Sudah sebulan ini kepala Rum seolah ditusuk jarum. Setiap kali Rum terbangun dari tidurnya, kepalanya terasa begitu berat. Rasa nyeri yang begitu dahsyat seringkali menyerang, membuat gadis berusia seperempat abad itu ingin membenturkan kepalanya ke dinding kamar.
Rum memikirkan cara-cara untuk menghentikan rasa sakit kepalanya. Puluhan obat penahan sakit sudah ia coba, tapi jarum di kepalanya terus saja menusuk tanpa henti. Lebih parah, ia sempat mimisan beberapa kali. Setiap kali darah itu mengucur dari hidung Rum, jarum di kepalanya semakin tajam menghujam. Ia pernah membayangkan, bagaimana seandainya ia bisa memisahkan kepala dengan tubuhnya. Sebentar saja. Mungkin ia akan merasa lebih ringan?
Namun Rum segera menepis pikiran bodohnya. Mana mungkin hidup dengan badan tanpa kepala? Orang-orang akan ngeri melihatnya. Ia tidak mau membuat orang lain ketakutan. Sudah cukup sekali saja ia membuat orang lain khususnya ibu ketakutan, yaitu pada saat dulu ia dilahirkan.
Rum mendengar cerita dari ayahnya, saat pertama kali Rum hadir ke dunia, ia adalah anak yang istimewa. Ayah selalu menyebut Rum istimewa, padahal Rum tahu ayah hanya berusaha membesarkan hatinya. Berbeda dengan abang Rum yang lahir dengan kulit seputih porselen, Rum lahir dengan kulit selegam kopi pahit. Matanya belo, berbeda dengan mata abangnya yang sipit seperti bulan sabit. Pipi gembulnya tidak menggemaskan, berbeda dengan pipi abangnya yang montok merona seperti buah persik.
Ketika menyambut abangnya lahir, semua orang bersorak seperti saat perayaan tahun baru. Semua hati berdendang riang, mengelu-elukan betapa beruntungnya ibu bisa melahirkan anak yang begitu sempurna. Saat Rum hadir ke dunia, semua mendadak sunyi. Bahkan ibu menolak menggendong Rum untuk sekedar memberikan air susu. Rum menangis, hanya sebentar. Selebihnya, ia berusaha memahami.
***
Rum selalu mengalah terutama kepada abangnya, Josh. Ia tahu, cahaya itu hanya milik Josh seorang. Awalnya, Rum tak terima. Tapi, ia sadar sejauh apapun mencari perhatian, tak ada yang peduli dengan kehadiran Rum. Maka, Rum berusaha menggali tempatnya sendiri. Rum hanya boleh menempati ruang yang tersisa. Ia cukup tahu diri.
Untungnya, ada ayah yang selalu memanggil nama Rum dengan lembut. Rum senang sekali jika ayah ada di rumah. Tapi sayang, ayah harus bekerja jauh di luar kota. Rum selalu menantikan kehadiran ayah. Sebab hanya ayah yang memberikan ruang khusus untuk Rum. Ayah selalu tersenyum kepada Rum, mengajaknya bermain di taman kota, dan menceritakan banyak dongeng kepadanya.
Sayangnya, cerita indah Rum bersama ayah hanya sebentar. Sama seperti saat Rum tenggelam dalam dongeng favoritnya, waktu terasa begitu singkat. Begitu pun dengan cerita antara Rum dan ayah. Ia tak menyadari, kisah favoritnya sudah mencapai halaman terakhir. Ayah menggenapi kisah dalam lembaran buku hidup Rum terlalu cepat. Ayah berpulang bahkan sebelum Rum bisa mengungkapkan rasa sayang dengan benar.
***
Selanjutnya, hidup Rum bagai menanti jam pulang kerja. Terasa lama dan membosankan. Hari-hari Rum dipenuhi dengan rutinitas yang itu-itu saja. Mengejar bus agar sampai kantor tepat waktu, berdesakan dengan puluhan manusia, mengerjakan setumpuk berkas yang tidak ia pahami, makan siang dengan menu paket hemat, kembali mengerjakan berkas yang membuatnya mengantuk, menyambut jam pulang kantor dengan gembira, dan kembali mengejar bus serta berdesakan untuk sampai rumah.
Rum tidak terlalu peduli soal betapa membosankan pekerjaannya. Ia hanya peduli dengan nominal gaji yang selama ini menyelamatkan dirinya. Jika Rum harus berterima kasih, maka kepada gajinyalah ia akan mengucapkan beribu terima kasih. Berkat gajinya, ia bisa sedikit membungkam komentar ibu perihal hidupnya.
