Poet, writing like fever dreams.

Api dan Bahasa dan Puisi Lainnya

Galih Santoso

1 min read

Api & Bahasa

dulu, api melahirkan bahasa
kita jadi lebih punya banyak
waktu untuk bercerita
menghayal yang tidak ada

sebelumnya gigi kita begitu kokoh
gusi & rahang mesti kuat
mengunyah berjam-jam
hingga kita akan kelelahan
meringkuk & mendengkur
di pojok-pojok gua

sekarang, kita berpegang
pada cerita yang ribuan tahun
telah dikarang
seaneh & sesulit apapun kakunya
kita tetap memeluknya sambil
berharap putih sorga
bergidik-gidik hukuman
kolam penuh air api

(2025)

Spiritualitas Demam Berdarah

terpujilah rumah sakit, infus, pesawat
sederhana; roda yang dipasang di kaki
ranjang yang bisa didorong, butir-
butir obat dari pabrik farmasi

saban hari

orang-orang dengan wajah beragam
mengunjungiku, berair muka baik
& tak jarang sudah kelelahan oleh
kesialan hidupnya masing-masing,
mereka mengucapkan; Tuhan yang baik
akan segera memberiku kesembuhan

apakah itu Tuhan yang sama?
yang lebih suka membelah laut
& membelah bulan
ketimbang menyelamatkan
pemuda berjaket hijau
yang sedang mencari rejeki
dilindas rantis polisi

penjengukku berekspresi tulus
tak elok kujawab ketus
hari menjadi minggu, kebosanan
membuatku merasa sia-sia

apakah Tuhan itu lebih memilih mengelus
kepalaku yang terbaring lemas?
ketimbang menolong anak-anak papa
di bilangan Gaza yang direkam dunia
hanya sebagai statistik data

atau kekuatannya hanya terbatas pada
relasi-relasi mikro? tak berdaya
di hadapan perkara
perdamaian dunia

ibuku mengucap syukur, tentunya kepada Tuhan
trombositku akhirnya mulai naik
setelah hari-hari titik merah menjamur
subur di seantero lenganku

aku mengira semua ini karena kerja keras suster
yang mengukur darahku, mengganti infusku, siang
berganti malam, dokter yang mencurahkan
segala ilmu & pengalamannya,
juga atas sikap baik
& kooperatif yang kujaga

semua itu direnggut oleh Tuhan
semuanya harus berterimakasih
kepada Tuhan

(2025)

Entropi

di jaman yang maju maju maju
kita mundur ke 27 Juni,
berdoa harus izin dulu
Cidahu, salib dicabik, kaca dikepruk
berkeping-keping pecah
lalu maju semu ke 27 Juli
sekolah Minggu di Padang
kursi-kursi plastik dibanting patah
anak-anak & perempuan
menangis ketakutan

Tuhan tidak menolongmu
dari amuk kebencian
Tuhan juga tidak menolong mereka
dari kebencian mereka sendiri
yang mengamuk-ngamuk

terus Tuhan ngapain anjir?

apa dunia ini disetting otopilot?
tapi settingannya kok begini
dibutuhkan banyak revisi
& pemrograman ulang

seperti entropi
yang tak bisa dibantah-bantah
perlu banyak energi
buat mempertahankan
kestabilan sesuatu

seperti pertemanan
& cinta, habis energi berapa
kamu merawatnya?

(2025)

Gak Jelas

aku terlalu petakilan untuk
kamu perah-perah air matanya
Grand Heaven Surabaya
tol asin magrib magrib
jendela oranye sesenggukan
pipi yang agak berminyak

tengah malam
sancaka utara
earphone lagu dj
menyumpal kelenjar
air mata

cinta meranggas jadi angka nol
& tuhan ada 1

& jumlah tuhan ada 1
yang sebenarnya aku tak
pernah bertanya ada berapa

tuhan & cinta
cinta & tuhan

01010101010101

kode yang akan digantikan
sesuatu quantum
bertaruh
semoga kita
mujur

tetap bisa mengarang cinta
& mengarang
siapa penciptanya

(2025)

*****

Editor: Moch Aldy MA

Galih Santoso
Galih Santoso Poet, writing like fever dreams.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email