar salindia
ketika kata-kata masih terperangkap
di benak perangkat yang tak kunjung siap
sementara lembar kerja telah terbuka,
menunggu aba-aba.

sesuatu dari dan kepadanya
tak terpasang dengan sempurna
maka kepadamu
kuseberangi kursi-meja;
“tidak bisa” adalah ucapanku
ketika aku panik dan kita makin dirongrong waktu.

mau—tak mau
bukankah mesti lekas
kusampaikan gagasanku?

lalu sejenak kau kutinggalkan
demi sebentuk ulur tangan
dari sesiapa di luar ruang
dan seketika kembali aku terkejut sendiri
kendala yang terjadi
t’lah rampung kau atasi.

mengapa aku cemas,
padahal kau begitu cergas?
mengapa aku terkejut,
kau bertindak tanpa ribut?

waktu menderap lewat detak jarum,
syukur melengkungkan sebaris senyum
hatiku tetiba meranum
: sekelumit rasa kagum.

usai berlalu—kau tak pernah tahu
aku sempat didesak rasa malu,
membiarkan debu kabel-kabel itu
menggelayuti lutut celanamu.

(K, 2024-2025)

Apa Karena Ini Bukan (Sewajarnya) Ranah Perasaan?

maka
tak dapat tak kuingat
secarik harap yang kuselipkan
di putih kertas lipat

harapan yang kusemogakan
muncul
ketika kau membuka
lipatnya dan berhitung

sebab, setelah semuanya telah tepat
lalu kita bersepakat mengakhiri tenggat;
pertukaran di antara kita
hanyalah sikap saling percaya
serta sebaik-baik nama

akan tetapi,
yang tak kau ketahui
dan sering kurenungi kembali
adalah harapan
yang pernah kuselipkan
barangkali tetap di sini,
di gelap sunyi
tanpa sinar pengetahuan
untuk sekadar mengerti
bahwa cinta dan harapan
semestinya tidak dicampurkan
ke sela lembar-lembar alat tukar

juga, seberat apa pun
andai keduanya bisa ditakar dan ditimbang
sangat mungkin
mereka tak pernah benar-benar kau perhitungkan.

(K, 13 Mei 2025)

Hatiku yang Pemalu

seandainya kau
pernah bertanya
aku berumah
di mana

halamanku,
rumputnya tak sehijau milik siapa-siapa,
hanya kutabur remah-remah puisi pada beranda
yang ubinnya berhias satu-dua hati

dari ketuk jari-jemari

entah ayam
entah burung
‘kan mematukinya
dengan tekun

bila nanti kau mampir
turut menjumputi untukmu sendiri,
ambillah sebanyak apa pun
remah puisi yang terserak,
tertaut atau terhimpun

karena sejatinya …
untukmulah puisi-puisi itu lahir dan merupa,
menunggu kau jumput
—dan baca

di beranda
buku diriku juga lebar terbuka
kau bisa membaca
sepuas-puasnya
namun, maafkan
bila kau datang, pintu tak segera kubukakan
gagang keberanian mungkin sudah kupegang
tapi geletar perasaan siapa yang paham
tak bakal meriap-menjalar?

dari balik tirai jendela
sorot yang barangkali kau kira sepasang mata
adalah hatiku yang mengintipmu malu-malu,
ia berkeringat dingin,
takut tertangkap olehmu

(K, 2024-2025)

Mencari Mendung Syahdu di Kolam Jiwamu

Bisakah …
kebaikanmu kukembalikan?
Agar tidak selamanya tinggal di hatiku
dan mengendap menjadi perasaan lain:
misalnya, rindu

Bukan berarti,
baikmu tak bermakna

Aku hanya ingat dahulu kala
Di bawah teduh angsana
Sorot matamu misteri
Kolam jiwa yang ingin kuselami
Tempat aku ingin tinggal, hanyut dan tenggelam
Selamanya

Di dalam
Kolam jiwamu yang tenteram
Kuharap dapat menemu percik memori
Kala mendung disingkap Tuhan
Lantas cahaya menyorot pohon glodokan
Mengapa kau memberitahuku: lebih baik mendung syahdu?

Bisakah …
kebaikanmu segera kukembalikan?
Agar tersisa ruang di hatiku
Karena benih cintamu makin membesar

(K, 08-09 Oktober 2024)

Getir Butir-Butir Jam Pasir

timbul tak terundang
di sudut lipatan otakku
jam pasir imajiner itu
memulai perhitungan waktu

hitung mundur
kelesah pilu
rentangnya gugur
tak secepat ritmemu

aku mengerti
bila bagimu
gerak jatuhnya
efisiensi

sedang bagiku sendiri
butir-butir pasir itu
menjelma getir lesu
wajahnya pucat lesi
pasrah tertarik gravitasi

aku memaklumi
kau menunggu ia berakhir
agar dapat lekas pergi
dan menuntaskan tugas hari

sementara aku menanti
hanya dengan setengah hati
sembunyikan gugup sanubari
di riak kecemasan diri

jam pasir itu—
yang selalu imajiner dalam kepalaku
bisakah lehernya lebih kecil lagi?
jauh lebih kecil dari leher apa pun
karena aku ingin
waktu merambat pelan-pelan
hingga kuharap enggan menelan
segala hal yang tengah kita perbincangkan

di sini
pada getir
jam pasir ini
aku cemas sekali

bincang akrab
yang kita bagi
benarkah lekas
kita akhiri?

dan apabila telah selesai dan terhenti
kapankah kiranya
jam pasir imajiner itu
memulai perhitungannya lagi?

(K, 2024-2025)

*****

Editor: Moch Aldy MA

Hidayatul Ulum

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email