“Abangmu itu ganteng. Kamu juga harus coba diet dan berdandan, biar cantik.”
“Sudah umur segini, apa kamu punya pacar?”
“Lihat, abangmu sudah menikah. Kamu tidak pernah memikirkan untuk menikah juga?”
“Rum itu pendiam, tidak seperti Josh yang pandai bicara. Dia juga tidak suka bergaul.”
“Rum itu sangat dingin. Sedangkan Josh begitu ceria.”
“Rum kulitnya gelap. Josh putih bersinar.”
“Rum dan Josh bagai langit dan bumi.”
“Rum…”
“Josh…”
“Rum…”
“Josh….”
Semua hanya soal perbedaan antara Rum dan Josh di mata ibu. Josh si paling sempurna, dan Rum si buruk rupa. Sampai akhirnya, Josh yang baru menikah dan dikaruniai seorang anak terkena pemutusan hubungan kerja. Dunia seolah terbalik. Perlahan-lahan, ibu mulai berkata lembut kepada Rum.
“Rum, ibu pikir memang ada baiknya tidak buru-buru menikah. Apalagi dengan kondisi sekarang, abangmu baru saja di PHK. Rum… bisa bantu Josh, kan?”
Rum menatap ibu yang terlihat gusar. Berkali-kali ibu mengubah posisi duduknya, tersenyum canggung kepada Rum, dan merapikan rambutnya yang tidak berantakan.
“Berapa?”
Ibu menatap Rum dengan tatapan tak percaya.
“Berapa yang harus Rum berikan untuk Bang Josh?”
Ibu terlihat gelagapan.
“Sebisa Rum saja, tidak harus banyak. Yang penting Josh bisa makan bersama anak dan istrinya. Sembari mencari pekerjaan baru.”
Dalam hitungan menit, seperempat gaji Rum berpindah ke rekening Josh. Begitu setiap bulannya, Rum menanggung biaya hidup abangnya. Ada sebersit perasaan bangga dalam hati Rum, sebab baru kali ini ia dianggap lebih berguna dibandingkan Josh.
***
Namun, perasaan itu tidak bertahan lama. Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun. Josh kepalang enak hidup dibiayai Rum dan terus diberikan kiriman uang oleh ibu. Rum tahu, selama ini ibu hanya mengandalkan uang pensiun sehingga harus pontang-panting mencari pinjaman untuk menghidupi Josh. Semakin banyak tingkah Josh, semakin membuat kepala Rum seperti ditusuk jarum.
Inilah kali pertama Rum merasakan jarum-jarum itu menancap dalam kepalanya. Setiap kali teringat tagihan-tagihan yang membengkak, satu jarum bertambah di kepala Rum. Ditambah dengan kelakukan Josh yang semakin hari semakin tak tahu diri. Ada saja tagihan baru entah dari mana.
Tempo hari, Josh dan istrinya menangis tersedu-sedu di depan Rum, memohon-mohon untuk meminjam tabungan Rum. Tagihan pinjaman onlinenya tak terbendung. Debt collector bergantian mendatangi dan mengancamnya. Semakin hari, semakin menggunung. Ibu jatuh sakit mendengar cerita Josh. Mau tak mau, Rum kembali mengalah. Tabungan yang selama ini ia hemat, berpindah tangan secepat kilat.
Rum menjadi penyelamat. Hatinya bungah sebab ibu masak makanan istimewa untuk Rum. Sikap ibu menjadi begitu lembut kepada Rum. Namun, Rum salah. Perasaan senangnya hanya semu belaka. Beberapa minggu kemudian, dia melihat unggahan istri Josh sedang berlibur ke luar negeri. Ada rasa nyeri dalam hatinya. Bahkan, seumur hidup Rum belum pernah berlibur ke luar negeri.
Rum memberanikan diri untuk meminta uangnya kembali. Namun, Josh dengan entengnya berkata,
“Ada kebutuhan mendesak yang harus dipenuhi. Kamu kan masih sendiri, kebutuhan kamu belum banyak.”
Ketika Rum hendak menyanggah ucapan Josh, ibu langsung menimpali.
“Sudahlah, Josh. Gunakan dulu uang yang kamu punya untuk kebutuhan rumah tanggamu. Rum masih tinggal bersama ibu. Biar nanti ibu yang menanggung kebutuhan Rum.”
