Grup vokal asal Korea Selatan BTS dikabarkan akan comeback setelah semua anggotanya selesai mengikuti wajib militer. Kabar ini juga membuat saham HYBE Entertainment sebagai perusahaan yang menaungi Bangtan Sonyeondan (BTS), melonjak. Kenaikan ini terjadi sejak juni 2025 imbas dari pasar yang antusias. Analis bahkan memprediksi momentum reuni BTS dapat mendorong performa keuangan HYBE ke depan.
BTS berangkat dari agensi kecil yang mengalami masalah keuangan di masa-masa awal. Perjalanan yang tidak mulus ini justru menjadi “amunisi” bagi mereka dalam berkarya. Perjalanan BTS dianggap menginspirasi banyak orang. Lagu-lagu mereka banyak bercerita tentang tekanan dan tantangan hidup sekaligus menumbuhkan ketangguhan untuk menjalaninya. BTS juga menumbuhkan komunitas penggemar besar di seluruh dunia yang disebut Army. Hari ini BTS menjadi bintang paling bersinar dari industri K-Pop. Industri yang berhasil menumbuhkan ekonomi Korea Selatan.
Ekosistem yang Tidak Dibangun dalam Semalam
Korea Selatan sadar sepenuhnya jika negaranya tidak kaya sumber daya alam. Itulah mengapa, selain teknologi seperti perangkat elektronik dan otomotif, Korea Selatan juga mengembangkan industri K-Pop. Ada peran negara yang menggelontorkan dana hingga membentuk divisi resmi untuk promosi produk budaya mereka. Keberhasilan industri K-Pop adalah bentuk sinergi antara negara dengan swasta.
Baca juga:
- Stop Eksploitasi, Stop Pelecehan: Tubuh Idol K-Pop adalah Milik Mereka Sendiri
- Fandom K-pop dan Suara Kebebasan Perempuan Indonesia
Di sisi lain, perusahaan atau agensi yang menanungi para artis, juga telah menciptakan sistem yang baik. Mulai dari pencarian bakat, perekrutan, pelatihan bertahun-tahun hingga debut para artisnya. Maka itu bagi negara, K-Pop tidak semata soal industri tapi juga soft power Korea Selatan dalam memperkuat pengaruhnya. Jika negara seperti Amerika Serikat memperluas pengaruhnya melalui kecanggihan senjata dan kekuatan ekonomi, maka Korea Selatan menggunakan budaya.
Produk K-Pop terutama musik, adalah cerminan identitas Korea yang yang memadukan elemen dan genre musik seperti R&B, hip hop, EDM dan lain sebagainya. Di dalamnya juga ada kerja sistem, seni pertunjukan, penggunaan media sosial dan layanan live streaming. Dengan itu, K-Pop menghadirkan sesuatu yang segar dan menghibur. Setidaknya itu yang dikatakan oleh RM atau Kim Namjun, leader BTS saat berbicara di forum APEC (Asia Pasific Economic Cooperation) di Gyeongju Korea Selatan, akhir Oktober yang lalu.
Kita tentu ingat pada 2012 kita pernah digoyang Gangnam Style oleh PSY, yang menjadi video K-Pop pertama yang ditonton lebih dari satu miliar kali di YouTube. Industri film juga dihentak oleh film Parasite yang rilis tahun 2019. Film ini berhasil memborong empat piala Oscar pada 2020 yang salah satunya sebagai film terbaik. K-Pop juga perlahan masuk ke rumah-rumah kita.
Besarnya pengaruh global K-Pop membuat permintaan belajar Bahasa Korea cukup melonjak di berbagai negara seperti Amerika Serikat, Kanada, Thailand hingga Malaysia. Para penikmat terutama pendengar musik, ingin lebih terhubung dengan lagu-lagu berbahasa Korea yang dinyanyikan idolanya.
Industri yang Terus Berlari
BTS adalah perpaduan antara bakat, kerja keras, dan ekosistem industri yang mendukung. Peran negara dan ikatan antara idola dan penggemar sangat berperan penting.
BTS tumbuh dalam industri yang menuntut kreativitas, inovasi, penuh tekanan dan persaingan. Ada ribuan jam latihan yang keras untuk koreografi yang rumit serta penampilan yang spektakuler di panggung.
Seperti idola K-Pop lainnya, secara persona BTS dipersepsikan sebagai sosok yang hampir tanpa cela. Di beberapa agensi, terdapat aturan agar idola K-Pop sebisa mungkin untuk tidak menampilkan sisi romantis kehidupan pribadi mereka, karena sebagian besar penggemar menganggap idola sebagai “milik” mereka.
Baca juga:
Industri secara umum menuntut sesuatu yang baru. Pertanyaan yang akan selalu muncul di dalamnya adalah “apa lagi yang bisa dikembangkan? Apalagi yang bisa disajikan dan dijual?”
Industri akan mencari aspek yang dapat dikapitalisasi. Begitu pun dalam K-Pop, BTS tidak hanya hadir dalam lagu dan konser. Kita juga dapat melihat kekocakan dan kedekatan anggota BTS dalam ratusan episode reality show berjudul Run BTS, BTS Bon Voyage dan BTS In The Soop.
Di Weverse, platform digital yang dibangun oleh HYBE, penggemar dapat berinteraksi dengan para idola. Penggemar bisa menyaksikan aktivitas para anggota BTS sehar-hari seperti makan, ngobrol, hingga menjelang tidur. Beberapa diantaranya bisa disaksikan secara live. Dalam flatform digital tersebut penggemar juga dapat menjadi pemegang keanggotaan premium dan mendapat fasilitas yang tidak tersedia untuk penggemar biasa. Cukup dengan membayar lebih, sama halnya ketika membeli berbagai merchandise di flatform yang sama.
Menariknya, selama anggota BTS harus mengikuti wamil, penggemar tidak betul-betul “kehilangan” idola mereka. Agensi sudah menabung konten berupa foto dan video yang ditayangkan secara berkala. Pada akhir 2023, saat anggota BTS masih menjalani wamil, HYBE merilis film dokumenter yang berjudul BTS Monuments: Beyond the Star. Film ini menggambarkan perjalanan sepuluh tahun BTS.
Sebelum wamil, anggota BTS juga merilis lagu solonya masing-masing. Salah satu anggotanya, Suga menggelar konser di berbagai negara termasuk di Indonesia. Dua anggota BTS lainnya, bahkan menduduki posisi satu Billboard Hot 100. Lewat lagu Seven dan Like Crazy, Jungkook dan Jimin menjadi dua penyanyi Korea Selatan yang pernah menduduki posisi tersebut.
Anggota yang lebih awal selesai wamil, Jin dan J-Hope segera menggelar tur solo mereka ke Eropa, Amerika dan Asia. Sementara itu anggota BTS lainnya, V (Taehyung) merilis single terbarunya Winter Ahead dan RM (Kim-Namjoon) hadir dalam event APEC-CEO Summit 2025 di Gyongjeu, Korea Selatan sebagai pembicara utama. Mereka seolah terus berlari tanpa jeda untuk memutar roda industri budaya K-Pop yang semakin menyebar ke berbagai belahan dunia. (*)
Editor: Kukuh Basuki
