berangan, beringin, berasa, bersua🧭 Instagram: @_zhfrkhaerin

Antara Inspirasi dan Plagiasi: Catatan Kuliah di Era Template

Zhafira Khaerinnisa

3 min read

Dari banyaknya cerita rekan seperkuliahan tentang tugas laporan yang menumpuk, saya sepakat dengan mereka dalam satu hal: bahwa menulis laporan seharusnya menjadi seni memaknai apa yang diamati di lapangan. Sebuah ruang untuk berpikir, mempertanyakan, lalu menyusun kembali pengalaman ke dalam suatu bahasa.

Namun di ruang-ruang pedagogik hari ini, menulis tampaknya lebih dihargai sebagai citra produktivitas daripada proses dialog itu sendiri. Tugas perlahan tergeser fungsinya sebagai media berpikir, kemudian berubah menjadi sekadar kotak yang harus dicentang sebelum pukul 23.59. Bahkan pada waktu tertentu, Google Drive pun tak lagi terasa seperti ruang berbagi pengetahuan, melainkan etalase kecil tempat template akademik dikomersilkan secara diam-diam.

Baca juga:

Hal semacam ini sering dianggap lumrah. Selama substansi tulisan ā€˜terlihat’ berbeda, kemiripan struktur, ritme penulisan, hingga pola observasi yang nyaris identik masih dimaklumi sebagai bentuk ā€œinspirasiā€. Padahal orang sering mengutip laporan, berbagi format, bahkan menjadikan tulisan orang lain sebagai acuan utama untuk menghasilkan tulisan mereka sendiri. Namun justru karena kewajaran itulah, satu persoalan pedagogis sering luput diperhatikan: tugas dikumpulkan begitu rapi secara teknis, tetapi isinya hampir tidak benar-benar dikunyah.

Matinya Kepengarangan

Di sinilah gagasan Roland Barthes menarik untuk dibaca ulang, melalui esainya The Death of the Author, Barthes pernah menggugat gagasan bahwa makna sepenuhnya dimiliki oleh penulis. Dalam perkembangan budaya modern, teks dianggap terus bergerak dan melampaui pengarangnya sendiri. Namun dalam kemajuan hari ini, ā€œkematian pengarangā€ tampaknya mengalami bentuk yang lebih ekstrem. Tulisan akademik perlahan kehilangan jejak personal yang membuatnya lahir dari seseorang. Yang tersisa hanyalah bentuk-bentuk yang terus direproduksi melalui format, pola, bahkan cara berpikir yang sama. Akibatnya, banyak tulisan akademik terdengar rapi, tetapi terasa jauh dari pengalaman berpikir yang benar-benar utuh.

Template pada awalnya memang tidak sepenuhnya buruk. Ia membantu kita memahami struktur dasar penulisan dan memberi pijakan awal dalam menyusun argumen. Namun persoalan muncul ketika template tidak lagi digunakan sebagai sarana belajar, melainkan sebagai bentuk final yang tinggal diisi ulang. Dari sini orang tidak lagi berusaha memahami bagaimana sebuah analisis dibangun, tetapi hanya meniru bagaimana analisis itu tampak di permukaan.

Ironisnya, kebiasaan salin-tempel ini semakin canggih di tengah digitalisasi akademik yang semakin berorientasi pada hasil. Orang dituntut produktif, cepat, dan efisien. Tugas datang bertubi-tubi dengan tenggat yang sempit. Dalam situasi seperti itu, berpikir mendalam menjadi sebuah bentuk kemewahan. Yang penting tugas selesai, terlihat akademik, dan memenuhi standar formal. Tidak heran jika template kemudian menjadi jalan paling aman. Tidak semua orang berangkat dari keinginan untuk benar-benar memahami. Maka hasilnya pun sama, hubungan dengan ilmu pengetahuan tetap dangkal.

Ketika Tidak Bertemplate

Ada persoalan lain yang sering luput diperhatikan: orang sebenarnya tidak malas berpikir, tetapi hanya terlalu takut terlihat salah atau tidak cukup tahu. Melakukan observasi yang jujur berarti membuka kemungkinan bahwa data di lapangan tidak serapi teori di buku. Argumen bisa terasa mentah, analisis bisa timpang, bahkan kesimpulan bisa berubah di tengah proses. Namun budaya akademik hari ini lebih sering menghargai tampilan hasil akhir dibanding keberanian menjalani proses refleksi itu sendiri. Semua orang ingin terlihat punya hasil yang final dan valid. Mengakui bahwa kita butuh waktu, atau perlu bertanya pada orang lain yang lebih dulu memahami justru dianggap memalukan.