Hati Rum berkecamuk. Selama ini, meski ia masih tinggal bersama ibu, semua kebutuhan pribadinya dibayar menggunakan gajinya. Bahkan, Rum seringkali membantu ibu membayar tagihan listrik, air, gas, atau membeli bahan-bahan makanan. Namun, Rum hanya bisa menelan mentah-mentah semua keluh kesahnya dalam hati.
***
Jika ada hati seluas samudera, mungkin Rum adalah pemiliknya. Meski berkali-kali harus mengalah, Rum tidak pernah marah. Rum hanya memendam semuanya dalam kesunyian. Segala kesakitan ia tahan. Tapi, ia tidak bisa menahan rasa nyeri ketika jarum-jarum itu menguasai kepalanya. Sakit kepala Rum kian bertambah ketika istri Josh mendatanginya. Kembali, ia memohon untuk meminjam uang untuk anaknya yang sakit.
“Mobil kami terpaksa ditarik leasing karena tidak bisa bayar cicilan, Rum. Tabungan kami sudah habis. Josh juga saat ini hanya kerja freelance. Tolong bantu kami, Rum.”
Rum melihat mata istri Josh kembali basah. Namun, kali ini jauh lebih dramatis. Ibu di sebelah Rum sudah gelisah. Sebisa mungkin ibu turut membantu istri Josh meyakinkan Rum mengeluarkan gajinya untuk menghidupi satu-satunya saudara kandungnya.
“Gajiku juga sudah terpotong untuk membayar utang kalian. Aku hanya pegang sedikit untuk tabunganku.” Rum menggeleng untuk pertama kalinya.
Raut wajah ibu mengeras, air mata istri Josh semakin deras.
“Rum, bantulah saudaramu. Josh dan ibu hanya punya kamu yang bisa kami andalkan.”
Ibu mulai memaksa. Rum merasakan kepalanya kembali berdenyut, jarum itu kembali menusuk kepalanya.
“Maaf, Bu. Tapi, selama ini Rum sudah cukup membantu. Uang Rum juga belum ada yang kembali.” Rum mencoba menolak sehalus mungkin.
“Rum, aku hanya bisa minta tolong ke kamu.” Istri Josh kembali merajuk.
Ibu kebingungan, berusaha mencari kalimat untuk meyakinkan Rum.
“Kamu tidak tahu rasanya karena belum menikah. Nanti, kalau kamu sudah punya anak pasti merasakan, Rum. Ibu juga dulu merasakan hal yang sama. Apalagi ketika Josh atau kamu sakit. Rum pasti ingat, kan?” Ibu tak mau menyerah.
Rum ingat. Rum jelas ingat. Dulu, saat ia sakit, ibu hanya memberikan obat-obatan dari warung. Sementara, ketika Josh sakit, ibu dengan panik membawa ke rumah sakit terbaik.
Rum ingat, dulu ketika Rum demam tinggi, ibu hanya membawanya ke bidan dekat rumah. Sementara itu, ayah memarahi ibu yang menyepelekan sakit Rum. Ibu berkata, Josh juga sedang tidak enak badan, jadi dia kewalahan mengurus Rum.
Rum ingat, ayah adalah satu-satunya yang mengharapkan ia tetap ada di dunia. Pun ketika ia pertama kali dilahirkan, hanya ayah yang menyambut kehadirannya dengan senyuman. Bukan ibu.
Rum ingat semuanya. Rum tak pernah lupa.
“Tolong, ya, Rum…”
Ibu semakin memasang wajah memelas.
Sedangkan istri Josh terus menunduk dan tak henti menangis. Ingus dari hidungnya berdesakan keluar, membuat istri Josh harus menahannya dengan beberapa lembar tisu.
“Baik, ini yang terakhir.” Rum menghela napas dalam.
Wajah ibu dan istri Josh kembali berseri. Berulang kali mereka mengucapkan terima kasih kepada Rum. Sebuah ucapan basa-basi untuk nantinya diulang kembali. Rum sudah hafal adegan ini di luar kepala.
Rum memilih untuk kembali mengalah. Membiarkan seribu jarum baru menusuk kepalanya. Membiarkan dirinya didera rasa nyeri yang membuat ia merasa mual. Selepas Rum mengirimkan uang tabungan terakhirnya, Rum mimisan. Kepalanya pening dan ia mengeluarkan seluruh isi dalam perutnya.
