Kadang Main Musik Kadang Tidak

Bagaimana Jika MTV Hidup Lagi?

Djoko Santoso

2 min read

Kamis, 24 Juli 2025, Vindes menayangkan perdana program barunya VIX TAPE. Sebuah program ulasan musik yang memaksa kita untuk membuka ulang memori di dekade 90’an hingga 2000’an, di mana ketika itu musik menjadi sebuah konsumsi anak muda tidak sebagai materi musiknya an sich, tetapi musik sebagai sebuah jurnalisme dan gaya hidup, serta adu gengsi antar penggemar. MTV hadir sebagai program “terima rapor” bagi musisi, solois maupun band.

Pada tayangan perdananya, VIX TAPE membuka diskusinya dengan materi ulasan yang sangat apik: album musik yang memengaruhi hidup. Sebuah pembahasan yang sudah sangat jarang kita temukan. Misal pun ada, mungkin hanya sebatas tentang lagu yang memengaruhi hidup, bukan album. Hal ini menjadi “spesial” karena musisi sangat jarang merilis album. Alhasil, tentu album yang mereka diskusikan adalah album-album lama.

Tepat sekali keputusan Vindes memilih soleh solihun sebagai talent. Ditambah lagi hadirnya sosok baru yang mungkin baru tahu, Haris Frangky. Soleh Solihun yang mantan jurnalis musik itu selalu punya cara untuk mengulas musik. Ia mampu mengaitkan musik dan lirik dengan tren musik dan kondisi sosial saat itu. Haris hadir dengan sentuhan baru dan tentu dengan ulasan album terkini.

VIX TAPE

Salah satu segmen dari VIX TAPE adalah pilihan album lokal. Yang tidak terduga, album RAIHLAH KEMENANGAN dari GIGI menjadi menjadi album lokal pilihan Soleh Solihun. Sungguh pilihan yang tak ada makhluk di bumi ini bisa menebaknya. Haris datang dengan ulasan album dari THE JEBLOGS. Sebuah band dari tanah Klaten yang berisikan anggota Karang Taruna. “Ternyata masih ada ya Karangn Taruna,” demikian respons singkat si Mulut Racun itu.

Kembali ke ide program ulasan musik gaya lama (baca: progran di televisi maupun terbitan majalah), pencinta musik di Indonesia mengalami kekosongan informasi musik pasca tutupnya program MTV pada awal 2012 dan mulai bergugurannya majalah musik. Tentu kita ingat beberapa di antaranya: Aktuil, Mumu, dan Hai. Mereka menjadi bacaan wajib jika ingin menjadi anak tongkrongan yang mengikuti zaman.

Dekade 90an hingga 2000an, ketika media lama menjadi satu-satunya rujukan informasi, tentu menjadi konsumennya adalah kewajiban. Mantengin tangga lagu di MTV dan baca majalah musik menjadi keharusan jika ingin selalu update. Harus rela menggocek saku untuk mendapatkan majalah cetak. Bahkan harus disiasati dengan patungan jika lagi bokek. Persis seperti yang terjadi dengan para penggemar bola untuk mendapatkan tabloid Soccer.

Pasca beralihnya tren informasi dan tutupnya media lama, anak muda penggemar musik seperti kehilangan tontonan informatif tentang musik ini. Para musisi terus berkarya tetapi para penggemar tidak mendapatkan ulasan. Penikmat musik tidak lagi mendapatkan jawaban dari pertanyaan “mengapa musik sekarang seperti ini, mengapa lirik ditulis seperti itu, dan masih banyak tanda tanya lain”. Penikmat musik hanya bisa menyimpulkan sendiri tentang musik dan realitas sosial.

Sebagai contoh, Vincent dan Soleh Solihun sepakat bahwa album terbaik Slank adalah Kampungan. Melalui album itu, diksi “kampungan” tidak lagi menjadi diksi yang negatif. Slank mampu mengangkat derajat “kampungan” menjadi lebih terhormat. Pun juga mereka menambahkan informasi bahwa ketika itu membeli rilisan fisik album Kampungan akan mendapatkan bonus “kertas sablon setrika” (atau entah apa nama barang itu yang benar). Pun ketika Soleh Solihun memilih album RAIHLAH KEMENANGAN sebagai album lokal pilihannya. Ia memuji sekaligus mencaci. Gara-gara GIGI ini, playlist lagu-lagu BIMBO sudah tak ada lagi di mall-mall, padahal menurut dia lagu-lagu BIMBO terlanjur melekat di bulan Ramadan.

Ketika sebuah program diluncurkan, tentu akan banyak aspek yang diperhitungkan. Ketika melihat tren pasar, program VIX TAPE mungkin akan sedikit penontonnya. Banyak hal mengapa kemungkinan hal itu terjadi: generasi penonton yang cenderung memilih konten-konten pendek dan lebih santai, materi ulasan yang kemungkinan adalah materi-materi lawas, dan masih banyak hal lainnya.

Program ini selayaknya menjadi program idealis para pemilik Vindes yang notabenenya adalah pemain musik. Program semacam ini bisa dipastikan akan sedikit penontonnya, kecuali mereka membuat gebrakan baru. Menghadirkan penyanyi-penyanyi muda sebagai bintang tamu misalnya.

Setelah tayang perdana, kemudian pertanyaan besar muncul, apakah VIX TAPE mampu menjadi pengganti program semacam MTV? Seberapa jauh ia bisa melangkah dengan format media baru dan penikmat baru? Seberapa idealis Vindes memperjuangkan ulasan musik di media mereka?

 

 

Editor: Prihandini N

Djoko Santoso
Djoko Santoso Kadang Main Musik Kadang Tidak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email