Di titik inilah template menjadi semacam tempat berlindung. Ia menawarkan rasa aman dari kemungkinan terlihat lambat atau berbeda. Selama bentuknya menyerupai tulisan akademik pada umumnya, selama diksi-diksinya terdengar ilmiah, orang merasa cukup percaya diri untuk mengumpulkannya. Padahal yang direplikasi sering kali bukan hanya format penulisan, melainkan juga cara melihat realitas.

Jean Baudrillard pernah menyebut kondisi semacam ini sebagai simulakra: ketika representasi terus direproduksi hingga kehilangan hubungan dengan realitas aslinya. Dalam banyak tugas perkuliahan, tulisan akhirnya bukan lagi hasil dari pengalaman observasi yang utuh, melainkan salinan yang terus diwariskan dari salinan sebelumnya. Analisis direproduksi berkali-kali sampai yang tersisa hanyalah bentuk akademik yang tampak sah, meski pengalaman berpikir di baliknya semakin kosong.

Diferensiasi yang Kehilangan Makna

Kehadiran kecerdasan buatan mempercepat gejala ini dengan cara yang nyaris tak terasa. AI sering kali dirayakan sebagai alat bantu untuk efisiensi, namun dalam praktiknya, ia menjadi mesin pemoles reproduksi yang memangkas habis jarak antara ide dan tulisan. Di satu sisi, teknologi ini membuka banyak kemungkinan baru dalam belajar. AI menawarkan “evaluasi tanpa penghakiman” yang membuat pembelajar merasa aman bertanya kepada algoritma daripada kepada ahli. Namun di sisi lain, ia menciptakan ilusi bahwa memahami dapat digantikan oleh menghasilkan.

Baca juga:

Di tengah fenomena ini, narasi “Pembelajaran Diferensiasi” yang digaungkan kurikulum nasional menjadi paradoksal dengan realitas. Jika diferensiasi lahir dari kesadaran bahwa setiap individu memiliki cara belajar, ritme memahami, dan kecenderungan berpikir yang beragam, bagaimana itu bisa terjadi di realita yang merayakan penyeragaman bentuk melalui template? Diferensiasi akhirnya hanya menjadi dekorasi administratif, sementara praktik di lapangan tetaplah sebuah produksi massal pemikiran serupa karena dianggap paling aman secara akademik.

Plagiarisme, dalam konteks ini, bukan lagi sekadar pelanggaran teknis atas hak cipta orang lain. Melainkan gejala dari budaya berpikir yang kehilangan akar. Ia menunjukkan bahwa kita alih-alih peduli pada “bagaimana cara memahami” kita lebih peduli pada “bagaimana cara terlihat sudah paham”. Ketakutan itu perlahan mengikis keberanian untuk duduk sejenak bersama ketidakpahaman.

Barangkali persoalannya memang bukan lagi folder-folder di Google Drive yang jejak waktunya direkayasa, melainkan semakin sedikitnya ruang bagi proses berpikir yang sungguh-sungguh personal. Kita menjadi terbiasa meminjam bentuk matang tanpa benar-benar memahami pergulatan intelektual yang melahirkannya. Dan mungkin di situlah kegelisahan terbesar itu berada: ketika dunia akademik perlahan tidak lagi kehilangan tulisan, melainkan kehilangan keberpikiran itu sendiri.

Halaman kosong itu tidak butuh pengisi yang instan, ia butuh seseorang yang berani tetap tinggal di sana, bergulat dengan ketidakpahamannya, sampai perlahan menemukan suaranya sendiri. Di sana, di antara retakan-retakan kecil integritas kita, barangkali pendidikan baru benar-benar dimulai. (*)

 

Editor: Kukuh Basuki

Zhafira Khaerinnisa
Zhafira Khaerinnisa berangan, beringin, berasa, bersua🧭 Instagram: @_zhfrkhaerin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email