***
Rum bertanya-tanya mengapa jarum di kepalanya tak kunjung hilang. Ia berniat untuk pergi ke dokter, tapi Rum begitu takut dengan kenyataan yang harus dihadapinya. Di sisi lain, Rum khawatir tubuhnya semakin rapuh. Ditambah dengan mimisan yang ia alami, tentu ini menjadi sebuah pertanda. Rum harus mengambil sikap.
Sepulang kantor, untuk pertama kali Rum tidak langsung pulang ke rumah. Rum memutuskan untuk pergi ke dokter. Setelah menunggu beberapa antrian, nama Rum akhirnya dipanggil.
Dokter menanyakan apa yang menjadi keluhan Rum, apa yang Rum rasakan, bagian mana yang sakit, sejak kapan, dan berbagai macam pertanyaan yang membuat Rum lelah. Setelah sesi pertanyaan yang panjang, dokter meminta izin untuk memeriksa dan meresepkan obat untuk Rum.
“Sepertinya karena faktor kelelahan.”
Jawaban dokter sama sekali tidak memuaskan hati Rum. Menurutnya, jawaban dokter tersebut bisa ia ditemukan dengan mudah di internet. Untuk apa ia datang jauh-jauh berobat ke sini.
Meski begitu, Rum sudah terlanjur membayar biaya konsultasi dan menebus obat. Mau tak mau Rum harus meminum obat sesuai dengan anjuran dokter. Rum ingin tahu, apakah diagnosa dokter tersebut benar. Rum berharap obat-obatan itu bisa meringankan sakit kepalanya walau sedikit.
***
Beberapa hari berlalu dan Rum tidak merasakan perubahan. Untuk itu, Rum memilih berhenti mengonsumsi obat dan membiarkan obat-obatan tersebut tersimpan rapi di laci kamarnya. Dengan dan tanpa obat, jarum-jarum di kepalanya tetap menusuk seperti biasa. Bahkan, kali ini intensitasnya semakin sering. Setiap kali rasa sakit itu mendera, Rum hanya bisa memejamkan mata dan memijat pelipisnya.
Dengan susah payah Rum berusaha menahan nyeri kepalanya. Tapi, setiap kali ibu, Josh, atau istrinya menemuinya, maka jarum itu bereaksi. Rum yang sudah tak tahan, kembali ke dokter yang memeriksanya.
“Rasa sakit kepala saya masih belum hilang, Dok.”
“Obatnya sudah habis diminum?”
“Sudah.” Rum berbohong.
“Kapan sakit kepala itu terasa?”
Rum tidak tahu tepatnya. Tapi yang ia ingat, sakit kepala itu hadir ketika ia berada di dekat keluarganya atau ketika berbicara soal tagihan-tagihan yang tak pernah surut.
“Ketika saya bekerja.” Rum kembali berbohong.
“Nah, sepertinya karena stres. Coba ambil jeda, berlibur sebentar. Jauhi hal yang membuat stres sementara waktu.”
Rum pulang dengan banyak pertimbangan di kepalanya. Selama ini, ia memang tidak pernah tinggal seorang diri. Sejak kecil hingga bekerja, Rum tinggal bersama ibu dan Josh. Ketika Josh menikah dan memutuskan mencicil rumah dengan keluarga kecilnya, Rum hanya tinggal berdua dengan ibu.
Mungkin tidak ada salahnya dicoba. Tiba-tiba, Rum merasakan sebuah percikan timbul dalam dadanya. Ia akan memikirkan caranya untuk pergi jauh.
***
Belum sempat Rum memikirkan soal rencana kepergiannya, ibu dan Josh kembali menemuinya. Kali ini, mereka membawa kabar yang membuat tubuh Rum kehilangan kendali.
“Jika Josh tidak membayar cicilan rumahnya, maka rumah itu akan disita oleh bank. Rum, sepertinya ibu harus menjual rumah ini.”
Rum bagai tersambar petir siang bolong. Segala rencana yang baru saja ia akan susun, buyar sudah. Ada gejolak amarah yang tak dapat dibendung. Namun, Rum hanya bisa diam.
“Uangku sudah benar-benar habis, Rum. Aku tidak bisa lagi membayar cicilan rumahku.” Josh mengacak-acak rambutnya.
“Ibu tidak mungkin minta kamu untuk membayar…” belum selesai ibu bicara, untuk pertama kalinya Rum menimpali.
“Rum juga sudah tidak punya uang untuk membantu, Bu,” mata Rum menyala bagai elang yang siap menyambar buruannya.
Ibu sedikit terhenyak, tapi berusaha dengan tenang menjawab.
“Ibu paham, Rum. Makanya, ibu tidak meminta kamu membantu. Tapi, ibu ingin memberitahu kamu kalau sepertinya kita harus mengontrak sementara waktu.”
Ada jeda panjang yang hanya diisi dengan bising di kepala masing-masing.
“Kenapa bukan Josh saja yang mengontrak?” Rum akhirnya kembali berbicara. Jarum di kepala Rum mulai bereaksi.
Ibu dan Josh sedikit terkejut melihat penolakan dari Rum yang tidak biasanya. Ibu mulai terisak. Tangisannya bercampur dengan tangisan Josh yang Rum sendiri tak tahu apa artinya.
Josh selalu berbohong soal utang-utangnya. Josh selalu membuat kecewa. Josh selalu mendapatkan pengampunan. Sesalah apapun Josh, selalu dibela. Rum harus selalu mengalah. Rum harus mengerti kondisi Josh. Rum tidak pernah dianggap ada. Rum sudah tak tahan lagi. Rum ingin pergi.
Tanpa sempat berkata, Rum hanya melenggang masuk ke kamarnya. Beberapa kali ibu mengetuk pintu kamar Rum. Memohon untuk terakhir kalinya agar Rum mau mengalah dan mencarikan solusi, lagi dan lagi.
“Rum, kita ini keluarga. Kita harus melakukan apapun untuk saling menolong.”
Samar, terdengar suara ibu tetap memohon. Rum memutuskan untuk menutup telinganya rapat-rapat, sembari menikmati ratusan jarum baru yang menyisakan rasa nyeri di kepalanya.
***
Berita itu mendarat tepat di telinga Rum. Tante Nana, tetangga baru samping rumah Rum, mencari calon pekerja untuk bekerja di luar negeri, tepatnya di Thailand. Dulu, ayah pernah mengajaknya liburan ke Thailand. Namun, Rum yang saat itu masih sekolah menolak lantaran ia tak mau bolos. Hingga akhirnya, rencana liburan itu tak pernah terwujud.
Kini, secara cuma-cuma Tante Nana menawarkan pekerjaan dengan gaji menggiurkan di Thailand.
“Tak perlu banyak syarat, Rum. Tinggal siapkan CV aja seperti biasa. Kalau sama Tante Nana dijamin lolos. Aman pokoknya.”
Mata Rum berbinar. Sederet rencana timbul dalam benaknya.
“Paspor dan administrasi gampang, itu urusan Tante. Pokoknya calon pekerja terima beres. Tinggal bawa koper, kerja yang benar.”
Tante Nana menjelaskan dengan semangat menggebu-gebu. Adrenalin Rum seolah terpacu.
Tanpa menunggu waktu, Rum mempersiapkan segala persyaratan. Rum membongkar sejumlah dokumen, mengumpulkan satu per satu persyaratan dengan seulas senyum yang seketika terbit di wajahnya. Ibu yang melihat Rum terheran-heran dengan perubahan sikap Rum. Tapi, Rum sudah tidak peduli.
***
Siaran televisi dihebohkan dengan berita soal kasus perdagangan orang di luar negeri. Ibu menyimak berita dengan raut wajah penuh kecemasan. Berulang kali ibu mencoba menghubungi satu nomor telepon, tapi tak diangkat. Sudah dua bulan sejak kepergiannya, tak ada kabar.
“Sudah coba dihubungi?” Ibu menatap cemas.
“Masih belum diangkat.”
“Coba hubungi Tante Nana. Tetangga baru itu. Di mana dia sekarang?” Ibu mulai gusar.
“Sudah ada respon dari teman-temannya?” Ibu berusaha mencari kontak yang pernah dihubungi.
“Kita harus temukan Tante Nana!”
“Di mana kamu sebenarnya?” Ibu bergumam tak jelas.
Sembari terus menelepon, ibu berusaha tetap tenang. Saat sedang berpikir, tatapan ibu tertuju pada sosok yang sedari tadi dengan santai mengunyah apel sembari menggulirkan layar ponsel.
“Kamu jangan diam saja!” Ibu berteriak sembari melemparkan potongan apel di depannya.
“Coba bantu hubungi!”
Rum menatap ibu sejenak. Sebelum akhirnya ia meninggalkan ruang keluarga dan berjalan ke kamarnya sembari bersiul pelan.
Jarum-jarum di kepala Rum perlahan tercabut.
Ibu, kita harus melakukan apapun untuk menolong keluarga, bukan?
*****
Editor: Moch Aldy MA
